Oleh : Andi Agus Subroto

Cetak Biru Manusia Nusantara

oleh : -
Cetak Biru Manusia Nusantara
Andi Agus Subroto, pegiat literasi

Cetak biru manusia nusantara adalah Memayu Hayuning Bawono. Yaitu memperindah keadaan bumi yang indah ini agar semakin indah. Dan tentunya juga memperindah kehidupan teruntuk seluruh penghuni bumi lainnya.

Panggilan itu tidak akan pernah sirna dan akan selalu menggedor-nggedor, memanggil, relung-relung jiwa setiap manusia di bumi pertiwi ini. Utamanya pada diri penulis pada siang ini, di bumi pahlawan.

Pemahaman dan kesadaran itu akan semakin besar justeru setelah manusia nusantara itu masuk ke dalam aspek terdalam dalam dirinya bukan sebaliknya. Di situlah ia sebagai pribadi merasai dirinya adalah sebuah titah hidup yang ditiupkan roh Sang Gusti.

Dalam aspek kejiwaan lalu akan timbul sebuah kepercayaan tinggi untuk mensabdakan hal kebaikan dan keagungan untuk alam sekitar serta segala mahkluk ciptaan Gusti di semesta ini. Tak lupa ia juga mampu untuk mensabda hal kebaikan untuk dirinya sendiri sebagai seorang manusia yang punya derajat tinggi!

Namun sayangnya. Kebanyakan manusia di nusantara ini justeru abai dan melupakan cetak birunya yang asli, juga di sini termasuk penulisnya sendiri. Kapan terakhir mensabda kebaikan dan merahmati kesejahteraan untuk seluruh penghuni semesta? Sudah lupa kapan terakhir dilakukan. Karena terlalu bising oleh rutinitas keseharian yang memperbesar eksistensi  yang berada di luar diri semata.

Dan pada siang ini. Penulis seakan merasa diingatkan oleh hal itu semuanya! Lalu ritual yang berfokus ke dalam diri dilakukan dengan kesadaran penuh. Untuk sadar merahmati, memberkahi, serta menyayangi, mencintai, seluruh penghuni semesta baik alam nyata pun juga alam nirnyata.

Rasanya bahagia sekali. Seakan seluruh arwah para leluhur, seluruh pepohonan, seluruh hewan, dan seluruh mahkluk ciptaanNya yang lain baik yang kasat mata ataupun tidak, bisa merasakan kebahagiaan yang tiada terkira juga, mereka pun menerima sembah sungkem dan kasih serta sayang sepenuh hati yang penulis berikan bagi mereka.

Hal yang demikian bisa jadi telah menjadi sesuatu yang sudah biasa dalam laku kehidupan penulis semenjak belia. Karena hal yang demikian menjadi jejak juga warisan yang dilatih dan diajarkan oleh orang tua juga para leluhur semuanya.

Apa yang kita sabda dan berikan teruntuk seluruh penghuni semesta. Tentu akan kembali juga kepada yang memberikan sabda! Dan penulis meyakini itu, sebagai salah satu  penerapan dari hukum semesta, hukum tabur tuai atau dalam diksi jawa adalah nandur lan ngunduh wohing pakarti!

Begitulah tabiat juga watak dasar manusia di nusantara ini aslinya. Ia selalu hidup dengan spirit untuk memulyakan, memperindah, kehidupan di bumi ini terus menerus. Hati juga jiwanya akan menjerit bila dirinya alpha melakukan itu di dalam kehidupannya sehari-hari.

Hanya spirit Memayu Hayuning Bawono yang berada di dalam jiwanyalah. Manusia Nusantara akan mampu mengerti dirinya yang sejati, dan bisa berbuat sesuatu yang mupangati bagi orang lebih banyak.

Menjadi diri yang sejati adalah menjadi diri sendiri yang otentik. Melalui diri yang otentik dengan segala kelebihan yang dimiliki itulah, adalah cara manusia nusantara bertekun memperindah bumi pertiwi ini. Termasuk di dalamnya melalui tulisan ini.

Sekiranya semua pembaca yang sempat membaca tulisan ini. Bisa jadi tergerak untuk memberkati semesta ini dan segenap penghuninya, dengan caranya masing-masing. Saya kira hal kebaikan yang sama juga nantinya akan diberikan semesta kepada kita semuanya. Kesehatan, kekayaan, serta keberkahan di dalam hidup, kita alami dan miliki, amin ya rabbal alamin.

 

AAS, 20 Mei 2022