Penulis : Khudori
Krisis Beras Premium di Ritel Modern: Saat Janji Bulog Beradu dengan Realita Harga Gabah
Pondokgede, JatimUpdate.id — Rak-rak beras di jaringan ritel modern kembali kosong. Pilihan beras premium kian menipis, dan konsumen di kota-kota besar dipaksa beralih ke beras fortifikasi atau beras medium SPHP.
Situasi ini bukan kali pertama terjadi. Sejarah krisis beras premium di ritel modern kembali terulang, dan kali ini tekanannya lebih besar.
Kelangkaan Beras Premium dan Pukulan Beras Fortifikasi
Kelangkaan beras premium sudah berlangsung selama 4-5 bulan terakhir. Situasi ini mengulang kejadian tahun lalu ketika isu "beras oplosan" memicu raibnya beras premium dari ritel modern. Kini, kelangkaan beras premium diikuti oleh terbatasnya beras fortifikasi—beras yang diperkaya vitamin atau mineral.
Pemerintah memperparah situasi dengan menarik 25 merek beras fortifikasi dari peredaran pada 15 September 2026. Otoritas menilai produk-produk tersebut tidak sesuai standar mutu dan kandungan yang tercantum di label kemasan . Akibatnya, konsumen yang semula bisa mengalihkan pembelian beras premium ke beras fortifikasi kini semakin sulit mengakses beras berkualitas.
Fenomena ini terjadi di hipermarket, supermarket, dan minimarket di sejumlah daerah. "Sudah beberapa hari beras kosong. Karena ada penarikan produk," ujar seorang penjaga supermarket di dekat rumah penulis. Di dua gerai lain, yang tersedia hanya beras khusus seperti beras merah dan beras SPHP kualitas medium yang dikelola BULOG.
Jurus Pemerintah: Andalkan BULOG
Untuk mengatasi krisis, pemerintah mengandalkan Perum BULOG. Manajemen BULOG menggelontorkan 110.000 ton beras setiap bulan ke jaringan ritel modern, terdiri dari 75.000 ton beras premium dan 35.000 ton beras medium . BULOG juga menyiapkan 300.000 ton cadangan beras pemerintah (CBP) untuk diolah menjadi beras premium dengan melibatkan Perpadi. Namun, rencana penggunaan CBP ini belum disetujui.
Direktur Utama BULOG Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan komitmen perusahaan untuk memastikan masyarakat, khususnya di perkotaan, memiliki akses mudah terhadap beras premium.
"Kami ingin memastikan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan, memiliki akses yang mudah terhadap beras premium," tegas Rizal . BULOG berjanji memperluas distribusi beras premium ke seluruh pelosok negeri, tidak hanya di ritel modern tetapi juga pasar tradisional.
Tantangan Berat di Balik Janji
Mengguyur beras medium ke ritel modern tidak sulit bagi BULOG. Beras SPHP jumlahnya melimpah. BULOG mencatat per 14 September 2026, stok beras yang dikelola mencapai 4,72 juta ton—terdiri dari 4,56 juta ton CBP dan sisanya stok komersial. Jumlah ini menurun drastis dari posisi akhir Agustus yang masih 5,1 juta ton.
Namun, tantangan sesungguhnya adalah membanjiri ritel modern dengan beras premium. Merujuk data yang sama, stok beras premium BULOG hanya 160.000 ton.
Jumlah ini hanya cukup untuk mengguyur pasar modern sekitar dua bulan, sesuai janji manajemen BULOG. Setelah itu, dari mana pasokan beras premium akan datang?
BULOG menggandeng PT Padi Indonesia Maju, bagian dari Wilmar Group, untuk memproduksi beras premium dengan memanfaatkan empat pabrik Wilmar Group di Palembang, Serang, Ngawi, dan Mojokerto . Langkah ini sekaligus memudahkan distribusi produk.
Ironi di Tengah Swasembada: Harga Melambung, Rakyat Menanggung
Pertanyaannya, berapa biaya pengadaan beras premium BULOG? Berbeda dengan CBP yang memiliki nilai subsidi, beras komersial dikelola unit bisnis khusus BULOG untuk meraih keuntungan. Untung-rugi sepenuhnya menjadi tanggung jawab manajemen BULOG.
Merujuk data BULOG, pada 2025 biaya produksi beras medium diperkirakan mencapai Rp14.782/kg. Sementara itu, produsen beras dan penggilingan padi swasta tidak boleh menjual beras medium di zona I di atas harga eceran tertinggi (HET) Rp13.500/kg. Dengan harga gabah tinggi—di sejumlah daerah melebihi Rp8.000/kg—mustahil menjual beras premium tanpa merugi.
Itulah yang dialami PT Food Station Tjipinang Jaya. Perusahaan ini menghentikan penjualan beras di ritel modern karena rugi . Nasib produsen lain pun sama.
Direktur Utama Food Station, Dodot Tri Widodo, mengungkapkan bahwa harga pokok produksi beras telah melampaui HET yang berlaku.
"Untuk modern grade permintaan dari Indomaret, Alfamart, kemudian SuperIndo, kami masih pending dulu, karena kalau kami penuhi, rugi Pak, rugi?" ujar Dodot .
Beban Ganda Konsumen di Daerah
Seandainya janji mengguyur 75.000 ton beras premium per bulan ke ritel modern bisa dipenuhi, apakah jumlah ini cukup? Belum.
Beras yang beredar di semua ritel modern di Tanah Air diperkirakan antara 120.000 hingga 135.000 ton per bulan. Artinya, krisis beras premium di ritel modern kemungkinan tetap berlanjut.
Konsumen masih memiliki alternatif untuk membeli beras premium di pasar tradisional, toko, dan pengecer lainnya. Namun, harga beras premium di sana hampir pasti berada di atas HET.
Merujuk data SP2KP Kementerian Perdagangan, hanya 13 dari 38 provinsi yang menikmati harga beras medium sesuai HET. Lebih parah, hanya 8 dari 38 provinsi yang menikmati harga beras premium sesuai HET. Kondisi ini sudah berlangsung berbulan-bulan.
Yang paling terdampak daya belinya adalah warga di wilayah timur Indonesia, terutama Maluku dan Papua. Warga di Papua Pegunungan, merujuk SP2KP 19 September 2026, harus menebus beras medium seharga Rp29.500/kg dan beras premium Rp33.313/kg.
Harga ini jauh melampaui HET beras medium Rp15.500/kg dan beras premium Rp15.800/kg.
Di tengah klaim swasembada beras dan stok beras tertinggi sepanjang sejarah, rakyat justru harus menebus beras dengan harga tinggi. Adakah jurus ampuh pemerintah untuk mengatasi krisis ini? Wallahu a'lam. (#)
Editor : Redaksi