Kerja Sunyi Demi 604 Ribu Suara: KPU Bondowoso Kawal Hak Pilih Warga

Reporter : M Aris Effendi
Kolaborasi dalam sunyi: KPU Bondowoso dan sejumlah instansi berfoto usai pleno pemutakhiran data pemilih, Rabu (2/7/2025).

 

Bondowoso, JatimUpdate.id, –Rabu pagi yang teduh, 2 Juli 2025, aula KPU Bondowoso tampak sunyi, berbeda dengan suasana saat masa tahapan pemilu.

Baca juga: BREAKINGNEWS: Jembatan Sukowiryo di Jalan Mastrip Bondowoso Ambrol Satu Sisi, Akses Dibatasi Ketat

Tak ada calon, tak ada tim sukses, apalagi relawan. Yang ada hanya meja-meja rapat, tumpukan dokumen, dan wajah-wajah serius dari perwakilan Bawaslu, Dispendukcapil, Lapas, Kodim, hingga Polres. Di tengah kesunyian itu, KPU Bondowoso menggelar rapat pleno terbuka.

Bukan untuk menetapkan hasil pemilu, melainkan sesuatu yang lebih mendasar—memastikan validitas data pemilih Bondowoso, memastikan siapa saja warga yang masih punya hak untuk memilih.

Lewat Rapat Pleno Terbuka Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan (PDPB) Triwulan II Tahun 2025, KPU Bondowoso menetapkan sebanyak 604.333 pemilih, terdiri dari 292.293 laki-laki dan 312.040 perempuan, yang tersebar di 23 kecamatan dan 219 desa/kelurahan.

“Paling dinamis itu Kecamatan Kota Bondowoso. Sekitar 10 persen pemilih baru se-Kabupaten tercatat di sana,” ujar Ketua KPU Bondowoso, Sudaedi, usai pleno.

Dari hasil pemutakhiran, terdapat 3.994 pemilih baru, sementara 794 nama dihapus dari daftar karena Tidak Memenuhi Syarat (TMS), mayoritas karena meninggal dunia.
Pemutakhiran ini menjadi bagian dari upaya menjaga akurasi data pemilih Bondowoso menjelang pemilu mendatang.

Bekerja Saat Sunyi, Menjaga yang Tak Terlihat

Meski tak sedang dalam tahapan pemilu, kerja pemutakhiran terus berjalan. Sayangnya, kesadaran masyarakat untuk melaporkan perubahan data masih minim.

“Sampai sekarang belum ada respons dari masyarakat. Mungkin karena belum masuk tahapan,” kata Imroatul Husnah, Komisioner KPU Divisi Perencanaan Data dan Informasi.

Padahal, setiap data yang tak diperbarui bisa menimbulkan masalah besar saat pemilu nanti. Nama yang mestinya tak lagi memilih bisa muncul. Sebaliknya, yang berhak justru tak terdaftar.

“Kadang masih kita temukan warga yang sudah meninggal tapi masih tercantum. Itu karena pihak keluarga tidak melaporkan. Di sinilah pentingnya keterlibatan masyarakat,” lanjut Imroatul.

Untuk menjaga akurasi, KPU berkoordinasi dengan berbagai pihak: Dispendukcapil, Lapas, TNI, dan Polri. Bahkan, akhir tahun nanti, akan ada tabrak data nasional oleh KPU RI, serta Coktas (Coklit Terbatas) di triwulan berikutnya.

Baca juga: Retribusi Administrasi Dihapus, Raperda Pajak Baru di Bondowoso Permudah Layanan Publik

“Bawaslu seperti biasa melaksanakan tugas pencegahan dan pengawasan melekat. Kami sangat mengapresiasi masukan, saran, dan imbauan dari rekan-rekan Bawaslu Bondowoso,” tambah Sudaedi.

“Kami juga meng-update data dari Lapas, Polres, dan Kodim. Dukungan penuh dari instansi-instansi tersebut sangat kami apresiasi.”

*Bawaslu: TMS Karena Meninggal Sudah Di-update, TNI/Polri Menyusul*

Dari sisi pengawasan, Bawaslu Bondowoso memastikan telah menyerahkan data TMS ke KPU.

“Total ada 794 pemilih yang dihapus karena meninggal dunia. Untuk data TNI dan Polri masih belum masuk dari instansi. Tapi mereka dipastikan tidak masuk DPT Pemilu nanti,” ujar Solikhul Huda, anggota Bawaslu Bondowoso.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk aktif mengecek namanya secara mandiri lewat situs https://cekdptonline.kpu.go.id.

“Kalau merasa sudah punya KTP dan usia cukup tapi belum terdaftar, bisa langsung lapor ke Bawaslu,” katanya.

Baca juga: Bupati Bondowoso Resmi Buka Festival Ramadhan 2026, Dorong Ekonomi Rakyat dan Pelestarian Budaya

*Demokrasi Tak Hanya Soal Pencoblosan*

KPU Bondowoso menegaskan, pemutakhiran ini bukan hanya kerja administratif, tapi bagian dari menjaga hak konstitusional warga.

“Kami ingin tiga hal: mengurangi potensi masalah saat pemilu, meningkatkan akurasi, dan membangun kesadaran publik,” tegas Sudaedi.

Sebab di balik angka 604.333 itu, ada suara yang perlu dipastikan tak hilang, tak tergeser, dan tak dimanipulasi. Dan di balik satu nama dalam daftar, ada satu hak yang mesti dijaga.

Dengan kerja sunyi ini, KPU Bondowoso berusaha memastikan data pemilih Bondowoso selalu terbarui dan valid.

Demokrasi memang tak selalu ramai. Kadang ia hadir diam-diam lewat rapat kecil di aula sempit, melalui tumpukan data yang harus diverifikasi satu per satu. Tapi justru di situlah ia dijaga agar tetap hidup. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru