Tragedi Kanjuruhan, KAHMI : Kemalangan Kemanusiaan. HMI minta Kapolda di copot

oleh : -
Tragedi Kanjuruhan, KAHMI : Kemalangan Kemanusiaan. HMI minta Kapolda di copot
Suasana Stadion Kanjuruhan sabtu (1/10).

Malang (JatimUpdate.id ) –Tragedi Kanjuruhan memancing reaksi dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI). KAHMI Malang Raya menyatakan sikap tragedi yang terjadi di stadion Kanjuruhan Malang merupakan kemalangan kemanusiaan.

Pernyataan  tertulis itu ditandatangani tiga pengurus KAHMI Malang Raya, Luthfi J Kurniawan (Malang Kota), Moh. Fadely (Kabupaten Malang), dan D. Fachroni (Kota Batu) semua ini sebagai pernyataan resmi atas kerusuhan yang terjadi usai pertandingan lanjutan BRI Liga 1 2022/2023 Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10).

Sebuah malapetaka datang setelah diduga pihak keamanan salah procedural penanganan oleh pihak aparat keamanan yaitu polisi.
Menurut KAHMI Malang Raya, kepolisian yang mempunyai slogan presisi seolah tak berhenti mendapatkan beragam masalah di internalnya, setelah rentetan kasus Sambo sampai akhirnya sekarang tragedy Kanjuruhan.
“Kinipun, di Stadion Kanjuruhan kepolisian diduga telah terjadi kesalahan prosedur dalam menangani penonton yang masuk ke areal lapangan dan bahkan ditengarai tidak sesuai dengan peraturan yang ditetapkan oleh FIFA,” kata Luthfi J Kurniawan, Pengurus KAHMI Kota Malang, Senin (3/10/20220.

Ironisnya adalah dugaan meninggalnya korban tragedi Kanjuruhan secara massal diduga akibat penggunaan gas air mata, yang notabene di dalam peraturan FIFA tidak di perbolehkan mengendalikan massa di dalam stadion. Secara sadar dan sengaja pihak keamanan melanggar peraturan FIFA.

KAHMI Malang Raya mengatakan memang tidak mudah untuk mencari kebenaran serta fakta yang ada akan tetapi harus ada yang bertanggung jawab atas kejadian ini.

’Karena kita hidup dalam suatu pengaturan pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Oleh karena itu, KAHMI Malang Raya memberikan pendapat dan pandangan atas terjadinya kemalangan kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang,’’ kata Luthfi.

Ada enam pendapat dan pandangan KAHMI Malang Raya, yakni:
1. Dalam masalah ini, dalam situasi seperti apapun maka negara harus bertanggunggjawab secara sadar dan konsekwen atas peristiwa kematian massal seusai pertandingan sepak bola antara Arema FC dengan Persebaya.
2. Negara dalam hal ini adalah pemerintah mempunyai kewajiban (state Obligation) untuk melindungi dan memastikan keamanan bagi setiap rakyat Indonesia dimanapun berada dan dalam situasi apapun baik secara moral maupun secara hukum.
3. Organisasi PSSI dan panitia pelaksana wajib melakukan evaluasi dalam system penyelenggaraan pertandingan yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan hanya mempertimbangkan aspek bisnis seperti yang diduga waktu pertandingan telah diusulkan sore namun tetap dilaksanakan pada malam hari.
4. Organisasi PSSI dan Panitia pelaksana pertandingan wajib bertanggungjawab atas tragedi yang terjadi.
5. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Provinsi Jatim, pemerintah Kabupaten Malang, Pemerintah Kota Malang, Pemerintah Kota Batu) bertanggungjawab atas kemalangan atau tragedi yang telah terjadi, baik secara moral maupun secara hukum.
6. Dalam hal apapun Kepolisian Republik Indonesia mempunyai kewajiban yang melekat sebagai alat negara untuk bertanggungjawab secara penuh tanpa mengambil sikap untuk menyalahkan pihak-pihak yang lain. Dalam hal ini pihak kepolisian yang bertanggungjawab dalam kegiatan operasi keamanan maka tidak ada alasan lain bagi kepolisian untuk mengalihkan tanggungjawabnya kepada pihak-pihak lain. Karena mandatnya kepolisian adalah bertanggunjawab sepenuhnya dalam hal keamanan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam melakukan aktifitas apapun.

Minta Kapolda di copot 
Pada kesempatan yang lain Kabid Hukum dan HAM HMI Cabang Malang juga ikut berkomentar atas kejadi tragedi kematian massal di Kanjuruhan.

“Laga yang mempertemukan Arema vs Persebaya Surabaya seharusnya dijadikan sebagai media yang menyatukan antara Dua Klub besar ini. Kita menyayangkan ada insiden yang telah menewaskan banyak korban. Peristiwa Ini harus menjadi atensi besar oleh penyelenggara sepak Bola Nasional untuk mengatur da menertibkan kembali agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali dalam laga selanjutnya,” ucap Hermanto Kabid Hukum dan HAM HMI Cabang Malang.

Menurut Hermanto penggunaan gas air mata didalam stadion dianggap sangat melanggar peraturan FIFA karena hal tersebut daslam membahayakan nyawa supooeter yang berada di dalam stadion. Terbukti apa yang dilakukan oleh pihak keaman telah banyak menelan korban jiwa.

“Kita melihat tindakan Kepolisian dalam mengendalikan Massa dengan melepaskan tembakan gas air mata telah melanggar mekanisme yang telah diatur oleh FIFA . Regulasi FIFA melarang adanya penggunaan gas air mata dalam arena Stadion secara jelas tertulis dalam pasal 19 b tentang pengamanan dipinggir lapangan. “No firearms or crowd control gas’ shall be carried or used”,” imbuhnya.

HMI Cabang Malang juga mengecam keras perbuatan yang telah dilakukan oleh apparat kemanan yang di nilai teledor dan secara sengaja melakukan penembakan gas air mata di stadion Kanjuruhan. HMI Cabang Malang juga meminta bapak Kapolri Sigit Prabowo mencopot Kapolres Malang dan Kapolda Jatim karena di anggap bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Kita mengecam keras tindakan kepolisian yang telah melepaskan Tembakan gas air mata diarena Stadion yang tertutup hingga berujung pada banyaknya korban yang tewas akibat berdesakkan dan kekurangan oksigen. Kapolda jatim dan Kapolres Malang harus bertanggungjawab atas tindakan anggotannya dalam insiden tersebut,” Ujar Hermanto

“Kita minta Kapolri turun tangan untuk Copot Kapolda Jatim dan Kapolres Malang,” pungkasnya.(rud)