Catatan Mas AAS

Mulur Mungret!

Reporter : -
Mulur Mungret!
Mas AAS

Benar-benar sekarat sesaat libido menulis itu dihentikan sesaat! Hanya bisa menahan kecamuk pikiran yang berisik di kepala saja, dan berujung menjadi sampah akhirnya.

Ribuan detik, ratusan menit, puluhan jam, dan beberapa hari, hanya mampu untuk menulis di dalam pikiran saja. Setiap peristiwa apapun yang hadir, ditanggapi hanya di level mind mapping pikiran saja. Apa tidak sebaiknya begini, sebaiknya begitu, tak sanggup menuliskannya. Benar-benar menjadi belenggu, beban pikiran saja! Gambaran kesenduan acapkali menyeruak tak diundang tak diminta lalu datang seketika mengkerut, mengkerdilkan jiwa. Benar-benar sebuah peristiwa itu tidak cukup hanya ditonton, ia wajib di pahat, dan melakukanya adalah sebuah media healing bagi raga apalagi bagi jiwa ini! Mlebu metu adalah sifat natural dari sebuah kehidupan! Demikian nafas kehidupan ini juga.

Baca Juga: Memasak: Sebuah Seni dan Cara Menikmati Momen Liburan

Hidup alurnya akan terus saja begitu: sebentar senang sebentar susah, sebentar terang sebentar gelap, sebentar takut, sebentar berani. Para manusia yang sudah menang hidupnya sudah sangat familiar, hidup ya begitu itu mulur mungret! Bersembunyi tidak bisa, lari apalagi tak kan mampu. Berhenti dan hadapi.

Masih tetap di sanggar pamujan, di mana itu, biasa di emper rumah. Duduk mengeja ulang kembali apa yang tengah berlangsung dengan hiruk pikuk di bumi, di semesta ini, lebih kongkret adalah pada semesta yang terjadi pada diri pribadi ini. Mau ke mana, memperjuangkan apa, meraih apa, alasan yang mana yang mau dipilih, sehingga hidup ini memang harus dilanjutkan? Apakah mau mencari tepuk tangan, apakah mau mencari akumulasi kapital, apakah mau mencari apa? Pertanyaan klasik yang berubah menjadi pertanyaan klise yang saban hari minta jawaban terus menerus, laksana tauhid yang terus akan diperbarui manakala dihadapkan kepada sebuah permasalahan yang meminta sebuah jawab terus!

Sebuah level rutinitas kehidupan yang sudah sedemikian akut, membuat jiwa ini juga gerah pada akhirnya. Ia hanya akan bertemu dengan kepenatan-kepenatan ragawi yang sumir, ia semakin menjauhkan dari kebersahajaan layaknya sekadar minum teh di pawon saat pagi bersama orang tua tercinta di masa kecil dahulu, atau sekadar menghabiskan kerak sego liwet dicampur parutan kelapa sungguh nikmatnya tak mampu diukir oleh keindahan diksi apapun.

Bagaimana pun jiwa yang meronta itu, tetap memerintahkan jemari ini untuk menulisnya. Karena gemuruhnya mendapat kan pijakan yang nyata berupa lukisan yang diubah dalam sebuah larikan aksara. Dan dedaunan di pohon mangga, beberapa bunga di pot sepertinya sedang mengamini sesaat jemari ini tengah menyampaikan perintahnya sang jiwa untuk disampaikan kepada semesta pada petang kali ini!

Baca Juga: Launching Wisata Kota Lama Suarabaya, Masyarakat Ditinggal atau Diberdayakan? 

Pohon, batang, serta ranting seakan menyapa sambil melirik tak lupa mereka pun bergumam syahdu: "Semua ini nanti juga akan berlalu!" Karena semua tidak ada yang abadi, dan diaminkan oleh si anabul langsung duduk manja di pangkuan penulis seketika, menemani jari jemari yang tengah menari di keypard hape menjalankan tugasnya, menulis! Di rumah kucing-kucing itu memang banyak sekali, entah kucing darimana itu, mereka satu persatu datang, singgah lalu kerasan ngamar jadi juragan di sini, ada puluhan jumlahnya lebih malahan!

Sekolah yang berulang kali dilakukan oleh sang raga, tak ayal sang jiwa itupun meminta dipilihkan sebuah frase, sebuah premis, sebuah konsep, bahkan sebuah hipotesis yang tidak flat, biasa saja. Ia meminta sang jemari melirik peristiwa kehidupan yang tepat hadir di depan pelupuk mata, berupa aktivitas pohon beserta dedaunan dan buahnya beserta aktivitas si anabul nan imut untuk dilukis bagi asupan yang bergizi bagi sang jiwa pada petang kali ini. Di titik itulah si penulisnya hanya mampu manggut-manggut penuh arti!

Karena rumus yang berlaku di semesta tak mungkin dikejar ia akan mendekat sesaat ditarik bukan dikejar, layaknya binatang kupu-kupu yang sudah jarang datang karena taman yang hijau itu pun sudah hilang menjadi taman-taman tembok tebal!

Baca Juga: Momentum Itu Diciptakan

Sepertinya ruang kelegaan jiwa itu pelan tapi pasti hadir kembali. Menjadi sebuah kemantapan untuk menarik kupu-kupu itu agar hadir datang kembali. Agar bisa bekerjasama meramaikan kehidupan yang terjadi di semesta untuk di hari-hari mendatang. Karena si anabul ikut senang karena si tuan nya sudah mulai merapal text mantra untuk disebarkan kepada semesta agar menjadi rabuk sang jiwa bagi para pembacanya. Utamanya rabuk spirit bagi si penulisnya.

Demikian dan terima kasih...


AAS, 31 MEI 2024
Emper Omah Rungkut Surabaya

Editor : Nasirudin