Senior Level Training (SLT)
SLT : “Leveraging Governance and Cross Institutional Coordination for Agrifood Systems Transformation in Indonesia”
Jakarta, JatimUPdate.id – Direktur Jenderal Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PPDT), Samsul Widodo, resmi membuka pelatihan sistem pangan hasil kerja sama antara Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) dengan Food and Agriculture Organization (FAO) PBB.
Pelatihan selama 2,5 hari ini diikuti oleh para pejabat Eselon I, Eselon II, dan staf senior di lingkungan Kemendes PDT, serta dihadiri perwakilan Kementerian Pertanian dan Bappenas.
Dipandu langsung oleh pakar senior FAO dari Roma dan tim perwakilan Indonesia, kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas pengambil kebijakan dalam memahami paradigma baru serta memperkuat tata kelola koordinasi lintas sektor demi mendukung transformasi sistem pangan nasional yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
Pelatihan ini sangat mendesak mengingat Indonesia dihadapkan pada ancaman triple planetary crisis—seperti polusi, degradasi lingkungan, dan perubahan iklim—yang memicu bencana hidrometeorologi di sekitar 32.900 desa, sehingga mengganggu produktivitas lahan pertanian dan nelayan.
Selain itu, terdapat kesenjangan pangan yang mengkhawatirkan antara fenomena food waste di Jawa dengan kondisi di Indonesia Timur, di mana prevalensi tidak cukupan konsumsi pangan 2025 masih mencapai 26 hingga 30 persen, puluhan kabupaten sangat rentan pangan, dan angka stunting di wilayah seperti Dogiyai masih menyentuh 55 persen.
Situasi ini menuntut kesiapan produksi nasional guna menghadapi proyeksi lonjakan penduduk Indonesia yang diperkirakan mencapai 324 juta jiwa pada tahun 2045.
Melalui pendekatan systems thinking yang mencakup seluruh rantai penyediaan pangan dari produksi hingga konsumsi, pelatihan ini dirancang sebagai katalisator untuk melahirkan langkah konkret dan rencana aksi yang implementatif di setiap unit kerja.
Sinergi antara Kemendes PDT dan FAO ini berfokus pada pilar 4 Better (Better Production, Better Nutrition, Better Environment, dan Better Life) dengan mengoptimalkan potensi pangan lokal serta menyejahterakan petani.
Langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan di tingkat desa dan daerah tertinggal, sekaligus mendukung pemerataan pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045 dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). (sof/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat