Cerita Pendek
Mahkota Para Bayangan (Bagian VIII)
JatimUPdate.id - Elena tidak langsung meninggalkan stasiun setelah menerima foto itu. Ia berdiri cukup lama di antara orang-orang yang berlalu-lalang, seolah sedang menunggu seseorang.
Padahal pikirannya sedang bekerja keras menyusun kembali semua kejadian yang selama ini dianggapnya terpisah, Damar, Adrian, Arman, Penanda, foto lama.
Dan sekarang pesan yang memintanya berhenti mencari orang yang memberi perintah dan mulai mencari orang yang menikmati hasilnya.
Elena menganggap kalimat itu biasa saja, tetapi mengubah cara Elena melihat seluruh operasi. Ia sedang mencari siapa yang memberikan perintah kepada Damar.
Elena mengira di balik semua itu pasti ada seorang politikus yang lebih kuat, pengusaha, atau kelompok tertentu yang ingin Adrian tersingkir.
Namun mungkin ia keliru, bisa jadi orang yang paling penting bukanlah pemberi perintah, melainkan orang yang mendapatkan keuntungan setelah semua orang selesai saling menghancurkan.
Lantas Elena memasukkan foto ke dalam tas, ia tidak pulang ke apartemen, ia curiga tempat tinggalnya sudah diawasi. Ia memilih sebuah penginapan kecil di kawasan yang tidak pernah ia gunakan sebelumnya.
Tidak ada nama Elena dalam daftar tamu, ia menggunakan identitas yang digunakan pun berbeda. Malam itu ia duduk sendirian di kamar sempit sambil membuka kembali seluruh arsip yang tersimpan dalam perangkatnya.
Satu per satu nama mulai ditulis, Damar, Adrian, Arman, beberapa konsultan politik, sejumlah pengusaha yang pernah bertemu Damar, dan beberapa orang yang selama ini hanya dianggap sebagai penghubung.
Elena kemudian membuat garis di antara nama-nama tersebut, pada awalnya tidak terlihat pola, namun setelah beberapa jam, ia menemukan sesuatu. Ada tiga pertemuan yang selama ini luput dari perhatiannya.
Ketiga pertemuan itu terjadi jauh sebelum Adrian menjadi target, Damar hadir dalam semuanya, tetapi bukan sebagai tokoh utama, ia cuma salah satu dari beberapa orang yang duduk dalam ruangan.
Nama seseorang yang selalu hadir dalam ketiga pertemuan itu membuat Elena terdiam. Nama tersebut tidak pernah muncul dalam laporan operasi, tidak pernah disebut Damar, Arman. Tetapi orang itu selalu berada di sekitar setiap perubahan besar yang kemudian terjadi.
Elena memperhatikan lebih seksama foto lama yang diberikan kepadanya, kendati wajah pria yang disobek dalam foto itu tidak terlihat jelas.
Namun bentuk tubuhnya, posisi tangannya, dan cincin yang dikenakan membuat Elena semakin yakin. Ia pernah melihat orang tersebut, bukan cuma sekali, berkali-kali.
Dan selama ini ia mengira orang itu hanya bagian dari lingkaran politik biasa.
***
Pagi berikutnya Elena menemui Adrian, kehadirannya bukan sebagai perempuan yang selama ini ditugaskan mendekatinya, ia datang dengan identitas sebenarnya.
Adrian terlihat terkejut ketika Elena memasuki ruang kerjanya tanpa membuat janji.
"Saya datang bukan untuk meminta Anda percaya kepada saya," kata Elena setelah pintu ditutup.
"Saya juga tidak berharap Anda langsung memaafkan apa yang sudah saya lakukan. Saya hanya ingin memberi tahu apa yang selama ini Anda hadapi jauh lebih besar daripada upaya seorang pesaing politik untuk menjatuhkan Anda," papar Elena
Adrian tidak langsung menjawab, ia memandang Elena cukup lama.
"Saya sudah mengetahui kedekatan kita bukan kebetulan. Yang belum saya ketahui alasan Anda tiba-tiba datang ke sini dan mengaku semuanya," sergah Adrian.
Tanpa basa-basi Elena meletakkan sebuah foto di atas meja.
"Karena saya mulai menyadari saya juga sedang digunakan," tukas Elena
Adrian mengambil foto itu, matanya tertuju pada sosok-sosok yang berada di dalamnya.
"Siapa orang ini?" tanya dia
"Justru itu yang sedang saya cari," jawab Elena.
"Anda meminta saya mempercayai seseorang yang selama ini membohongi saya?" Adrian menatapnya, Elena tidak menghindari tatapannya.
"Tidak. Saya justru meminta Anda untuk tidak mempercayai saya, periksa semua yang saya katakan, cari kesalahannya. Kalau Anda menemukan saya berbohong, serahkan saya kepada siapa pun yang Anda anggap berwenang. Tetapi kalau semua yang saya katakan benar, Anda harus berhenti menganggap masalah ini hanya sebagai perang politik antara Anda dan Damar," urai Elena.
Adrian berdiri, ia mencoba mencoba menerka permainan ini.
"Kenapa saya harus bekerja sama dengan Anda?" tanya Adrian, Elena menarik napas.
"Karena saya tahu bagaimana mereka bekerja, Anda tahu bagaimana politik bekerja, kita memiliki dua informasi yang berbeda. Kalau digabungkan, mungkin kita bisa mengetahui siapa yang sebenarnya mengatur semuanya," ruangan kembali hening, Adrian berjalan menuju jendela.
Beberapa menit kemudian ia kembali menghadap Elena.
"Saya tidak tahu apakah Anda datang untuk menyelamatkan saya atau menyelamatkan diri sendiri," Elena mengangguk.
"Mungkin keduanya," Jawaban itu membuat Adrian terdiam.
Elena tidak berusaha memberikan jawaban yang menyenangkan, ia memilih kejujuran, dan justru itulah yang membuat Adrian mulai mempertimbangkan tawarannya.
***
Sementara itu, Damar menerima kabar Elena telah menemui Adrian, wajahnya berubah, ia membanting telepon ke atas meja.
"Dia membelot," ketus Damar.
Orang yang berdiri di hadapannya tidak langsung menjawab, Damar kemudian berjalan menuju jendela. Selama ini ia menganggap Elena sebagai operator yang profesional, dingin, dan mudah dikendalikan.
Kendati begitu ia lupa satu hal, orang yang terlalu lama bekerja dalam dunia rahasia akhirnya akan belajar satu kemampuan yang paling berbahaya. Mereka belajar curiga kepada semua orang.
"Jangan sentuh Elena dulu," kata Damar.
"Kenapa?" dia menyela perkataan Damar.
"Karena kalau dia sudah bicara kepada Adrian, berarti ada sesuatu yang belum kita ketahui," ia berhenti sejenak.
"Temukan apa yang dia tahu, jangan membuatnya takut, orang yang ketakutan akan lari. Saya ingin dia merasa masih memiliki jalan keluar," tuturnya.
Namun keputusan itu terlambat, seseorang yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan justru membuka suara.
"Kalau dia sudah menemukan penanda itu, dia tidak akan berhenti," Damar menoleh.
"Apa maksudmu?" pria tersebut tidak menjawab, ia hanya meletakkan sebuah benda di atas meja, sebuah penanda.
Damar menatapnya lama, lalu ekspresi percaya dirinya runtuh.
***
Di tempat lain, Adrian dan Elena mulai menyusun seluruh informasi yang mereka miliki, mereka tidak memiliki banyak waktu.
Sebab beberapa hari terakhir, tekanan terhadap Adrian semakin besar, undangan wawancara berdatangan, media meminta klarifikasi, lawan politik mulai menuntut pemeriksaan.
Sementara akun-akun anonim terus menyebarkan cerita baru. Namun saat ini Adrian tidak lagi menghadapi semuanya sendirian, Elena menunjukkan pola operasi yang selama ini digunakannya.
Ia menjelaskan serangan tidak akan berhenti pada satu isu, jika isu pertama gagal, akan muncul isu kedua.
Jika isu kedua terbantahkan, akan muncul tuduhan baru, tujuannya bukan membuktikan Adrian bersalah. Namun membuat masyarakat lelah mendengar pembelaannya.
"Kalau begitu kita harus memutus siklusnya," kata Adrian, Elena menggeleng.
"Kita tidak bisa melawan semua isu, kita cari sumbernya," Adrian menatapnya.
"Kalau sumbernya terlalu kuat?" tanya Adrian.
Elena tidak menjawab, ia mengambil cuma mengambil penanda dari sakunya yang ditemukan di rumah Arman, ia meletakkannya di atas meja.
"Kita cari tahu siapa yang meninggalkan ini," Adrian menatap kartu tersebut, tak ada yang istimewa dari benda itu.
Namun keduanya tahu, sejak penanda itu muncul, permainan mereka sudah berubah.
Di luar ruangan, seseorang sedang memperhatikan gedung tempat mereka berada, sebuah kamera telefoto diarahkan dari kejauhan. Lensa itu berhenti tepat pada jendela ruang kerja Adrian.
Orang di balik kamera kemudian mengirim satu pesan.
"Elena sudah bersama target," beberapa detik kemudian, balasan masuk.
"Biarkan, mereka akan membawa kita kepada orang yang selama ini kita cari."
Di dalam ruang kerja, Adrian dan Elena belum mengetahui sejak pertemuan mereka dimulai, mereka bukan lagi pihak yang mengejar.
Mereka telah menjadi bagian dari perang yang bahkan belum memahami siapa lawannya. Elena pun menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan.
Mungkin selama ini Adrian memang bukan target utama, ia hanya pintu menuju seseorang yang jauh lebih penting.
DISCLAIMER
Cerita ini untuk edukasi dan hiburan, serta mengajak pembaca melihat dinamika politik, permainan kepentingan, dan pentingnya berpikir kritis terhadap informasi yang berkembang di ruang publik.
Editor : Redaksi