Catatan Mas AAS

Mengukir Senyum Bahagia Di Kota Pahlawan

Reporter : -
Mengukir Senyum Bahagia Di Kota Pahlawan
pengamen

Menengok kawula muda duduk merapat dengan sebayanya. Di warung kopi, malam ini.

Di depan tampak layar TV berukuran besar. Penyanyi Felix Irawan nyanyikan banyak lagu cover nya.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Banyak pengunjung di warung kopi. Ada yang duduk sendirian. Ada yang berdua dengan temannya, banyak kursi dan bangku terisi.

Semua sibuk dengan gawai, semua sibuk bermain, semua sibuk dengan dunianya masing-masing!

Suara si Felix Irawan yang empuk di layar TV tak mampu menarik perhatian, mengalihkan pengunjung warkop dari fokusnya melihat gawai! Entah apa yang dilihat.

Tapi yang menarik. Si penjaga warung tetiba matikan TV, beri kesempatan sang vokalis lainnya tampil bernyanyi. Siapa? Si pengamen yang menyeruak datang unjuk gigi, jual suaranya!

Dan tidak diduga. Berbekal gitar kecil, yang awalnya saya remehkan, vokalnya.

Kaget saja lagunya Katon Bagaskara ia nyanyikan. Berjudul Yogyakarta.

Dan si penyanyi swasta bekerja dengan bernyanyi, dan tak cepat-cepat berharap uang diberi!

Di situlah aku mengapresiasi, dan beri harga cukup tinggi, malam ini!

Dan kedua telinga ini langsung pasang perhatian, menyimak suaranya.

Dan memang suaranya sama-sama empuknya. Sama kayak si Felix Irawan, namun si pengamen rada pelog melengking cengkoknya.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Dan aku suka itu!

Dan dengan terpaksa satu lembar uang berwarna biru di dompet, keluar dari persembunyiannya dengan dipaksa!

Berganti tuan nya!

Karena sebagai pendengar, dan juga konsumen. Aku benar-benar puas!

Serasa sedang duduk menikmati kopi jos di samping Stasiun Tugu Jogja saja!

Dan malam itu terus berjalan tidak terasa semakin larut saja. Saat itu.

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Mau minta kembalian. Kan tidak umum bayar pengamen minta uang kembalian. Jadi ya hanya bisa tersenyum saja. Aku malam ini di sini.

Memang itu rejekinya.

Terus segelas kopiku yang telah diminum di warung kopi malam ini, siapa yang bayar nantinya?

Entahlah...

 

AAS, 28 Maret 2023
Warkop Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin