Catatan Mas AAS

Ada Miracle Di Surabaya

Reporter : -
Ada Miracle Di Surabaya
Mas AAS

Miracle apa yang tengah datang menghampiri kota pahlawan Surabaya, hari ini?

Sedari tadi pagi, hingga siang, bahkan menjelang sore tiba. Cuaca yang panas dan terik menyengat kulit seakan pergi entah kemana!

Baca Juga: Hidup adalah Mengenai Menerima dan Memberi!

Berganti angin semilir yang sembribit menerpa tubuh. Rinai datang lalu pergi sempat terjadi, tumpah di bumi pahlawan.

Julukan Surabaya kota metropolitan yang panas, sepertinya bergeser sedikit menjadi desa besar, yang adem dan tidak begitu bising. Setidaknya untuk hari ini tadi. Di mana penghuninya pada sedang malas beraktivitas di luar rumah. Sehingga jalanan kelihatan rada hening, sepi, tidak seramai biasanya.

Hanya para Korea, Taiwan, dan employee saja yang tetap dengan gigih bekerja di luar rumah. Sebagian besar yang lainnya di rumah saja. Rebahan seharian sehabis sahur barangkali, upps!

Taringnya Suro dan Boyo tidak kelihatan hari ini. Banyak pengguna kuda terbang roda dua pelan-pelan mengemudikan motornya. Pun juga para sopir Gajah Aboh. Keadaan jalan raya yang ruwet semua terburu-buru menuju ke pabrik dan kantornya, tidak terjadi pada seharian ini tadi. Sampai pada tulisan ini di buat pun, nuansa bak kota pensiunan belum hilang sejauh mata memandang. Menghampiri Surabaya.

Keadaan yang demikian bagi penulis. Laksana melihat sebuah miracle kecil atau keajaiban tengah diberikan oleh Sang Pemilik Alam kepada para arek-arek Suroboyo.

Atap langit yang jernih, bewarna biru, sedikit awan, dan juga mendung terlihat. Datang sebentar pergi sebentar, lalu tetes air yang begitu ritmis sejenak turun dari atap langit ke tanah, lalu reda. Semakin enggan mentari itu datang. Berganti angin sepoi yang hadir, dan tubuh itu pun meminta selimut berupa jaket saat duduk di jok kuda terbang menuju Terminal Bungurasih. Di kanan dan kiri saat menyusuri jalan raya, para pengendara yang sama seakan tersedot melihat sesuatu yang tidak biasa tengah mampir di SURABAYA.

Melalui panca indera yang disetel hidup dan terbuka sejenak. Miracle di kota pahlawan itu benar-benar bisa dinikmati. Hidup di Surabaya layaknya sedang hidup di Salatiga, Tawangmangu, atau juga di lembah dan lereng Merapi dan Merbabu.

Baca Juga: Kanim Perak Terus Gelorakan Layanan Inovasi Papi Ira di bulan Ramadhan

Mesk penulis tidak bermaksud hiperbolis, faktanya memang demikian.

Surabaya terasa dingin udaranya, setidaknya pada hari ini utamanya pada sore ini. Entah kalau esok hari!

Bisa jadi kembali ke format awal. Hidup dan tinggal di Surabaya. Harus pintar mencari tempat berteduh, karena panas yang hadir dan angin semilir pun enggan datang!

Meski sejenak, anomali cuaca ini terjadi di Surabaya.

Baca Juga: Manusia akan Terus Bergerak Membangun Legacy di Dalam Hidupnya!

Namun, telah menjadi modal yang cukup untuk penulis mensyukuri sesuatu. Melihat suasana yang tengah mampir di Surabaya sekarang. Keadaannya bak hidup di daerah pedalaman saja: di kelilingi gunung-gunung yang tegak kokoh berdiri, udaranya terasa sejuk, angin semilir pun hadir. Seperti pada kehidupan lawas yang sempat mampir di masa kecil penulis.


Demikian.

 

AAS, 15 Maret 2024
Dalam Bus Otw Surabaya -Pasuruan

Editor : Nasirudin