Catatan Mas AAS

Tambah Panas Hawane!

Reporter : -
Tambah Panas Hawane!
Mas AAS

Seorang jurnalis terbiasa kerja tangan, kaki, lalu kemudian kerja pikiran. Begitu yang dikatakan Romo Sindunata. Salah satu pemahat huruf, idola penulis.

Untuk mengelaborasi semua informasi yang didapat di lapangan dari informan. Di dokumentasikan dalam sebuah informasi dalam bentuk tulisan kepada para pembacanya.

Baca Juga: Momong Kahanan!

Ia bekerja terus dalam spirit menyajikan berita berupa tulisan yang sederhana, lugas, terpercaya, mudah dicerna. Dan menjadi semacam insight memberi inspirasi bagi yang membaca karya literasi nya.

Begitu juga kerja Mister AAS, pagi ini. Menjadi sillent reader dari aktivitas jamaah di beberapa grup WhatsApp. Sudah dapat menjadi inspirasi untuk menulis sesuatu. "Tambah panas ae, HAWANE esuk Iki!" meski Sang Surya masih terhalang masuk ke rumah terhalang kanopi garasi.

Hari-hari ini. Semakin mendekati momen battle untuk memilih pemimpin terbaik, bagi negeri ini. Semakin dinamis dan semakin panas saja, atmosfer dalam kehidupan para pendukung Capres di momen Pilpres. Satu dua pekan mendatang.

Semua argumen, meme, alibi, tak jarang juga berita hoax hilir mudik di beranda media sosial.

Gelombang informasi bak tsunami di produksi oleh setiap warga di negeri ini yang punya smartphone. Setiap detik, menit, jam, dan hari. Lalu lintas informasi itu disuguhkan di setiap lapak media sosial yang ada: IG, WhatsApp, FB. Dan semua informasi itu ditelan dengan beraneka rupa kecenderungan. Ada yang ditelan mentah-mentah, ada yang di mamah pelan-pelan, ada yang menggunakan akal, namun acap kali, langsung di untal tanpa ba-bi-bu hanya gunakan perasaan, lalu fenomena baper di udal-udal kemana-mana. Menjadi perangai yang sungguh miris menghiasi obrolan di dunia maya pun di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari!

Dan kabar buruknya. Semua informasi dengan baju kemarahan, penyangkalan, dan kadang juga terjadi sumpah serapah. Beberapa bulan ini terus saja direproduksi. Tanpa filter, oleh semua para die hard pendukung Paslon Capres. Ngeri juga. Karena saat pikiran tidak jernih, jiwa kurang waras. Seketika langsung ikut nimbrung secara auto mem-bully: orang, komunitas, bahkan juga pejabat yang dirasa akan merugikan idolanya.

Baca Juga: Merah Putih Negeri ku

Tidak kenal waktu. Fenomena di grup WhatsApp. Benar-benar menggambar dengan jelas semua fenomena di atas. Tentu saja grup WhatsApp yang biasa dan senang ngompol ngomong politik, dengan perilaku dukungan yang lebih riil. Grup lainnya juga aslinya melakukan hal yang sama namun cenderung berasa surealis, memotret suara pikiran alam bawah sadarnya dalam perangai yang dikenakan dalam aktivitas di grup berbaju malu-malu tapi mau. Karena pada dasarnya setiap orang adalah mahkluk sosial juga mahkluk politik, ia punya keinginan, ia punya idola, ia punya harapan, capres nya terpilih.

Hari-hari ini. Setiap warga di negeri ini. Memang punya kepedulian yang cukup tinggi. Guna berkontribusi untuk melu cawe-cawe memilih pemimpin atau capres terbaik versi masing-masing. Karena esensinya suara rakyat bukankah pengejawantahan suara semesta.

Menggunakan akal sehat dan tetap berpikir waras. Mesti terus digunakan dalam merespon hari-hari mendatang yang semakin panas. Menuju hari H Pilpres, 14 Februari 2024.

Namun tetap saja, memotret perilaku aktivitas setiap warga. Dalam menterjemahkan dukungannya kepada idolanya. Masih begitu menarik untuk dipahat tulisannya. Dan mengandung Novelty kebaruan yang begitu tinggi juga orisinil.

Baca Juga: Jalani Saja, Klangenan Hidup Yang Disenangi

Sepertinya, harus segera bebersih diri. Mengguyur tubuh dengan air dingin di kamar mandi. Agar sedikit memberi ruang anasir di dalam badan ini agak sedikit mereda tidak terlalu kepanasan, dalam merespon fenomena hari-hari dalam momen pilpres sekarang.

Lalu setelah itu antar istri ke kantornya. Bagaimana pun itu tugas rutin yang tak bisa dihindari. Tidak mau kerjakan kewajiban tersebut. Bisa panas beneran pagi ini!

Demikian.


AAS, 25 Januari 2024
Emper Rumah Rungkut Surabaya

Editor : Yuris P Hidayat