Catatan MAS AAS

Memiliki Dan Melepaskan

oleh : -
Memiliki Dan Melepaskan
Mas AAS

Hari sudah sore. Dan hujan sudah usai. Saatnya pulang ke rumah. Istri dan keluarga telah menanti di rumah.

Usai dua hari berkelana di Malang. Untuk berburu sesuatu yang pada akhirnya akan dilepaskan. Dan hanya menjadi sebuah cerita yang akan diceritakan oleh generasi selanjutnya!

Tapi ini penting untuk dilakukan. Itu saja, titik!

Apapun kepemilikan dan pencapaian yang akan kita usahakan. Di masa ini, di masa sekarang!

Bersekolah, berburu gelar. Bekerja, berburu pangkat. Berjejaring, berburu konstituen, dan suara. Itu rona serta warna yang menghiasi pikiran setiap anak manusia di kolong langit ini! Tanpa terkecuali.

Seperti isi dunia ini mau dikangkangin semuanya!

Terus apa yang dibanggakan? Sebutan, kepemilikan, pengakuan? Oh sekali-kali itu laksana fatamorgana saja.

Akan terasa wah, dan luar biasa. Manakala belum dicapai, dimiliki, dan diakui. Setelahnya kembali menjadi yang biasa-biasa saja!

Kenapa Anda harus jumawa merasa paling pintar? Merasa paling berpangkat, gaya aristokrat, bak tak bisa disentuh oleh kaum bodoh, kaum pinggiran, marginal yang tak mampu miliki bargaining di dalam hidup!

Percuma engkau berbicara. Kamu hanya lulusan SMA, lulusan S1. Ocehan mu hanya akan didengar lewat telinga kanan kemudian akan keluar lewat telinga kiri. Bagi orang, kelompok, yang Anda bidik karena tidak setuju akan tingkahnya yang pongah!

Hidup ini keras kawan! Jadi keraslah kepada dirimu sendiri. Agar hidup menyembah dan tahkluk kepada mu!

Diamlah, terimalah. Dan bertarung lah melawan dirimu sendiri! Dendam mu, balas lah dengan prestasi. Percuma aksimu sekarang. Entah kalau nanti!

Bekerja dan bertarung lah demi sebuah visi yang hidup dan autentik. Itulah iman, modalnya percaya. Itu saja!

Karena apa yang nantinya Anda miliki. Harus Anda latih juga secara pelan, satu demi satu Anda lepaskan. Buang semua kemelekatan itu. Itulah hidup yang sejati!

Layaknya Anda hanya bisa menangis kencang tanpa sehelai kain. Di tubuh Anda. Saat Anda dilahirkan di alam nan fana ini! Tentu saat mempersiapkan waktu pulang juga seharusnya sudah berlatih, tanggalkan itu semua, satu demi satu. Setidaknya potong dan kebiri rasa keakuan serta jumawa duniawi itu!

Kota pahlawan adalah rumahku. Aku berharap, spirit mereka juga yang akan aku miliki.

Sekian.

Surabaya, aku pulang! Dan aku sudah rindu untuk duduk di emper rumah dengan sepiring pisang goreng juga kopi. Masa Anda tidak?


AAS, 19 Januari 2023
Dalam Bus Patas Otw Malang-Surabaya