Catatan MAS AAS

Menulis Sedikit Tetapi Sering

Editor : -
Menulis Sedikit Tetapi Sering
Mas AAS

Tidak ada cara lain untuk melatih otak, yang biasa dilakukan penulis untuk memproduksi tulisan. Adalah dengan menulis sedikit tetapi sering!

Otak dibuat produktif memproduksi ide juga gagasan yang sudah disimpan dalam memorinya.

Semua sudah ada di dalam pikiran. Tinggal lampu Aladin itu digosok tiga kali, agar otak mampu mengeluarkan jawaban dari banyak pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Itu sebuah ritus yang dilakukan oleh seorang penulis. Penulis yang serius ingin bisa menulis!

Banyak teori sudah disampaikan oleh para ahli. Bagaimana bisa menulis dengan bernas, apik, dan punya potensi dishare ulang oleh para pembaca.

Mulai dari: menulis ulang tulisan favorit, membaca tulisan penulis idola, lalu membaca buku best seller. Dan banyak lagi petunjuk yang yang diberikan, baik tip juga trik!

Tetapi saat layar laptop dan layar gawai tetap kosong. Dan jemari hanya diam saja tak segera memahat huruf.

Menulis tetap menjadi barang mewah, kemampuan elit yang hanya dilakukan oleh orang-orang elit juga!

Apa saja yang ditulis. Saat ingin rutin menulis. Menulis setiap hari misalnya.

Seorang pakar berkata demikian," sejak bangun tidur kala pagi hingga nanti kembali mau tidur, ada banyak kisah yang patut dibuat menjadi sebuah tulisan!"

Dengan melakukan yang demikian tulisan kita menjadi lebih manusiawi. Ia tak bergeser dari kisah hidup yang menjadi rutinitas manusia hidup di bumi!

Olahraga pagi, mandi, lalu antar anak juga istri, kemudian berjibaku meneruskan pekerjaan. Adalah sebuah sudut pandang yang original dan menarik diceritakan. Dalam bentuk tulisan.

Dengan segala macam pernak-pernik nya.

Tidak perlu memikirkan yang ribet bin ruwet. Tulisan harus viral, harus begini harus begitu. Akhirnya malahan takut menulis.

Yang penting rutin menulis, rutin membuat jari jemari ini bergerak di atas keyboard laptop juga keypard gawai. Lalu menulis sesuatu.

Tulisan ini juga dibuat penulis. Tidak jelas topik yang mau disampaikan. Tapi penulis percaya hasil dari pengalaman empiris.

Tulis saja dahulu, pasti akan menemukan sesuatu yang mau ditulis. Asal tidak mandeg stok pengetahuan yang sudah melekat dalam gudang pengetahuan pikiran akan terpaksa keluar satu demi satu.

Menyuplai pikiran dengan informasi lalu dilanjutkan dengan jemari menuliskannya.

Faktanya demikian.

Juga untuk judul tulisan ini "menulis sedikit tetapi sering". Bagiamana paragraf dibuka, lalu paragraf isi nanti ditulis apa, dan akhirnya tulisan harus ditutup dengan penutupan kayak apa?

Menulis saja, mengalir saja. Jadilah tulisan ini!

Tulisan ini dipahat penulis, untuk tetap menjaga sebuah konsistensi yang harus dilakukan penulis.

Meski sedikit, menuliskan, dan lakukan itu setiap hari. Lalu publis lah!

Dari melatih menulis sedikit tetapi sering. Diharapkan otot kepenulisan menjadi sensitif untuk menulis kata, kalimat, lalu paragraf yang hendak dibuat.

Apakah tulisan saat dibuat banyak klise nya, kalimat tidak efektif, lalu tulisan tidak menjadi sederhana dan enak dibaca.

Itu semua tak mungkin bisa dikerjakan saat penulis malas menulis sesuatu meski sedikit namun sering! Cara itu kayak anak kecil belajar naik sepeda.

Penulis menganggap cukup latihan naik sepeda pada siang ini. Besok latihan kembali.

Agar semakin mahir naik sepedanya, kalau sudah mahir, anak kecil itu bisa bergaya, lepas tangan saat kemudikan sepedanya!

Kemampuan menulis juga demikian hukumnya.


AAS, 01 April 2023
Rungkut Surabaya