Catatan Mas AAS

Jatuh Cinta Padamu

Reporter : -
Jatuh Cinta Padamu
Mas AAS

Penulis memang pernah jatuh cinta tapi tidak seindah ini. Dan penulis juga pernah rindu tapi tidak sedalam ini. Ajur mbokde!

Lalu merasa ada cinta dengan siapa dan rindu pada apa?

Baca Juga: Buka Bimtek Peningkatan Kapasitas SDM APIP, Ini Pesan Bupati Blitar

Cinta pada hidup yang berjalan pada hari ini, dan rindu pada pemikiran-pemikiran orang-orang yang bertemu selama satu hari ini tadi di UB dan Malang!

Embun pagi mengawali langkah kaki penulis dengan naik gerobak roda empat ke Malang dengan misi urusi urusan sekolah. Ditemani anak muda yang sedang fokus mengurusi kerajaan bisnisnya. Di dalam gerobak ada obrolan sejenak seputar jenis usaha, dan cara mengelolanya selama ini, sesudah itu anak muda me time dengan menyanyikan lagu-lagu nya "Dewa 19", ada ingatan tentang seseorang saat dengarkan si Ari Lasso, atau Once, atau malahan si pentolannya yang berjenggot! Setiap manusia kadang langsung jadi berlaku aneh: saat musik kenangan yang memiliki cerita lawas terputar di dengar oleh kedua telinga. Kelihatan sedikit tidak waras kadung dibanjiri rasa senang. "Mas eling, anak dan bojo dirumah lho ya," ujarku kepada anak muda yang sudah berkeluarga tersebut! Yang barusan dari Jakarta, katanya.

Berangkat dari Surabaya tepat pukul 04:00 Subuh rencananya. Dan baru bisa masuk jalan bebas hambatan sekira pukul 06:00 akhirnya, karena sedikit ada drama di rumah! Istri lupa bangunkan suaminya alias si penulis tulisan ini. Dan akhirnya tiba di kopi Tani FP UB tepat pukul 07:07 telat 7 menit, jam kuliah di kafe rakyat itu tepat jam tujuh pagi. "Maaf terlambat ya pak Guru!"

Tepat saja, pak guru nya sudah tiba di jam pertama. Pejabat juga dosen dari fakultas peternakan UB. Langsung buka tema tentang topik diskusi: Adipati Karno! "Bentar pak guru, kopi saya belum datang di meja, dan saya sejak dinihari tadi belum sarapan dan ngopi, Anda enak sudah bawa bungkusan sego krawu!" Bukan salah pak Guru hanya bawa satu, karena tidak janjian bertemu, hahaha! "Tak usah malu-malu di makan saja, pak guru," tegas penulis kepada Doktor jebolan UGM tersebut! Dan benar saja setelah makan kelar, dan kopi sudah diantar bartender ke meja penulis; semua tokoh wayang keluar semua sebagai latar diskusi untuk di bicarakan, diantaranya: ada Krisna, Brotoseno/Werkudara, Sengkuni, Bisma, Puntadewa, Janoko, dan tentunya si Karno!
"Gampang saja melihat siapa sebenarnya orang tersebut, dan bagaimana karakternya, lihat saja gambar wayang yang di pasang di rumahnya," tegas pak guru! Dan gelak tawa mewarnai suasana kelas di kafe kopi tani, saat pak Guru babar kahanan jagat kang gumelar lewat tingkah polah para lakon di wayang kulit!

Dan sorenya di Fakultas Vokasi, sang Dekan sedang membahas: pilih beli wedus opo pilih sate, tak lupa tentunya membahas aliran Jabariah, Qodariah, tak lupa sedikit menyebut muktazilah, tapi yang jelas mendominasi bahasan adalah tema: "Dewi Suhita". Dan pak Dekan Vokasi jebolan Monash atau Wolonggong University Australia tersebut, penulis lupa tanya tadi, karena kadung tertawa ngakak dan pak Dekan Vokasi yang kalem penuh kebapakan dan sangat bersahaja tersebut! Tapi karena penulis dan pak Dekan sama-sama saling memiliki kartu As, masing-masing sehingga pertemuan antara mahasiswa dan Dekan tersebut seakan tidak berjarak ada sekat! Kembali lagi semua karena hanya satu faktor, yang menjadi variabel siginifikan dan hasil hipotesis nya dilihat dari p values nilainya tertinggi yaitu: Variabel Dewi Suhita, glodak. Diskusi serius seputar kearifan lokal dalam berwirausaha langsung break dahulu. Karena ngakak nya belum kelar. Antara kami berdua.

Lalu siangnya dimana si penulis beraktivitas? Di Pascasarjana FE UB lah! Ngapain? Bayar administrasi yang perlu dibayar dalam rangka pelaksanaan UAD kepada bagian ujian fakultas! Dan urus tetek bengek buat acara UAD pada tanggal 20 Juli 2023 Minggu depan. Meski belum kelar semua, namun satu-persatu tugas telah ditunaikan, dan tak lupa kehadiran kolega lawas pejabat dari kota Batu menemui penulis, yang dahulu menjadi kolega penulis saat kuliah S1 di UB. "Guaya rek wis dadi pejabat penting Saiki awakmu jek?" "Alhamdulilah Broto berkat doamu!"

Dan ternyata kegiatan sebagai mahasiswa itu belum kelar juga. Masih mulek di UB saja. Sehingga kerja otak dan kerja fisik yang terus tergerus dengan fokus, serta harus lari kesana dan kesini lewati lorong dan selasar dan masuk lift di gedung yang tinggi untuk temui banyak orang. Penulis pun perlu metime menghibur diri. Alhamdulilah para dosen muda di UB selain jago mengajar, meneliti juga mengabdi. Rata-rata selera bermusik mereka cukup baik. Dan berbekal gitar tua kami pun menyanyikan lagunya Ebit G Ade: titip rindu buat ayah. Entah mereka para dosen muda itu begitu menghayati lagunya, bisa jadi mereka begitu banyak berbuat salah kepada ayahnya. Sayang sekarang mereka kini hanya bisa mengenangnya saja! "Terus pas bapak mau masih hidup malah Anda sia-siakan," kata teman yang jadi ustadz merangkap jadi pak Guru di Kopi Tani FP UB!

Dan tidak di duga serta bukan sulap bukan sihir: penulis juga ikut bermain memainkan gitar tua tersebut, untuk mengenang bapak penulis. Meski jari jemarinya hanya bisa memetik sinar gitar kunci C, A, dan D kres, lainnya tidak bisa!

Untung saja penulis punya banyak teman yang baik. Gitar tua itu diganti gitar yang baru dan di suruh bawa pulang ke Surabaya. Buat penulis agar belajar memainkan jemari untuk memetik gitar, selain memilih huruf untuk dibuat kata dan kalimat yaitu menulis yang merupakan kesukaan dan passion!

Baca Juga: Pemprov Jatim Jalin Kerjasama dengan 12 Perguruan Tinggi untuk Tingkatkan Kualitas SDM ASN

"Jek Iki gitar e tenan ta esoh tak gowo gratis ke Surabaya!"

"Iyo mister AAS. Tapi nek wis esoh main gitar mengko kudu dibayar tunai!"

Dan penulis baru ingat seharian ini tadi belum menulis. Barang satu judul pun. Oleh karenanya ada sisi hati yang terselip dan ada rasa salah menghampiri masuk ke dalam benar.

Dan gerobak lawas itupun spontan di parkir di Rest Area Waru Sidoarjo oleh penulis. Untuk menulis sejenak malam ini sebelum lanjut pulang ke rumah Surabaya, buat bobok malam.

Namun bukan rasa salah karena muncul rasa cinta ke lawan jenis lho ya? Karena rasa cinta itu misteri datangnya. Ia datang tidak di undang, ia pulang dan pergi pun tak diantar!

Entah kata siapa itu tadi? Sepertinya kata sohib penulis yang menjadi Dekan Vokasi UB hehehe, yang tadi sempat membahas Dewi Suhita plus Mazhab dalam agama, dan juga bahas beli kambing atau beli sate enaknya. Kalau yang terakhir topik yang dilempar oleh penulis untuk ditanggapi oleh pak Dekan.

Baca Juga: Universitas Brawijaya Kembalikan UKT Sesuai Kebijakan 2023

Dan hari ini penulis benar-benar jatuh cinta dan rindu kepada orang-orang hebat tadi di UB. Selain sebagai pejabat, selera humor mereka juga cukup besar dan menarik nya tidak garing.

Perihal grand teori, novelti lalu kontribusi penelitian di disertasi penulis, sementara lupa dibahas sampai selesai.

Ternyata tidak saja pejabat yang bertemu penulis di waktu pagi, siang, sore, bahkan di waktu malam tadi. Semua masih di dominasi tema Dewi Suhita obrolannya. Ajur pakdhe, mungkin karena sedang pada mengalami puber ke 2, 3, atau bahkan ke 4! Emang ada masa puber itu, kata pak Dokter teman penulis, puber itu tidak ada dan bukan penyakit

Penulis tidak tahu kalau kejadian nya seperti itu, lalu yang salah siapa? Pak Dekan atau malah Pak Dokter?


AAS, 11 Juli 2023
Rest Area Waru Sidoarjo

Editor : Yuris P Hidayat