Catatan Mas AAS

Gambar Gubuk

Reporter : -
Gambar Gubuk
Catatan Mas AAS

Melihat gambar Gubug. Wayah sore. Lalu entah kebetulan apa tidak, si penjual warung kopi memutar tembang campursari.

Saat aku tengah rehat. Duduk menikmati sore di warkop. Sambil memandang gambar photo Gubug.

Baca Juga: Pengalaman Mengajar Hari Ini!

Lalu terdengar suaranya Manthous menyanyikan tembang berjudul : Nyidam sari. 

Umpama sliramu sekar melati.
Aku kumbang nyidam sari.
Umpama sliramu margi, wong manis.
Aku kang bakal ngliwati.

"Ah, tenane to kang mas," tanya sang gadis rupawan!". Itu non fiksi saat itu bukan fiksi!

Podo atau paragraf pertama dalam tembang. Mendengar suara empuk kang Manthous membuat saya langsung ingin berlari pulang ke kampung halaman saja. Terus keluar rumah, dolanan ning sawah.

Dan duduk di Gubug melihat hamparan padi berwarna hijau terbentang luas.

"Terus piye iku rasane?"
Dan dari kejauhan tampak Lik Siswo menuntun sapinya untuk dibawa pulang ke Rumah. Sehabis seharian dipakai mluku sawahnya yang sebentar lagi ditanami padi.
Tidak itu saja, lalu Lik Hardi nyunggi bagor berisi rerumputan buat makan kambing juga sapinya di dalam kandang belakang rumahnya.

Dan gambar-gambar itu saling susul menyusul seiring judul-judul tembang lainnya di nyanyikan oleh Manthous juga Sunyahni, saling bergantian!

"Sore Iki Jan ngelaras tenan uripku".

Rungkut spontan berubah menjadi suasana di kampung halaman Klaten. Waktu sore duduk di  lincak depan rumah, lalu mengamati kehidupan warga di desa. Di atas padusunan tampak wajah dua Gunung yang gagah jelas terlihat: Merapi Merbabu, menyuburkan  tetandurane poro tani!

"Aduh nimas, awakmu katon sumunar pasuryanmu. Sore Iki!" Mungkin itu yang tengah dipikirkan Lik Margono, saat melihat anak gadis yang baru berangkat dewasa dari dusun sebelah. So sweet! Dan kapan, itu Lik Margono punya nyali buat meminang kepada orang tua si gadis tersebut!

Lalu anak-anak remaja bermain gobak sodor dan yang kecil dengan sebayanya bermain  betengbetengan Para tetua dan orang tua, duduk bersandar di emper rumah. Setelah seharian berjibaku di sawah!

Sambil mengucapkan mantra anak cucunya urip mulyo, amin.

Baca Juga: Anda Hanya Kalah Ketika Anda Menyerah!

Kapan itu terlihat, masa lalu. Sore ini datang kembali, sesaat gambar capture itu terlihat oleh kedua mataku! Gambar Gubug di sawah. Lalu memori lawas terentang luas, lebar, panjang, dan tinggi sekali.

"Mbiyen mluku, macul, nggaru ning sawah! Banjur saiki, podho lungguh ning warung kopi, nunggu orderan!"

"Enak jamanku to le, ketoke Iyo Pakdhe, ups!"

"Kenapa bisa begitu?" Karena kejadian di Sawah dan melihat suasana desa yang penduduknya bergembira ria dengan aktivitasnya masing-masing. Saat penulis masih masa balita dan yang memimpin negeri ini masih Pakdhe!

"Wah bahaya Iki mengko nek tak lanjutkan tulisane!" Saiki tahun politik. Menulis tentang memori sebuah Gubug.

Bisa berbuntut menjadi Gubug penderitaan selamanya!

Masa lalu adalah sejarah, masa kini kenyataan, masa datang entahlah!

Baca Juga: Menjadi Eksis itu Hukumnya Wajib bagi Anak Republik Ini!

Yang pasti sore ini, anggonku ngojek rodok laris. Dan cukup buat beli makanan kucing yang disayangi yang berada di rumah!

Begitu saja. Gambar Gubug. Adalah sebuah sebab aku harus menulis tulisan ini. Mungkin suatu saat dirimu juga akan menjadi sebab aku ingin menulis sesuatu, misalnya saja itu!

"Topiknya apa mas AAS?" Tergantung materi hasil diskusi sebelumnya. Dan suasana emosi yang terjadi. Penulis menjadi penting memperhatikan itu semua: apa yang terlihat, terdengar, dibicarakan, lalu dirasakan dalam benak!

Kalau Anda punya cara lain, sampaikan. Itu membantuku.

Cara saya membuat tulisan seperti itu.

Demikian dan terima kasih.

AAS, 18 Maret 2023
Warung Kopi Rungkut Surabaya

Editor : Redaksi