Catatan Tentang Ancaman Seorang Peneliti BRIN pada Warga Muhammadiyah (Bagian I)

Kekurangan dan Kelebihan Permintaan Maaf dari Prof. Dr. Thomas Djamaluddin di Medsos

Reporter : -
Kekurangan dan Kelebihan Permintaan Maaf dari Prof. Dr. Thomas Djamaluddin di Medsos
Permohonan Maaf di FB

Pertama saya sampaikan kekurangan, kelebihannya di akhir.

 

Baca Juga: Sidang Isbat Digelar Besok, Pemerintah NU Muhammadiyah Berpotensi Merayakan Idul Fitri Bersama

Hati kecil saya merasakan permintaan maaf dari Yth Bapak Prof. Dr. Thomas Djamaluddin kurang tulus dan tidak fokus. 

Ada ego dan arogan dalam postingan maaf beliau di akun ig @t_djamal itu.

 

Beliau tidak menyadari, karena komentar provokatifnya di FB, terjadi kegaduhan yang melahirkan ancaman pembunuhan pada warga Muhammadiyah oleh seorang peneliti BRIN bernama Bapak AP Hasanuddin.

 

Saya sejak kecil diajarkan filosofi para leluhur nusantara, di antaranya "Biduak Lalu Kiambang Batauik" dan "indak ado karuah nan indak kajaniah".

 

Pada perdebatan level sedang saja, kita diajarkan untuk "mundua salangkah" (mundur selangkah) ". Apalagi dalam suasana tegang karena ancaman peneliti BRIN itu.

 

Situasi ini rentan disusupi dan diprovokasi oleh para pengadu domba yg senang NU dan Muhammadiyah bertengkar.

 

Sebagai Alumnus Gontor, yang alumnusnya pernah memimpin PBNU dan PP Muhammadiyah, kami siap melawan pengadu domba itu.

 

Kembali ke filosofi Minang di atas, itulah sebab, saya menilai permintaan maaf dari Prof. Dr. Thomas Djamaluddin tidak fokus, karena mengandung sindiran dan materi debat, serta sikap merasa paling oke.

 

Maaf, saya sementara ini menduga, Prof. Dr. Thomas Djamaluddin belum punya sifat pemersatu yg menjadi salah satu karakter utama seorang pemimpin.

 

Baca Juga: Gandeng Muhammadiyah, KPPU: Tingkatkan Kolaborasi Dalam Mendorong Ekonomi Berkeadilan

Kalau sifat itu tidak kuat, maka imbauan jenengan tentang persatuan, tidak akan didengarkan.

 

Namun di luar itu, saya wajib menghormati keberanian Prof. Dr. Thomas Djamaluddin yang tidak menutup akun dan mengunci kolom komentar di medsos.

 

Artinya Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mau mendengar dan selalu membuka ruang dialog, ini keren.

 

Kita juga memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada kesabaran, ketenangan dan sifat kenegarawan dari Ketum PP Muhammadiyah, Almukarrom Bapak Prof. Dr. H. Haedar Nashir dalam menghadapi krisis ini.

 

Kita juga memberikan penghargaan serupa kepada Almukarrom Bapak KH. Dr. K.H. Yahya Cholil Staquf yang humoris dan sangat intens berkomunikasi dengan para Pimpinan Muhammadiyah.

Baca Juga: Kendalikan Urbanisasi, Pemkot Surabaya Libatkan RT RW

 

Terima kasih Pak Kiai Yahya Staquf sudah membalas komen saya di ig Pak Kiai pada pagi ini.

 

Catatan.setelah ini, akan saya tuliskan mengapa orang mudah marah di kolom komentar medsos.

 

Terima kasih & hormat saya. 

Jakarta, 26 April 2023

Hariqo Satria, 

Pengamat dan Praktisi Medsos, Penulis Buku Seni Mengelola Tim Media Sosial. 

Editor : Nasirudin