Desa Bangelan Malang Kembangkan Food Estate Dengan Konsep Edu-Wisata

Reporter : -
Desa Bangelan Malang Kembangkan Food Estate Dengan Konsep Edu-Wisata
Kepala desa Bangelan Malang, Budiono saat bersama Danramil dan Camat Wonosari serta peniliti BRIN dan BRI melakukan panen perdana Kubis, Kamis (30/3/2023).

Malang, JatimUPdate.id,- Pemerintah desa Bangelan Kembangkan Food Estate guna dukung Konsep Edu Agro Wisata. Pemerintah Kecamatan Wonosari dan Pemerintah Desa Bangelan mematangkan program ketahanan pangan desa dengan mengedepankan konsep food estate di lahan 6 hektare guna mendukung konsep Desa Edu-Agro Wisata.

Dari rencana 6 hektare, kebun holtikultura yang diskema food estate itu baru digunakan 1,5 hektare untuk komoditas sayur kubis yang saat ini tengah dipanen.

Baca Juga: Kegiatan Buka Puasa Bersama ISPKANI Jatim di Universitas Brawijaya Malang

Pengembangan program ketahanan pangan Desa Bangelan ini didukung dan hasil kerjasama sejumlah pihak, setidaknya pihak yang terlibat adalah peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) Bank BRI.

Kepala Desa Bangelan, Budiono menegaskan pihaknya memang sedang getol mengembangkan program ketahanan pangan desa dengan konsep food estate yang diarahkan dalam memperkuat keberadaan wisata Tanaka yang telah ada.

"Lahan yang tersedia untuk dikembangkan dalam program ketahanan pangan food estate ini 6 hektare, tapi baru 1,5 hektare yang digunakan untuk sayur kubis. Rencananya sisanya akan ditanami jeruk, wortel dan cabai," kata Budiono saat bersama Danramil dan Camat Wonosari serta peniliti BRIN dan BRI melakukan panen perdana Kubis, Kamis (30/3/2023).

Budiono menyebutkan areal tanam sejumlah komoditas holtikultura ini akan jadi bagian penunjang kawasan Edu Agro Wisata Tanaka yang berjaraknya sekitar 200-300 meter.

"Konsepnya seputar areal lahan progran ketahanan pangan berbasis holtikultura ini akan dibuatkan jalan yang bisa dilalui mobil hartop pengunjung menuju kawasan wisata alam Tanaka," kata Budiono yang juga mantan Sekdes dari tiga kades Bangelan sebelumnya itu.

Anang, Peneliti Senior BRIN mengakui dirinya sangat tertarik dengan Desa Bangelan khususnya prakarsa Pemdesnya yang ingin menggarap kawasan lahannya menjadi areal tanam holtikultura sehingga bisa menjadi produsen holtikultura seperti Kecamatan Pujon.

"Potensi serta areal lahan Desa Bangelan sangat cocok untuk kawasan lahan holtikultura. Tim BRIN sendiri telah melakukan pembinaan secara ajek, alhamdulillah saat ini bisa memanen kubis yang kalau bagus 1 hektare akan bisa tembus 10 ton," ungkap Anang.

Areal sisa, kata Anang, yang 4,5 hektare kini secara bertahap akan ditanami.

Baca Juga: Lestarikan Lingkungan, Alfamart Sumbang Bibit Giat Safari Ekologi dan Kenduri Kali

"BRIN juga memberikan bimbingan teknis tidak hanya saat cocok tanam tetapi juga pasca panen termasuk memperkenalkan industri pengolahannya," ungkapnya


Camat Wonosari, Desy Ariyanti menyatakan pihaknya kini tengah mendorong desa-desa di wilayahnya bisa terus berbenah dan berkembang.

"Saat ini setidaknya ada 2 desa yang telah memiliki wisata tematik yaitu Desa Bangelan dengan andalan Edu Wisata Air Tanaka dan kini didukung pengembangan program holtikulturanya, satu desa lainnya yaitu Desa Sumberdem yang kawasannya telah terbagi dengan konsep wisata tematik. Ada kampung kopi, kampung rosela, kampung toga dan kampung KRPL. Desa-desa lainnya di Kec. Wonosari mesti dikembangkan dengan basis potensi yang ada," kata Desy pada kesempatan sama.

Lebih jauh Desy menyatakan kedua desa tersebut telah diakui keberadaannya bukan hanya di Kabupaten Malang tetapi juga telah meraih penghargaan di level provinsi.

"Pemerintah Kecamatan Wonosari optimis desa-desa di Kecamatan Wonosari akan semakin melangit [terkenal] meski tetap membumi dengan berbasis potensi yang ada," tegasnya.

Pada kesempatan panen perdana komoditas kubis itu turut hadir Danramil Wonosari, perwakilan Polsek Wonisari, BRIN, BRI, Dinas Ketahanan Pangan Kab. Malang, Tenaga Profesional Pendamping Kab Malang, Tenaga penyuluh pertanian.

Baca Juga: Bangkit Pasca Pandemi, Bumdes Lumbung Argo Tirto, Desa Gunungronggo Target Bukukan Laba Positif 2024

Lokasi Studi Tiru
Dari lokasi terpisah, Koordinator Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kab. Malang, Winartono menyatakan pagu dana desa di wilayahnya yang terbagi untuk 378 desa mencapai sekitar Rp453 miliar.

"Sesuai Kebijakan Kementrian Desa dengan prioritas penggunaan dana desa maka ada pagu 20% untuk program ketahanan pangan yang total alokasinya sekitar Rp96 miliar. Hal ini kini tengah kami upayakan agar bisa semakin tersinergikan dengan sejumlah pihak sehingga kemanfaatannya semakin tampak," kata Winartono saat dihubungi tengah mengikuti Zoom Meeting Rakor Penyamaan Persepsi Implementasi data P3KE dalam penetapan KPM BLT-DD, Kamis Malam (30/3/2023).

Dari informasi yang dihimpun TPP Kab. Malang, kata Winartono, pihaknya kini tengah menyusun program aksi agar dua desa di Kec. Wonosari yaitu Bangelan dan Sumberdem bisa jadi lokasi studi banding untuk program ketahanan pangan.

"Dua desa tersebut [Bangelan dan Sumberdem] kami nilai sangat layak jadi lokasi studi banding atau studi tiru untuk program ketahanan pangan berbasis desa. TPP Kab Malang tengah menyusun rencana aksinya yang akan diimplementasikan segera dengan melibatkan sejumlah pihak terkait," kata Winartono. (YH)

Editor : Nasirudin