Catatan Mas AAS

Sawang Sinawang

Reporter : -
Sawang Sinawang
Mas AAS

Malam tadi. Gang nyempil di belakang perumahan ini sepi nyenyet. Tapi aku suka lewat jalan ini.

Sekarang pagi pun datang kembali. Kehidupan di semesta dimulai lagi. Nafas kehidupan hidup lagi.

Baca Juga: Momong Kahanan!

Si Ibu muda sudah bersiap keluarkan sepeda onthel nya. Anak kecilnya sudah menunggu bawa tas besar siap berangkat ke sekolah pagi. Lelaki jelita (jelang lima puluh tahun), si suaminya, sudah keluarkan kandang burung kelangenan di depan pintu. Siap-siap berhala modern nya di mandiin pagi. Glodhak.

Si istri mukanya kurang cerah, secerah mentari yang pelan-pelan sinarnya telah menyinari halaman mungil di depan rumah. "Entah apa yang dipikirkan: karena segera ingin antar putrinya ke sekolah. Atau di empet marahnya melihat sang mantan pacar, malahan begitu gandrung sama berhalanya yang tengah berkicau nyaring. Layaknya dunia pagi ini hanya miliknya berdua: si lelaki dan Burung Murai nya."

Ternyata podo bae. Hidup selalu berubah irama dan panoramanya. Dahulu istrinya disayang, sekarang malahan berhala Murai nya yang selalu di elus-elus. Dan orang rumah meradang tak berkesudahan saban harinya. Cukup dimengerti.

Itu terjadi di sini di gang nyempil ini. Sepertinya di gang-gang yang lain di belahan bumi, kota, dan wilayah lain tak jauh beda. Sebelas duabelas sama. Sepertinya.

Menyaksikan kehidupan masyarakat urban yang hidup di kota metropolitan. Adalah sebuah insight di dalam hidup. Bahwa urip iku ora gampang. Penulis tidak bisa menebak apa yang dirasakan oleh si istri tersebut. Namun semuanya bisa dilihat dari perangai, sikap, dan apa yang dilakukan. Dan semuanya sudah cukup sebagai informasi tentang apa yang terjadi sesungguhnya pada pagi ini di salah satu rumah mungil di gang nyempil tersebut.

Dan bagi seorang penulis, fenomena itu sudah cukup. Memotivasi otak untuk memerintahkan tangan mengambil hape dari saku celana dan lewat kedua jempol jemari, mulai menata huruf-huruf dengan pelan menjadi sebuah tulisan.

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

Sesederhana itu. Mencari bahan untuk memotret kehidupan pada pagi ini!

Dan aku pun harus segera bersiap pulang ke rumah. Karena orang rumah juga sudah terlihat dari kejauhan. Telah sukses bawa keranjang yang berisi segala bumbu, sayur, minyak, dan kebutuhan dapur lainnya. Dari pasar pagi.

Hidup sejatinya mung sawang sinawang itu nyata, bukan ilusi, apalagi delusi.

"Kau bilang aku enak, kulihat kau lebih enak. Terus sing ora penak sopo?" Mungkin saja para die hard Paslon Capres-cawapres kalau jagoannya kalah dalam pertandingan besok di coblosan Pilpres.

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Tetapi seperti aturipun Eyang Ki Ageng "Suryo Mentaram". Urip iku gor mulur mungret: seneng sedelok, bubar iku senep sedelok. Ngono terus kedadeane! Sampai kapan? Sampai sebelum kondur marak sowan dateng Gusti!"

Demikian. Sugeng enjing kagem sedoyo pamirso..

 

AAS, 24 Januari 2024
Gang Nyempil Pasar Pahing Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin