HMI 79 Tahun: Masihkah Iman, Ilmu, dan Amal Menjadi Arah?
Oleh : Asep Supri
Eksponen PB HMI 97- 99, Aktivis 98 Bandung salah satu Pendiri HMR (Himpunan Mahasiswa Revolusioner)
Baca Juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik
Jakarta, JatimUPdate.id - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memasuki usia ke-79 bukan sekadar dengan catatan sejarah yang panjang, tetapi juga dengan kegelisahan yang patut direnungkan bersama.
Usia ini seharusnya tidak hanya dirayakan dengan seremoni dan nostalgia, melainkan dijadikan momentum untuk bercermin: sejauh mana HMI masih setia pada alasan-alasan moral dan historis mengapa ia dilahirkan.
HMI lahir pada masa ketika Republik Indonesia masih berada dalam pusaran revolusi mempertahankan kemerdekaan.
Sejak awal, organisasi ini memikul dua misi besar sekaligus: melanjutkan perjuangan kebangsaan dan menghimpun umat Islam yang tercerai-berai dalam satu gerakan yang inklusif, modern, dan berpijak pada rasionalitas serta ilmu pengetahuan.
Islam yang diperjuangkan HMI bukan Islam yang menutup diri, tetapi Islam yang berdialog dengan zaman, berpihak pada kemajuan, dan berakar kuat pada realitas keindonesiaan.
Hal itu ditegaskan secara jelas dalam Nilai Dasar Perjuangan (NDP):“Tujuan Himpunan Mahasiswa Islam adalah terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT.”
Sejak awal, HMI menempatkan keilmuan, keislaman, dan tanggung jawab sosial sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Karena itu pula, HMI dikenal sebagai organisasi mahasiswa yang kritis dan kental dengan tradisi intelektual. Diskusi bukan sekadar rutinitas, tetapi cara hidup. Kritik bukan bentuk pembangkangan, melainkan wujud tanggung jawab moral. Kader HMI dididik untuk berpikir merdeka, berani berbeda, dan tidak tunduk pada kebenaran yang dipaksakan oleh kekuasaan.
Dalam NDP ditegaskan:
“Ilmu pengetahuan adalah sarana bagi manusia untuk memahami kebenaran dan melaksanakan tugas kekhalifahannya.”
Dengan kata lain, anti-intelektualisme dan kemalasan berpikir adalah bentuk pengingkaran terhadap ruh perjuangan HMI itu sendiri.
Selain kritis dan intelektual, HMI juga tumbuh sebagai organisasi yang sangat idealis. Idealisme inilah yang membuat HMI kerap berada di posisi berseberangan dengan kekuasaan.
Namun justru dari idealisme itu HMI memiliki daya tahan moral—tidak mudah larut dalam arus, tidak cepat tergoda oleh keuntungan sesaat.
HMI juga dibangun di atas perkawanan organik: persahabatan yang ditempa oleh kaderisasi, pengorbanan, diskusi panjang, dan perjuangan bersama.
Perkawanan yang tidak transaksional, tidak berhenti ketika kepentingan selesai, dan tidak runtuh hanya karena perbedaan pilihan.
Baca Juga: Dies Natalis ke-79, HMI Bondowoso Tegaskan Komitmen Perkuat Nilai Perjuangan dan Perkaderan
Namun refleksi jujur harus diakui: sebagian nilai fundamental itu kini mulai mengalami erosi.
Idealisme perlahan tergeser oleh pragmatisme yang banal. Organisasi mulai dipersepsikan bukan lagi sebagai ruang pengabdian nilai, melainkan sebagai alat mobilitas sosial dan politik. Tradisi intelektual melemah; diskusi kehilangan kedalaman, kajian miskin rujukan, dan gagasan besar dikalahkan oleh manuver-manuever kecil yang bersifat jangka pendek.
NDP telah mengingatkan dengan tegas:
“Kehidupan manusia akan kehilangan makna apabila terlepas dari nilai-nilai kebenaran dan keadilan.”
Pertanyaannya, di tengah perubahan zaman ini, apakah HMI masih menjadikan kebenaran dan keadilan sebagai orientasi utama—atau sekadar jargon yang diucapkan saat pelantikan?
Yang lebih mengkhawatirkan, pragmatisme sering dibungkus dengan dalih “realistis”. Padahal realistis tanpa idealisme hanyalah bentuk lain dari menyerah. Ketika kader lebih sibuk mengamankan posisi daripada memperjuangkan gagasan, ketika forum lebih ramai membicarakan strategi kekuasaan daripada substansi perubahan, di situlah HMI mulai kehilangan rumah intelektualnya.
Perkawanan pun perlahan bergeser: dari organik menjadi transaksional, dari solidaritas nilai menjadi jaringan kepentingan. Padahal HMI sejak awal dibangun di atas ukhuwah perjuangan, bukan relasi untung-rugi.
Di usia ke-79 ini, HMI sejatinya tidak kekurangan apa pun secara struktural. Cabang bertambah, alumni tersebar di berbagai lini strategis, dan nama besar terus disebut. Namun sejarah mengajarkan satu pelajaran penting: organisasi besar tidak runtuh karena miskin sumber daya, melainkan karena kehilangan arah nilai.
Di sinilah Dies Natalis harus dimaknai sebagai muhasabah kolektif. Senior-senior HMI selalu berpesan: HMI tidak diwariskan untuk dinikmati, tetapi untuk diperjuangkan. Ia bukan ruang nyaman, melainkan ruang tempaan.
HMI hanya akan tetap hidup sebagai gerakan jika setia pada trilogi perjuangannya: Iman, Ilmu, dan Amal.
Baca Juga: Setelah Ber-HMI, Lalu Apa?
Iman, agar kekuasaan tidak menjadi tujuan dan kepentingan tidak menjadi kiblat.
Ilmu, agar kritik tetap bernas, tajam, dan berakar pada pengetahuan.
Amal, agar iman dan ilmu menjelma keberpihakan nyata pada umat, bangsa, dan keadilan.
Senior-senior HMI sering mengingatkan, lebih baik HMI kehilangan orang pintar daripada kehilangan orang berintegritas.
Sebab kepintaran tanpa nilai hanya akan mempercepat kerusakan, sementara integritas adalah fondasi peradaban.
Maka, di Dies Natalis ke-79 ini, ajakan moralnya sederhana namun berat:
kembalilah HMI menjadi rumah idealisme, bukan tempat parkir pragmatisme; menjadi ruang intelektual, bukan sekadar jaringan; menjadi gerakan nilai, bukan manuver posisi.
HMI tidak akan mati karena kritik.
Ia hanya akan kehilangan makna jika berhenti setia pada nilai-nilainya sendiri.
Dirgahayu HMI ke-79.
Yakin Usaha Sampai—selama iman tidak ditawar, ilmu tidak ditinggal, dan amal tidak diperjualbelikan. (red)
Editor : Redaksi