Kebat Kliwat Gancang Pincang: Ketika Alam Semesta Menolak Manusia yang Terburu-Buru

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy
Tri Prakoso, SH.,M.HP
Tri Prakoso, SH.,M.HP

Oleh: Tri Prakoso, SH.,M.HP (Alumni FH Universitas Jember)

JatimUPdate.id - Alam semesta tidak pernah meminta kita untuk berlari. Namun kita, umat manusia, mendadak menjadi bangsa pelari. Setiap pagi kita terbangun dengan napas terengah, mengejar sesuatu yang entah apa. Target, ekspektasi, pencapaian, validasi. Kita memuja kecepatan. Kita memuja yang instan. Kita memuja segala sesuatu yang selesai dalam sekejap. Dan dalam kecepatan itu, kita tidak menyadari bahwa ada banyak hal yang telah kita lewati. Bukan hanya tentang pekerjaan atau rutinitas, tetapi tentang makna kehidupan itu sendiri.

*Warisan Leluhur yang Terlupakan*

Bahasa Jawa menyimpan sebuah pitutur yang sarat makna: kebat kliwat gancang pincang. Secara harfiah, kebat berarti cepat, kliwat berarti terlewat, gancang berarti kencang, dan pincang berarti timpang atau tidak seimbang. Sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan gegas dan gesa, tanpa pikir panjang, hasilnya akan pincang. Orang Jawa memiliki frasa kebat kliwat yang kurang lebih artinya cepat tapi terlewat—sesuatu dikerjakan dengan tergesa-gesa, tetapi kemudian banyak hal yang dilewati dan dilewatkan.

Paribasan ini bukan sekadar nasihat praktis. Ia adalah pintu masuk untuk memahami kosmologi Jawa Kuno yang memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang saling terhubung. Dalam pandangan orang Jawa, manusia hidup dalam dua dimensi kosmis: jagad gedhe (makrokosmos) dan jagad cilik (mikrokosmos). Keduanya harus dijaga keselarasannya agar tercipta ketentraman hidup. Ketergesa-gesaan dalam bertindak dapat merusak keseimbangan kosmis tersebut.

Dalam bahasa yang lebih keras, orang Jawa juga memiliki ungkapan kebat kliwat, ngangsa marakake brahala—tergesa-gesa bisa menjadi awal petaka. Brahala merujuk pada kekuatan destruktif atau malapetaka yang dapat menimpa seseorang yang melanggar tatanan kosmis. Inilah peringatan spiritual yang paling keras dari leluhur: bahwa ketergesa-gesaan bukan hanya menghasilkan ketidaksempurnaan, tetapi dapat mendatangkan bencana.

*Anti-Grusa-Grusu: Jati Diri yang Terkikis*

Orang Jawa tidak menyukai ketergesaan, apalagi kalau ketergesaan itu sampai membuat kliwat—melewatkan sesuatu yang penting. Jagat orang Jawa adalah jagat yang slow, cenderung lambat. Orang Jawa berpikir mendalam sebelum bertindak. Pikiran dan penggalih, otak dan nurani, dua hal yang selalu berjalan seiring menjadi kesatuan yang harmonis. Ketika melangkah, orang Jawa diingatkan supaya ati-ati atau hati-hati. Setiap kali pamit kepada orang tua hendak keluar rumah, orang tua mengingatkan supaya hati-hati.

Tradisi Jawa sesungguhnya anti grusa-grusu atau anti ketergesa-gesaan. Budaya Jawa itu anti mental menerabas—mental yang ingin sukses secara cepat atau menjadi kaya secara cepat tanpa mempertimbangkan etika dan proses. Mental ini yang menyebabkan orang ingin sukses secara cepat atau menjadi kaya secara cepat dan akhirnya melupakan bahwa produk yang diperoleh secara cepat dengan cara yang tidak etis, juga akan menghasilkan ketidakselamatan. Ada ungkapan dalam bahasa Inggris, easy come easy go. Yang datang cepat juga akan pergi dengan cepat. Betapa banyak orang yang menghasilkan kekayaan melimpah dengan cepat tetapi berakhir dengan kehidupan yang nista karena dipenjara.

Namun hari ini, mentalitas kebat kliwat justru menjadi roh zaman. Kita hidup dalam masyarakat yang memuja kecepatan, efisiensi, dan produktivitas tanpa batas. Time is money, waktu adalah uang. Akselerasi, kecepatan, efektivitas, efisiensi, dan produktivitas adalah mantra-mantra modernitas. Siapa yang lambat akan digilas oleh waktu dan modernitas. Dalam pusaran mantra ini, manusia Jawa modern—dan Indonesia pada umumnya—kehilangan jati dirinya.

*Ketika Batin Kehilangan Ruang*

Dimensi spiritual dari kebat kliwat gancang pincang lebih dalam daripada sekadar manajemen waktu. Dalam khazanah spiritualitas Jawa, kebatinan merupakan inti dari ngelmu kejawen. Kebatinan menekankan pengembangan kehidupan batin dan diri yang terdalam sebagai jalan menuju kesatuan dengan Sang Pencipta. Untuk mencapai kesempurnaan hidup, seseorang harus menjalani proses laku (perjalanan spiritual) dengan penuh kesadaran. Ketergesa-gesaan dalam laku spiritual dipandang sebagai penghalang utama dalam mencapai manungsaling kawula gusti—menyatunya hamba dengan Tuhan.

Orang Jawa mengenal sangkan paraning dumadi—kesadaran akan asal dan tujuan hidup. Prinsip utama Kejawen ini berarti menyadari dari mana asal-usul manusia dan ke mana ia akan kembali—sebuah refleksi mendalam tentang hubungan antara makhluk dan Tuhan. Kesadaran ini menuntut proses, bukan jalan pintas. Ia menuntut laku prihatin—perjalanan yang dijalani dengan sabar, penuh kesadaran, dan tanpa tergesa-gesa.

Dalam praktik semedi, kesabaran dan ketenangan adalah kunci utama. Semedi bertujuan untuk memperoleh wahyu, sasmita, atau dhawuh (petunjuk ilahi) yang hanya dapat diterima jika batin dalam keadaan tenang dan jernih. Orang yang kebat kliwat dalam beragama atau beribadah—yang terburu-buru ingin mencapai pencerahan tanpa menjalani proses dengan sabar—cenderung mengalami apa yang disebut kliwat: melewatkan esensi dari pengalaman spiritual itu sendiri. Tindakan keagamaan orang Jawa selalu bersumber kepada penghayatan sikap spiritual mereka, seperti tirakat, bertapa, dan bersemedi. Semua praktik ini menuntut pengendalian diri, penahanan hawa nafsu, dan pengheningan cipta—sesuatu yang mustahil dilakukan oleh mereka yang terus dikejar-kejar ketergesa-gesaan.

Lebih jauh, dalam kosmologi Jawa, manusia terdiri dari empat nafsu atau sifat yang harus dikendalikan: aluamah (sifat rakus), amarah (sifat emosional), supiyah (sifat kepengin), dan mutmainah (sifat suci). Ketergesa-gesaan sering kali didorong oleh aluamah dan amarah yang tidak terkendali. Seseorang yang kebat kliwat cenderung dikuasai oleh nafsu ingin cepat mencapai hasil, sehingga mengabaikan mutmainah yang menuntut ketenangan dan kebijaksanaan.

*Ketika Kosmos Menolak Manusia*

Konsep jagad gedhe dan jagad cilik merupakan fondasi kosmologi Jawa yang telah ada sejak masa prasejarah dan berkembang pesat pada era Hindu-Buddha. Penelitian menunjukkan bahwa konsep ini menekankan pentingnya keseimbangan antara manusia, sesama, dan alam. Alam semesta dianggap sebagai jagad gedhe (makrokosmos), sedangkan manusia adalah gambaran dari jagad cilik (mikrokosmos). Keduanya memiliki kemanunggalan kekuatan yang saling memengaruhi.

Dalam kerangka ini, ketergesa-gesaan dalam tindakan manusia (mikrokosmos) menciptakan ketidakseimbangan yang berdampak pada makrokosmos. Ini sejalan dengan prinsip hamemayu hayuning bawana—kewajiban manusia untuk menjaga keselamatan dan keharmonisan dunia. Ketika manusia bertindak kebat kliwat, ia tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga mengganggu tatanan kosmis yang lebih besar.

Dalam tradisi Jawa, hubungan manusia dengan alam hidup dalam falsafah memayu hayuning bawana—memelihara dan memperindah kehidupan dunia. Alam dipandang bukan sebagai objek eksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya. Ketika manusia mengabaikan prinsip ini dalam pengelolaan alam—misalnya dengan mengeksploitasi sumber daya secara tergesa-gesa tanpa pertimbangan ekologis—maka ketidakseimbangan kosmis pun terjadi.

Dan kosmos telah menjawab. Di Pulau Jawa, tekanan terhadap lingkungan semakin besar akibat konversi lahan, berkurangnya kawasan resapan air, pencemaran sungai, dan meningkatnya volume sampah. Ketika hujan ekstrem datang, banjir dan longsor meluas. Saat kemarau memanjang, krisis air mengancam banyak wilayah. Dalam dua tahun terakhir, bencana hidrometeorologi mendominasi kejadian bencana nasional. Banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, dan angin kencang terjadi berulang di berbagai daerah. Inilah brahala yang dijanjikan oleh pitutur Jawa: petaka yang datang akibat ketergesa-gesaan manusia dalam mengelola alam.

*Wabah 3H: Ketika Ibadah Pun Menjadi Perlombaan*

Fenomena Type H Behavior atau Virus 3H—Hurried, Hostile, Humourless—yang diidentifikasi dalam penelitian psikologi sosial, kini menjalar hingga ke ruang spiritual umat beragama. Prinsip hurried—terburu-buru, efisiensi absolut, dan budaya instan—telah merasuk ke dalam cara kita beragama.

Dalam konteks spiritual kontemporer, ilmu agama menjadi komoditas instan. Media sosial dan platform digital, meskipun menawarkan aksesibilitas, tanpa disadari memicu fenomena instant religious knowledge. Informasi agama disajikan dalam format quick summary atau viral quotes. Tafsir Al-Qur'an atau hadis yang sejatinya memerlukan kedalaman sanad, nyantri bertahun-tahun, dan kemampuan bahasa yang mumpuni, kini dirasa cukup diselesaikan dengan sekali klik pada terjemahan instan atau ceramah 15 detik. Kecepatan ini menggeser otoritas keilmuan dari ulama yang berproses panjang ke influencer atau siapa pun yang punya akses panggung. Lahirlah pemahaman agama yang serpihan, dangkal, dan rentan salah tafsir.

Kita merayakan kecepatan, namun mengorbankan kedalaman dan ketenangan batin (tuma'ninah) dalam berilmu dan beribadah. Inilah kebat kliwat dalam wujud yang paling halus: kita merasa telah beragama, padahal kita baru menyentuh kulitnya. Kita merasa telah beribadah, padahal batin kita belum pernah benar-benar hadir. Virus kedua, Hostile, adalah manifestasi dari persaingan yang tak sehat. Keyakinan spiritual yang seharusnya melahirkan kedamaian justru disulap menjadi zero-sum game, di mana keberhasilan satu pihak berarti kegagalan pihak lain. Muncul label dan cap instan: Berbeda pemahaman, auto kafir. Berbeda penafsiran, auto murtad. Puncak dari dua virus di atas adalah Humourless—kehilangan kemampuan untuk tersenyum, tertawa, dan melihat hidup dengan kacamata yang lebih ringan.

*Pesugihan: Jalan Pintas yang Menyesatkan*

Ketika ketergesa-gesaan menjadi roh zaman, maka jalan pintas menjadi godaan yang tak terhindarkan. Fenomena pesugihan kembali populer. Dalam era modernisasi digital, isu pesugihan justru kian menguat bahkan memuncaki tren berita nasional. Mengapa? Karena struktur sosial saat ini didominasi oleh payung ekonomi-politik, di mana keberhasilan hidup hanya diukur lewat indikator materialistis yang tampak di permukaan: jumlah saldo rekening, rumah mewah, kendaraan, dan destinasi liburan keluarga.

Paparan media sosial memperkuat desakan psikologis masyarakat untuk survive. Ketika logika rasional atau doa dianggap tidak sanggup memenuhi standar hidup mapan tersebut, masyarakat yang dididik dalam ekosistem serba cepat akhirnya beralih pada cara-cara instan. Ini adalah ironi yang menyayat: masyarakat yang hidup dalam budaya spiritual yang kaya justru mencari jalan pintas yang bertentangan dengan esensi spiritualitas itu sendiri. Padahal, budaya pada hakikatnya dibentuk untuk menata kehidupan bersama secara luhur dan bijaksana. Fenomena destruktif seperti pesugihan, perjudian, atau korupsi tidak bisa diklaim sebagai produk budaya orisinal suatu daerah, melainkan hanya penyimpangan atau salah satu praktik kehidupan manusia saja.

Esensi pesugihan—menukar prinsip moral demi keuntungan materi—sejatinya sudah diadopsi ke dalam hubungan transaksional modern. Hubungan asmara demi fasilitas apartemen atau mobil mewah, misalnya, bisa juga dilihat sebagai bentuk pesugihan modern. Inilah kebat kliwat gancang pincang dalam wujudnya yang paling telanjang: kita menukar esensi kemanusiaan dengan aksesori material yang fana.

*Menemukan Kembali Keseimbangan yang Hilang*

Lalu, apa jalan keluarnya? Orang Jawa mengajarkan pentingnya alon-alon waton kelakon—kehati-hatian yang penuh pertimbangan. Ini bukan berarti lambat dalam bertindak, melainkan bertindak dengan kesadaran penuh, mempertimbangkan semua aspek, dan tidak mengorbankan kualitas demi kecepatan. Tradisi Jawa sesungguhnya anti grusa-grusu, tetapi bukan anti kemajuan. Ia adalah budaya hati-hati, agar proses dan hasilnya benar.

Dalam spiritualitas Jawa, ada konsep mati sakjeroning urip—mati sebelum mati. Frasa ini bukan ajakan untuk menyerah pada hidup atau berputus asa. Sebaliknya, ini merupakan tingkatan spiritual tertinggi untuk meraih kesempurnaan hidup. Konsep ini mengajak kita menggeser fokus hidup dari yang melulu mengejar kesuksesan materi dan validasi, menuju kesadaran yang lebih hakiki. Dunia tidak lagi dijadikan tujuan utama, melainkan sekadar kendaraan untuk mempersiapkan bekal spiritual yang abadi.

Salah satu masalah terbesar generasi hari ini adalah ketidakmampuan untuk membatasi keinginan. Ki Ageng Suryomentaram menyebutkan bahwa keinginan manusia itu sifatnya mulur mungkret—selalu melar dan menuntut lebih. Sejak kecil, kita selalu dilatih untuk ngegas dalam mengejar cita-cita dan ambisi. Namun, kita lupa untuk belajar bagaimana cara ngerem—berhenti sejenak untuk berefleksi. Melalui karakter utama kearifan Jawa seperti nrimo (menerima kenyataan) dan rilo (ikhlas), kita diajak untuk menjalani hidup dengan sadar dan utuh.

*Kosmos Menunggu Kita Pulang*

Kebat kliwat gancang pincang bukan sekadar peribahasa yang mengajarkan tentang bahaya ketergesa-gesaan. Ia adalah cermin dari kosmologi Jawa Kuno yang memandang alam semesta sebagai satu kesatuan yang saling terhubung, di mana setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi kosmis. Dalam perspektif jagad gedhe dan jagad cilik, ketergesa-gesaan menciptakan ketidakseimbangan yang tidak hanya merugikan individu, tetapi juga mengganggu harmoni alam semesta.

Di tengah derasnya arus modernitas yang memuja kecepatan, pitutur leluhur ini menawarkan kritik budaya yang tajam. Ia mengingatkan kita bahwa ada harga yang harus dibayar ketika kita memilih jalan pintas. Ada brahala yang menanti di ujung ketergesa-gesaan. Banjir yang datang setiap tahun, kekeringan yang melanda desa-desa, krisis iklim yang mengancam masa depan anak cucu—semua ini adalah manifestasi dari kebat kliwat kolektif kita sebagai bangsa.

Namun kosmos tidak pernah menutup pintu. Ia selalu menunggu kita untuk pulang. Pulang pada sangkan paraning dumadi—kesadaran akan asal dan tujuan. Pulang pada laku prihatin—perjalanan yang dijalani dengan sabar dan penuh kesadaran. Pulang pada memayu hayuning bawana—kewajiban menjaga keselamatan dunia. Dan yang paling penting, pulang pada diri kita sendiri—pada jagad cilik yang selama ini kita abaikan karena terlalu sibuk mengejar jagad gedhe yang kita pahami secara dangkal.

Orang Jawa mengingatkan: aja kesusu. Jangan terburu-buru. Karena hidup bukanlah perlombaan. Hidup adalah perjalanan. Dan perjalanan yang terbaik adalah perjalanan yang dijalani dengan hati, dengan kesadaran, dan dengan kesabaran. Karena pada akhirnya, bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa dalam kita memahami setiap langkah yang kita ambil.

Kebat kliwat gancang pincang. Cepat terlewat, kencang pincang. Leluhur kita telah memperingatkan. Alam semesta telah berbicara. Tinggal kita, apakah mau mendengarkan.