Keracunan Porsi MBG di Tanggulangin, Sidoarjo, Dinkes Catat 748 Korban

BGN Suspend SPPG Kalitengah, PPPA Siapkan Pendampingan Trauma Healing

avatar Imam Hambali
  • URL berhasil dicopy
Bupati Sidoarjo Subandi mendampingi Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono bersama rombongan saat berkunjung ke Sidoarjo guna memantau penanganan keracunan Porsi MBG yang dialami 748 santri dan siswa.
Bupati Sidoarjo Subandi mendampingi Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono bersama rombongan saat berkunjung ke Sidoarjo guna memantau penanganan keracunan Porsi MBG yang dialami 748 santri dan siswa.

 

Sidoarjo, JatimUPdate.id - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan kondisi ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Putat, Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, yang menjadi korban dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai membaik.

Wakil Kepala BGN Mayjen TNI Trenggono menyebut terdapat 748 santri yang terdampak. Dari jumlah tersebut, sebagian besar telah kembali ke pondok pesantren setelah mendapatkan perawatan.

"Saya sampaikan bahwa dari laporan pengasuh pondok pesantren, yang terdampak adalah 740-an. Kemudian sampai dengan pagi ini sudah kembali semua, tinggal 22 di 9 rumah sakit atau tempat kesehatan. Dan semua sudah dalam kondisi pulih, sudah dalam kondisi baik," kata Trenggono, Jumat (4/9/2026).

Catatan Redaksi JatimUPdate.id dalam jumpa pers sebelumnya Dinas Kesahatan Sidoarjo masih mencatat korban sebanyak 730 orang dan kini telah bertambah menjadi 748 orang.

Lebih jauh Trenggono datang langsung ke Sidoarjo bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Choiri Fauzi serta lima anggota Tim Kantor Staf Presiden (KSP).

Mereka di antaranya Letjen TNI (Purn) Arif Rahman, Letjen TNI (Purn) Alfred Denny Tuejeh, Lindsey Arsari Puteri, Irhamna dan Irhash Ahmady.

Dalam kunjungan tersebut, Trenggono didampingi Bupati Sidoarjo H. Subandi meninjau kondisi korban yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

Rombongan kemudian mendatangi Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin. Selain memastikan kondisi para santri, Trenggono juga meminta penjelasan pengasuh pondok mengenai kronologi awal kejadian.

Trenggono juga menyempatkan diri meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Al-Amanah Junwangi yang berada di kompleks Pondok Pesantren Al-Amanah, Krian.

BGN Minta Maaf

Trenggono menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo yang dinilai bergerak cepat menangani ratusan korban.

Ia mengatakan respons cepat pemerintah daerah menjadi salah satu faktor penting sehingga para korban dapat segera memperoleh penanganan medis.

"Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Pak Bupati yang sudah bertindak cepat, sehingga semuanya tertangani dengan baik. Itu yang utama adalah harus tertangani dengan baik," ujarnya.

Namun, Trenggono juga menyampaikan permohonan maaf atas kejadian tersebut. BGN menduga terdapat kelalaian atau ketidakpatuhan petugas dalam mengoperasikan dapur SPPG Kalitengah, Tanggulangin.

BGN akan melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian, termasuk memastikan apakah terdapat unsur kesengajaan serta apakah seluruh prosedur operasional standar (SOP) telah dijalankan.

"Kami juga menyampaikan permohonan maaf kami atas mungkin kelalaian ataupun ketidakpatuhan petugas dapur dalam mengoperasionalkan dapur, sehingga adanya kejadian fatal ini," kata Trenggono.

SPPG Kalitengah Disuspend

Sebagai langkah awal, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah, Tanggulangin. Dapur tersebut tidak diperbolehkan kembali melayani program MBG sampai proses evaluasi dan investigasi selesai.

Selain menghentikan operasional, BGN juga mencopot kepala dapur SPPG Kalitengah.

"Sementara kita suspend, suspend berat, artinya kita evaluasi, kita adakan investigasi. Kemudian juga kepala dapur kita copot, kita berhentikan. Nanti kita cek apakah ada hal-hal unsur lain yang kira-kira membuat kejadian fatal ini," ujarnya.

Trenggono mengatakan pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG selama ini dilakukan secara ketat. BGN bahkan menggelar rapat melalui Zoom setiap pagi bersama penanggung jawab SPPG di berbagai provinsi untuk memantau perkembangan pelaksanaan program MBG.

Menurut dia, pengawasan mencakup seluruh tahapan, mulai dari penerimaan bahan mentah hingga proses memasak dan pendistribusian makanan.

"Kami mengecek secara langsung melalui Zoom mulai dari penerimaan barang mentah sampai dengan pengecekan, baik-buruknya bahan-bahan ini. Sampai dengan jam 2 malam, itu ada kegiatan mulai dari pembersihan bahan-bahan, masak, sampai dengan pendistribusian, termasuk porsian," jelasnya.

PPPA Siapkan Pendampingan Trauma Healing

Sementara itu, Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi memastikan pihaknya siap memberikan pendampingan apabila para korban mengalami trauma setelah kejadian keracunan makanan tersebut.

Pendampingan dapat dilakukan melalui pemulihan psikologis dan emosional, terutama bagi anak-anak yang masih mengalami dampak psikologis akibat kejadian tersebut.

"Kalau memang pihak pondok pesantren bisa melakukan pendekatan trauma healing untuk anak-anak, ya alhamdulillah. Tapi seandainya masih membutuhkan, kami siap untuk berkolaborasi agar anak-anak ini siap kembali ke sekolah," kata Arifah.

Ia menegaskan proses pemulihan tidak hanya menyangkut kondisi fisik korban, tetapi juga kesiapan psikologis anak-anak untuk kembali menjalani aktivitas belajar dan kehidupan normal.(ih/yh)