Kebenaran Yang Tidak Absolut

Reporter : -
Kebenaran Yang Tidak Absolut
Wakhidil Kohar, S.Ag. Pegiat dan Pemberdaya Desa di Gresik


Gresik, JatimUPdate.id : Fenomena baru akan terjadi ketika sebuah kitab taklim muta' lim langsung ditafsiri kebenarannya tanpa interprestasi terhadap problem pernyataan penentuan penomoran kesatu atau kedua, atau kegundahan sang pengarang terhadap penomor urutan antara guru dan orang tua tentang status kemulyaan atau kehormatan ditujukan pertama kali.

Kerancuan pertama,
Kelayakan secara permanen sebenarnya orang tua adalah posisi pertama ketawadukan itu ditujukan. Dan. Secara gamblang kalau urutan dimulai dari sang pencipta maka status orang tua menjadi yang ketiga, yaitu Allah, Nabi Allah. Ketiganya Orang tua.

Baca Juga: Pemdes Sidorejo Gelar Musrenbangdes Guna Susun RKP 2026

Akan tetapi kerancuan yang ditulis oleh kitab taklim mutakalim guru menjadi nomor satu kemudian orang tua yang nomor dua, itu bukan berarti sebuah ijtihad tanpa alasan,
Fenomena baru akan terjadi ketika sebuah kitab taklim muta lim langsung ditafsiri kebenarannya tanpa interprestasi terhadap problem pernyataan penentuan penomoran kesatu atau kedua, atau kegundahan sang pengarang terhadap penomor urutan antara guru dan orang tua tentang status kemulyaan atau kehormatan ditujukan pertama kali.

Alasan pertama apabila menomorkan ke satu orang tua maka dipastikan bagi non muslim tidak ada yang muallaf. Salah dan benar posisi orang tua menjadi mutlak .

Disini terdapat dilema tentang pernyataan dalam kitab taklim mutakalim yang diyakini kebenarannya, sehingga menomorkan guru sebagai posisi pertama,
Walaupun begitu tetap menjadi dilema besar apabila seorang guru tidak mempunyai kebijaksanaan pandangan. Atau kita bedah dulu apa arti dari kata guru itu sendiri. Sehingga mendapatkan kesimpulan kebijaksanaan yang mutlak.

Alasan kedua, fenomena akan berubah,
Apabila pelaksanaan terhadap pernyataan bahwa guru adalah yang pertama, maka dipastikan ada ajaran agama yang melupakan orang tua sebab kepentingan doktrin guru.

Orang tua secara otomatis menjadi budak untuk bertanggung jawab pada pembiayaan dari proses pendidikan itu sendiri.

Alasan ketiga,
Kita melupakan bahwa orang tua adalah guru perdana dalam kehidupan, yang mengajari kita minum, mandi, dan perbahasa dalam keseharian.

Baca Juga: Pemdes Tumpakrejo Lakukan Penyaluran BLT, Tekan Kemiskinan Ekstrim

Kutulis ini sebab kehawatiranku terhadap fenomena yang terjadi dalam system pendidikan tertentu atau kelompok tertentu yang mampu mendoktrin sehingga dapat menjauhkan dari orang tua yang seharusnya memperoleh penghargaan yang pertama dunia dan akhirat, yang menjadi peringkat ketiga apabila diurutkan mulai dari 1. sang pencipta, 2. NabiNya, 3. Orangtua.

Dengan interprestasi memahami hukum itu, kebenaran akan ada bila tidak bertentangan dengan urutan sumber hukum diatasnya.

Pertanyaan,
Manusia modern akan menggurukan IA atau tehnologi sebagai system pencarian informasi. Disebut atau tidaknya sebagai guru, tetaplah tehnologi informasi robotik itu secara tidak sadar akan digurukan atau dijadikan guru.

Lalu bagaimana status orang tua oleh manusia modern, apakah pesan hadist akan terjawab yaitu menjadi budak pada akhir zaman.

Baca Juga: Kemendesa Bakal Buka Rekruitmen Pendamping Desa

Maka sebelum terlambat, kita tinjau kembali doktrin ini. Sebab tidak semua golongan akan mampu menafsirkan yang mempunyai kebenaran yang absolut.
24 Desember 2024

Wakhidil Kohar, S.Ag.

*Pegiat dan Pemberdaya Desa di Gresik*

Editor : Yuris. T. Hidayat