Catatan Mas AAS

Dari Mana datangnya Mental Inferior Dari Anak Bangsa Kita

Reporter : -
Dari Mana datangnya Mental Inferior Dari Anak Bangsa Kita
Mas AAS

Sebagian besar hal penting di dunia ini telah dicapai oleh orang-orang yang terus berusaha ketika tampaknya tidak ada harapan sama sekali!

Pagi ini sedang berada di UB, MALANG. Untuk ngurus urusan studi S3 penulis! Namun, pikiran penulis sedang tidak berada di UB, masih berada di Pasuruan.

Baca Juga: Seorang Pemimpin Sejati bukanlah Pencari Konsesus: Ia Pembentuk Konsesus

Masih terngiang-ngiang akan obrolan yang tengah berlangsung dalam acara seminar dimana penulis kemarin menjadi pembicara utamanya di dalam acara tersebut!

Sehingga penulis perlu mengeluarkan jurus pamungkas untuk mengajak audiens yang notabene para mahasiswa yang penuh ide serta ingin melakukan hal-hal besar di dalam hidupnya.

Audiens di ajak penulis, mulai detik, menit, jam, dan hari kemarin: "Tidak boleh lagi merasa inferior sebagai pribadi dan sebagai manusia di mana pun saja mereka kuliah, bekerja, atau menjadi pengusaha pemilik lapak usaha mandiri!"

Meski saja setelah melampaui dirinya melewati itu semuanya. Juga tidak boleh kemudian terlalu kepedean dan jauh dari kerendahan hati. Cara pandang yang benar akan diri sendiri menjadi semacam target utama materi yang hendak penulis deliver pada acara seminar kewirausahaan: menjadi pengusaha sukses dengan modal nol! Sebelum memaparkan isi materinya yang disampaikan dalam platform PPT.

"Mana bisa saya menjadi pengusaha sukses, pak Andi, sedangkan bapak saya hanya tukang, keluarga besar saya hanya bekerja ikut orang, tak ada sejarah menjadi pedagang, glodak!"

"Asem tenan. Itu pertanyaan sangat menohok sekali. Jadi bahan utama aku mencuci otak mereka: para audiens pikirku!"

Dan benar saja, jurus pamungkas ku, saat di aplikasikan dalam acara seminar kepada audiens, anak-anak dari seluruh pelosok desa dan kota juga kabupaten Pasuruan. Menjadi semacam lahir kembali jadi manusia baru, yang punya mental positif dan cara pandang yang benar ke dalam dirinya sendiri.

Baca Juga: Masjid yang Viral di Surabaya: Karena Melayani Kebutuhan Seluruh Umat

Penulis juga pembicaranya sendiri, jadi ikut ketularan merasakan rasa kelegaan yang luar biasa seperti yang mereka rasakan macam rasa: gue bisa, aku pintar, aku sukses, dan aku berkelimpahan kekayaan, dan aku akan menjadi anak kebanggaan orang tua dan keluarga besar ku! Anak-anak bangsa dari Pasuruan itu, sejak kemarin siang mulai melangkah untuk mengukir masa depan hidupnya yang gilang gemilang di kehidupan nya.

Langkah besar itu di mulai kemarin!!!

Kalau Anda lahir dalam keadaan miskin itu bukan salah Anda. Namun kalau Anda mati dalam keadaan miskin, benar-benar itu salah diri Anda.

Jangan lagi memiliki mental inferior, buang ke laut saja mental kerdil itu! Sirnakan dari dalam diri Anda semua mulai detik ini. Itu ajakan penulis ke semua audiens. Penulis sangat yakin, materi kemarin setidaknya akan melekat kuat dalam benak mereka, karena materi disampaikan tidak sekadar teori tapi benar-benar melibatkan audiens untuk aktif serta praktik terlibat dalam acara kemarin!

Jangan salahkan negara Belanda karena telah begitu lama menjajah negeri ini, dan mendidik kita sebagai bangsa yang inferior di kemudian hari: tidak percaya diri berdiri di atas kedua kakinya sendiri.
Itu salah Anda semua, karena Anda tidak mau berubah dan merubah pikiran Anda!

Baca Juga: Hargai Semua yang Anda Miliki

Jangan menjadi anak bangsa yang abadi bodohnya!

Mari kita bergandengan tangan untuk bekerja dengan hati, selaras passion kita masing-masing dan Ibu Pertiwi akhirnya tersenyum bahagia melihat hasil karya kita untuknya!

Sekali merdeka, Nusantara tetap jaya maju lestari selamanya, aamiin yra


AAS, 4 September 2023
Gazebo Fakultas Ekonomi dan Bisnis UB Malang.

Editor : Yuris P Hidayat