Oleh: Nur Fatahna Ni’mah, S.Pd., M.Pd*
Mengatasi Kontroversi Penggunaan AI pada Pembelajaran Seni
AI (Artificial Intelligence) dan seni sering dianggap hal yang bertentangan untuk digunkan dalam pembelajaran, alasannya tentu saja dengan kecerdasan buatan dapat menembus batas-batas yang tidak dapat dilakukan manusia dalam pembuatannya jika dibandingkan dengan seni konvensional. Namun, sebagai seorang guru yang perlu membersamai tumbuh kembang murid melintasi kodrat zamannya, perlu juga untuk membekali murid mengenai kelemahan dan kebermanfaatan AI agar lebih bijak dalam berteknologi.
Di tengah kontroversi penggunaan AI dalam bidang seni khususnya seni rupa di jenjang SMP sebenarnya guru tidak perlu khawatir bahwa karya seni rupa konvensional akan tergantikan dengan karya seni rupa digital AI, karena semua memiliki karakteristik dan manfaat masing-masing. Hal yang perlu dilakukan oleh seorang guru adalah mendesain sebuah pembelajaran yang mengkonstruksikan pengetahuan bahwa AI bisa digunakan untuk mengatasi sebuah masalah pembelajaran, bukan satu-satunya media yang digunakan untuk berkarya seni.
Baca Juga: Menari di Atas Stigma: Kisah Sanggar Omah Ndhuwur yang Mengubah Wajah Mbangunrejo
Seperti yang telah saya lakukan pada pembelajaran di kelas 8 UPT SMP Negeri 12 Gresik, dimana murid diajarkan untuk membuat poster dengan media generator AI. Latar belakang yang mendasari dalam pembuatan poster adalah murid kebanyakan mencari referensi dan contoh-contoh model gambar yang bisa dibuat dengan cara berselancar di google atau mesin pencarian yang lain, sehingga hasil karyanya pun kurang original baik dalam segi tema, elemen gambar, maupun pewarnaan. Selain itu sebenarnya murid memiliki ide-ide yang luar biasa pada saat menggambar sebuah poster, namun banyak keterbatasan yang dialami murid seperti kesusahan dalam memvisualisasikan ide, kurang memahami proporsi, dan kurang memiliki teknik yang tepat ketika menggambar. Hal tersebut membuat capaian pembelajaran tidak tercapai dengan baik dan waktu yang digunakan untuk pembelajaran akan semakin panjang mengingat dalam proses menggambar poster, murid sering terjadi trial and error.
Pembelajaran yang saya lakukan untuk mengatasi kontroversi penggunaan AI dalam pembelajaran seni rupa di UPT SMP Negeri 12 Gresik adalah melaksanakan pembelajaran pembuatan poster secara konvensional terlebih dahulu, disini peran saya adalah memfasilitasi dan mengarahkan murid baik dalam visualisasi ide, pembuatan elemen bentuk, dan warna pada poster hingga menjadi sebuah karya seni rupa berbentuk poster. Kemudian untuk mengonstruksikan pemahaman kepada murid, saya akan merefleksikan pembelajaran dengan memberikan pertanyaan seperti: bagaimana perasaan murid ketika menggambar poster?, apa saja kelemahan membuat poster secara konvensional yang sudah dilaksanakan?, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan murid dalam pembuatan poster secara konvensional?. Di sini guru berperan untuk memberikan penguatan bahwa murid bisa menggunakan AI sebagai media yang mampu membantu menyelesaikan permasalahnya yaitu kurangnya originalitas karya dan kurang mampu memvisualisasikan ide menjadi sebuah gambar.
Langkah pembelajaran selanjutnya yaitu saya akan memberikan tutorial bagaimana cara mengubah ide menjadi sebuah gambar hanya dengan memasukkan teks deskripsi gambar yang diinginkan. Pada pelaksanaan pembelajaran ini saya memakai generator AI online dimana murid memberikan perintah teks yang berisi ide gambar yang ingin dibuat, kemudian AI akan mengeneratekan teks tersebut menjadi sebuah visualisasi gambar, murid juga bisa menyesuaikan gaya gambar, ukuran, dan menambahkan filter warna sesuai dengan ide mereka. Kemudian untuk membuat gambar AI tersebut menjadi sebuah poster, saya memberikan tutorial menggunakan canva dengan cara mengombinasikan gambar dan tulisan dengan tema yang disepakati. Melalui canva murid belajar untuk membuat karya poster dengan prinsip-prinsip seni yaitu proporsi dan komposisi, pada kegiatan ini murid lebih bebas dalam berkreatifitas dan bereksperimen untuk menyesuaikan ukuran, memposisikan gambar, dan mengatur proporsi semua elemen pada karya poster yang dibuatnya.
Baca Juga: Menulis Adalah Belajar
Diakhir pembelajaran, guru perlu memberikan penguatan bahwa hasil karya poster menggunakan AI bukan berarti lebih baik dan lebih bagus daripada karya poster yang dibuat secara konvensional, karena memiliki kelemahan dan keunggulan serta indikator keindahan yang berbeda seperti sapuan kuas, goresan tinta, dan pewarnaan yang dibuat secara konvensional memiliki nilai emosi, motivasi, dan nilai-nilai intrinsik seniman yang membuatnya. Kemudian guru juga memberikan penguatan bahwa AI bukan digunakan untuk menggantikan manusia membuat sebuah karya namun bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah yang timbul dalam pembuatan karya seni seperti berlatih membuat gambar dengan proporsi yang tepat, membuat kombinasi warna maupun berlatih membuat komposisi yang seimbang antara elemen visual yang dibuat. Dengan begitu sinergi antara Seni dan AI dapat memperkuat kreatifitas siswa dalam mengembangkan kemampuannya dalam belajar.
Baca Juga: 16.273 Tendik Jatim Jadi Peserta Terbanyak Gebyar Pembelajaran TIK
*Nur Fatahna Ni’mah, S.Pd., M.Pd
Fasilitator Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 11 Kab. Gresik
Editor : Redaksi