Catatan Mas AAS

Hidup Bisa Memilih: Menjadi Elang atau Bebek!

Reporter : -
Hidup Bisa Memilih: Menjadi Elang atau Bebek!
Catatan MAS AAS

Memulai pagi yang baru di Kota Pahlawan. Sudah bertemu dengan kegiatan domestik yang rutin, antar istri ke pasar. Dan seperti biasanya, diri ini menunggu di dalam warung kopi menulis sesuatu.

Setumpuk aktivitas lainnya sudah siap menghadang penulis untuk dikerjakan. Setelah dari pasar, tentu saja antarkan orang rumah ke kantornya. Dan penulis bersiap bertemu mahasiswa di dalam kelas, dan aktivitas lainnya kembali, bertemu kolega barangkali, membuka peluang dan merawat jejaring perkawanan!

Baca Juga: Inspirasi Pagi

Melakukan ini, melakukan itu, dan ingin sejenak melakukan jeda di mana, melakukan apa? Tak jarang habit saat bertemu hari yang baru di suatu pagi, ada banyak pikiran positif yang direduksi menjadi sebuah ketidakberdayaan.

Tidak secure selalu saja insecure untuk memulai hari. Janganlah begitu. Vibrasi, energi, dan frekuensi yang disadari saat bertemu hari yang baru, akan sangat menentukan wajah kehidupan dalam satu hari ini.

Burung Elang terbang sendirian di langit yang tinggi. Ia begitu awas harus melakukan apa untuk memulai hari, dan bersiap merayakan sepenuhnya karena sudah sangat tahu makanan alaminya akan ia ambil dimana dan dengan cara apa? Terbang yang tinggi, lalu menukik ke bawah mengambil buruannya. Dan hap dapatlah ikan yang segar di tengah lautan. Begitu elegan cara si Burung Elang memulai hidupnya. Berbeda dengan gerutuan bebek: wek-wek ke sana dan kemari membuat bising suatu pagi dengan kelakuan yang dibuatnya.

Sudah dapat empat paragraf lalu diri ini terdiam lama. Mau diterusin ke mana tulisan ini. Semua masih dalam konteks sebuah pendahuluan. Tapi pada tulisan ini bukan sedang berbicara tentang bagaimana sebuah tulisan itu harus dibuat: tapi tentang memilih hidup menjadi Elang, bukan menjadi Bebek. Dicantolkan dengan konsep apa selanjutnya? Agar tulisan ini tetap runtut ada pesan yang bisa disampaikan kepada pembaca. Bingung juga, upps!

Momen aha itu pun tiba setelah alami kebuntuan berpikir, dan alami mentok apa yang mesti ditulis untuk paragraf selanjutnya. Karena hari ini profesi utama penulis adalah menjadi seorang pendidik. Boleh jadi profesi ini masih menyisakan banyak tanya, apakah cukup mampu mengantarkan kepada banyak mimpi yang sempat diimpikan. Apakah harus menambah lapak agar bisa menjawab keresahan yang sempat hinggap di dalam benak.

Baca Juga: Kampung Halaman

Nah, bagaimana menjalankan itu. Menjadi sebuah spirit untuk terus diri ini bergerak, melihat peluang dan momen yang lainnya, diabaikan apa mesti ditanggapi. Dengan terbang yang tinggi memakai caranya si Burung Elang mengayuh kedua sayapnya di langit yang tinggi, pergi begitu jauh dari sarangnya, dapat melihat dengan jelas, apa saja yang tengah terjadi di dunia bawah, dan harus diapakan fenomena tersebut. Di syukuri apa mesti diratapi. Kembali pada pagi ini, berbagai pilihan hidup banyak ditawarkan kepada penulis.

Karena menjadi diri sendiri yang seutuhnya adalah sebuah panggilan profetik, yang setiap waktu terus bergema panggilannya. Dan hanya mampu ditemukan oleh kerelaan diri ini untuk terus berjalan. Bukan berhenti, alih-alih menggerutu!

Bergerak dalam senyap sebuah kemewahan yang diteladankan oleh Burung Elang. Daripada bermanuver penuh kebisingan dan berisik seperti yang dilakukan oleh Bebek. Hidup adalah pilihan!

Elang senantiasa terbang sendirian untuk menembus ruang keterbatasan dalam dirinya yang terdalam. Ia benar-benar sebuah entitas layaknya manusia yang merdeka. Merdeka untuk secara sadar menembus keterbatasan serta kekangan urusan lahir juga batinnya sendiri.

Baca Juga: Buku Baru Warisan Baru

Ya, cara memulai hari yang gentle menurut penulis. Ya, dengan memahat tulisan. Setidaknya dengan berkarya membuat tulisan ini, adalah cara penulis untuk mampu beyond dari sesaknya keterbatasan diri yang menghampiri! Manusia dengan segala kelengkapan panca indra yang dimilikinya adalah seorang co-creator terbaik di bumi ini!

 

AAS, 5 Maret 2024
Warkop Langganan Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin