Oleh: Ponirin Mika
Ketua Lakpesdam MWCNU Paiton dan Anggota Community of Critical Social Research Probolinggo, Jurnalis JatimUPdate.id.
Baca juga: Runtuhnya Benteng Moral HMI : 79 Tahun Mengasah Diri dan Menjaga Arah
Paiton, Probolinggo, JatimUPdate.id : Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah organisasi yang lahir dengan semangat keislaman dan keindonesiaan.
Sejak didirikan oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947, HMI telah menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam bingkai kebangsaan.
Organisasi ini tidak hanya sebagai wadah intelektual mahasiswa muslim, tetapi juga sebagai entitas yang memiliki peran penting dalam sejarah politik dan sosial Indonesia.
Dalam perkembangannya, HMI mengalami berbagai dinamika. Salah satu babak penting dalam sejarahnya adalah perlawanan terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI) di era 1960-an.
PKI dianggap memiliki ideologi yang bertentangan dengan semangat keislaman yang diusung oleh HMI.
Pertarungan ideologi ini menjadikan HMI sebagai organisasi mahasiswa yang militan dalam mempertahankan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan.
Namun, di era kontemporer, tantangan yang dihadapi HMI bukan lagi ideologi komunisme, melainkan godaan pragmatisme politik.
Banyak kader HMI yang kemudian terserap dalam sistem politik praktis dan kehilangan idealisme perjuangannya.
Seiring dengan menguatnya politik transaksional, sebagian kader HMI terjebak dalam kepentingan sesaat, menjadikan organisasi ini lebih condong ke arah kendaraan politik daripada lembaga kaderisasi intelektual.
Dalam buku HMI Menjawab Tantangan Zaman, disebutkan bahwa HMI harus tetap berada di jalur perjuangan intelektual dengan tetap menjaga marwah keislaman dan keindonesiaannya.
Organisasi ini harus mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai organisasi kader yang melahirkan pemimpin berintegritas.
Victor Immanuel Tanja dalam salah satu kajiannya menyebutkan bahwa HMI menghadapi dilema besar antara mempertahankan idealisme atau terjebak dalam rayuan kekuasaan.
Menurutnya, jika HMI ingin tetap eksis sebagai organisasi yang diperhitungkan, maka harus berani menegaskan posisi sebagai lokomotif intelektual mahasiswa, bukan sebagai alat politik praktis.
Sementara itu, Ridwan Saidi, seorang mantan aktivis HMI yang juga pengamat sosial, mengkritik fenomena pragmatisme dalam tubuh HMI.
Menurutnya, banyak kader HMI yang lebih sibuk mencari keuntungan politik daripada memperjuangkan visi rahmatan lil-alamin yang menjadi dasar pendirian organisasi ini.
Ia mengingatkan bahwa HMI harus kembali pada fungsinya sebagai lembaga kaderisasi intelektual yang independen.
Di sisi lain, Drs. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag., dalam bukunya Islam Mazhab HMI: Tafsir Tema Besar Nilai Dasar Perjuangan (NDP), menekankan pentingnya HMI untuk tetap berorientasi pada Islam yang inklusif dan modern.
Ia menegaskan bahwa HMI harus menjadi rumah besar bagi intelektual muslim yang berpikir kritis dan mampu menawarkan solusi bagi umat dan bangsa.
Dalam konteks kekinian, HMI menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan independensinya.
Jika tidak mampu menjaga marwah organisasi, maka HMI hanya akan menjadi alat politik praktis bagi kepentingan elite tertentu.
Untuk itu, kader-kader HMI perlu memahami bahwa tujuan utama mereka adalah membangun masyarakat yang adil dan beradab, bukan sekadar mencari jabatan politik.
Baca juga: HMI dan GMNI: Survival dalam Gerak Zaman, Melawan “Serakahnomics” sebagai Musuh Baru Republik
HMI harus kembali kepada khittah perjuangannya sebagai organisasi kader yang mencetak pemimpin intelektual dan berintegritas.
Dalam berbagai catatan sejarah, HMI telah melahirkan banyak pemimpin besar, baik di ranah pemerintahan, akademik, maupun sosial.
Namun, regenerasi kepemimpinan ini akan terhenti jika kader-kadernya lebih memilih jalan pragmatisme daripada perjuangan ideologis.
Kehadiran buku Islam dalam Pusaran Kekuasaan juga memberikan perspektif bahwa HMI memiliki peran strategis dalam dinamika politik nasional.
Namun, peran tersebut harus tetap berlandaskan pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil-alamin, bukan kepentingan jangka pendek yang merusak moralitas kader.
Dalam buku HMI dan Pergulatan Ideologi, dijelaskan bahwa HMI harus terus melakukan introspeksi terhadap arah perjuangannya.
Jika organisasi ini ingin tetap relevan, maka ia harus menempatkan nilai intelektualitas sebagai aspek utama dalam setiap gerakan yang dilakukannya.
Salah satu tantangan terbesar HMI saat ini adalah bagaimana mengelola kader agar tetap memiliki semangat pengabdian yang tulus.
Dalam berbagai penelitian, banyak ditemukan bahwa kader HMI yang terjun ke politik sering kali mengalami degradasi nilai akibat sistem yang koruptif.
Hal ini tentu menjadi ironi bagi organisasi yang sejak awal berdiri berkomitmen mencetak pemimpin yang berintegritas.
Keberadaan HMI di dunia kampus juga semakin dipertanyakan, mengingat semakin banyak organisasi mahasiswa lain yang juga menawarkan konsep kaderisasi yang menarik.
Baca juga: Dies Natalis ke-79, HMI Bondowoso Tegaskan Komitmen Perkuat Nilai Perjuangan dan Perkaderan
Untuk itu, HMI harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ruh perjuangannya.
Reformasi dalam tubuh HMI menjadi suatu keharusan. Pola kaderisasi yang lebih berbasis intelektualitas dan nilai-nilai Islam harus dikedepankan, bukan sekadar loyalitas terhadap individu atau kelompok tertentu.
Jika hal ini dapat dilakukan, maka HMI akan tetap menjadi organisasi yang diperhitungkan.
HMI juga perlu melakukan evaluasi terhadap pola hubungan dengan kekuasaan.
Jika hubungan tersebut hanya bersifat pragmatis tanpa nilai perjuangan, maka cepat atau lambat HMI akan kehilangan daya tariknya sebagai organisasi yang melahirkan pemimpin visioner.
Di era digital, HMI harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai alat perjuangan.
Narasi perjuangan HMI harus terus disuarakan melalui berbagai platform agar tetap relevan bagi generasi muda.
Kader-kader HMI harus memahami bahwa menjadi bagian dari organisasi ini bukan sekadar tentang mendapatkan akses politik, tetapi tentang bagaimana memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.
Jika HMI ingin tetap bertahan sebagai organisasi mahasiswa yang berpengaruh, maka ia harus berani melakukan transformasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya. Keserakahan politik tidak boleh mengalahkan idealisme perjuangan.
Sebagai penutup, HMI harus kembali kepada esensi perjuangannya: mencetak kader-kader yang idealis, pencipta, dan pengabdi.
Tanpa hal ini, HMI hanya akan menjadi sejarah yang kehilangan relevansi dalam perjalanannya. (pm/yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat