Dekonstruksi; Kyai Sakti

avatar Yuris. T. Hidayat
  • URL berhasil dicopy

Oleh AZKA MUKMININ *


JatimUPdate.id - Apa yang paling membahagiakan, bagi kalangan mahasiswa saat studi ? Ngekos gratis, Induk semang baik hati, dianggap calon menantu pula. Bukan itu yang hendak saya ceritakan.

Numpang tinggal di Kyai Khos. Sebut nama KH. Muchidz Muzadi, salah satu Rois Aam mas kepemimpinan Gus Dur. Saya berkesempatan tinggal (nunut) di rumah beliau. Masjid Sunan Kalijaga, tepat berdiri di sampingnya. Sungguh sempurna. Cukup tiga langkah, sampai sudah di tangga pertama Masjid Sunan Kalijaga depan kampus Univ. Jember.
Rumah KH. Muchid Muzadi tergolong sederhana. Bagi seorang Kyai yang pernah menjabat plt. Walikota Tuban. 

Pengurus Pusat NU yang dikenal PB (Pengurus Besar) NU. Tinggal di Jember, tapi sesekali harus rapat ke JakartabAtau Surabaya bisa juga Yogyakarta. 

Kala itu tahun 90 belum ada WA, apalagi zoom meet. Alat komunikasi paling keren ya, telepon rumah. Uniknya, saat beliau bepergian, telepon itu tidak dalam kondisi terkunci. Termasuk perpustakaan pribadi dengan ribuan kitab, majalah Ulumul Qur’an yang selalu kami sasar. 

Tapi kami semua tidak ada satupun yang berani menggunakannya. Termasuk Thohir Affandi (marbot dan mahasiswa), kelak memperoleh beasiswa Harvard University dan menjadi pejabat Bappenas. Juga Ali Muafa (marbot dan mahasiwa) pula, berperawakan tinggi dan lumayan ganteng. Kelak menjadi Direksi sebuah Bank Syariah Nasional. Kalau sudah begini hanya dua kata. Barokahnya Kyai.

Tamu Kyai banyak tokoh Nasional. Cak Nun kadang datang saat malam hari habis Isya’ selesai menjadi nara sumber. Baik di kampus maupun di event pengajian akbar. Ada Kang Sobar,i saat itu menjabat Direktur Kantor Berita Antara dan Budayawan, juga kolumnis. Seniman sekelas D.

Zawawi Imron , sang Celurit Emas Sumenep tidak kurang dari emapt kali bertandang. Dua kali kunjungan saya antar dengan berboncengan Vespa PX. Penulis dan peneliti berkebangsaan Belanda, Martin Van Brussent, penulis Toriqoh Naqsabandiah, Orientalis yang kelak menjadi Muallaf. 

Paling heboh. Tamu yang satu ini. Gus Dur. Datangnya tak diduga, malam hari pula. Kadang jam 02.00 atau jam 01.00 dini hari. Belakangan baru saya ketahui, ruang geraknya selalu di pantau BIN. Terlebih saat persiapan Muktamar NU ke 27 di Situbondo. Lima tahun berikutnya Muktamar di gelar di Krapyak Yogyakarta tahun 1989. 

Cara bertandang Gus Miek juga mirip Gus Dur. Silent, nyaris tak terdengar. Tahu tahu Kyai sudah memanggil kami untuk mempersiapkan teh, kopi dan camilan rebus ala polo pendem. Juga gorengan yang tinggal kami belanja di sepenjang Jl. Kalimantan Kampus Unej.

MUKTAMAR NU DI SITUBONDO
Cerita sukses Muktamar Situbondo meninggalkan juga banyak cerita. Kearifan lokal bagaimana cara Kyai As’ad Syamsul arifin selaku Sohibul baid (Tuan Rumah) dalam menjamu tamunya. Ada penggalan kisah saat rombongan para pejabat bersama orang nomer satu saat itu. Presiden Soeharto yang datang langsung ke Situbondo, untuk membuka perhelatan terbesar lima tahunan bernama Muktamar. 

Kyai As’ad selaku tuan rumah telah mempersiapkan penyambutan di ndalem kasepuhan (Ruang Utama) Kyai yang tentu telah di steril terlebih dahulu.

Tibalah saat jamuan awal yakni welcome drink (sajian minuman) layaknya tamu tamu di wilayah Jawa timuran. Pada saat itu, kyai As’ad menawarkan minuman apa yang hendak dinikmati pak Presiden ?
Di meja tengah tersedia teko /ceret tanggung dengan gelas gelasnya yang baru, bersih dan bening. “Ngunjuk nopo Pak Presiden ? Tanya Sang Kyai. Di jawab pendek teh hangat saja, maka di tuangkanlah teko ke gelas tadi keluarlah teh. Selanjutnya tawaran ke dua jatuh ke Pak Harmoko. Ngunjuk Menopo Bapak Menteri ? Kopi saja , sekaligus mengusir kantuk.

Dituangkanlah dari teko yang sama. Keluarlah Kopi hanngat memenuhi gelas yang bening. Berturut pak Moerdiono mengajukan susu. Maka dari teko yang sama keluarlah, susu putih yang masih hangat. Begitulah selanjutnya sampai tamu ke sembilan (9). Sebuah angka yang keramat bagi kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Yakni bintang sembilan dan bola dunianya.

Cerita ini berkembang luas di kalangan masyarakat luas, hingga saya pun mendengarnya. Selanjutnya memperbincangkan dan mendiskusikannya.

Memang momentum Muktamar 27 di Situbondo, sempat di warnai gejolak pro kontra atas keputusan negara menjadikan Pancasila sebagai satu satunya azas. Kelak dikenal dengan doktrin Azas Tunggal lewat UU No.3 /1985.

 Muktamar NU di Situbondo, melahirkan kepemimpinan NU yang lebih segar. Lebih modern, sebagai tongkat estafet dari KH. Idham Chalid yang telah memimpin NU selam 30 tahun. Isu sentralnya adalah kembali ke Khitthah. 

Termasuk yang paling strategis adalah penerimaan Pancasila sebagai azas organisasi. KH. Achmad Siddiq menyatakan selaku Rais Aam, bahwa secara Teologis Pancasila tidak bertentangan dengan pondasi organisasi, kompatibel malah. Pancasila disebutnya sebagi bagian dari Ukhuwah Wathoniyah. 

Bahasa humor atau anekdot KH. Muchid Muzadi, …”setiap hari ibarat makanan, Pancasila itu sudah kita kunyah. Kalau lalu menimbulkan syak…ragu, yo ojo di telan (leq)..di emut wae. Begitulah cara Kyai Muchid Muzadi mencairkan suasana. Hal sama juga saat terjadi debat yang keras, sampai larut malam. Sehingga para jurnalis yang meliput memberi judul berita agak provokatif.

Para Kyai gegeran di medan diskusi Batsul Massail (Forum Pembahasan masalah ) aktual, baik sosial, politik dan ekonomi. 

Apa kata Kyai Muchidz, ojo kuatir kyai gegeran kui mengko akhire ger ger an.
(Kyai berdebat keras itu ujungnya saling tertawa).

MISTERI TEKO KYAI
Keunikan Kyai As’ad dalam kehidupan sehari hari memang sering menyisakan tanya. Banyak kisah kearifan. Peristiwa yang sulit dinalar itu terjadi di lingkungan masyarakat Situbondo. Tapi bagi saya. Cerita keajaiban / misteri teko ini harus saya konfirmasi ke Kyai Muchidz. Hingga tibalah bada subuh selesai sholat berjamaah. 

 Bersama Kang Arif dan seingatku ada beberapa teman aktivis. Kita serasa menggeruduk Kyai dengan menanyakan perihal teko yang bisa mengeluarkan isi susu, teh dan kopi.
Kita memberanikan diri bertanya. Lucunya, kita balik di tanya. Kalian bertanya dalam kapasitas apa ? Umat kebanyakan atau awam ? Atau apa ?
Sejenak kita semua terdiam bungkam. Salah satu dari kami menimpali. Yaa..sebagai masyarakat awam Kyai,”jawab kita nyaris serentak. 
Kalau jawabmu itu, benarlah kisah itu. Ganti kita celingukan dan saling berpandang mata.

Kalau kita sebagai seorang cendikiawan ? Sebutlah Ulul Albab, atau masyarakat akademis, bagaimana Kyai ?
Seketika Kyai mengajak kita masuk ke ruang tamu . Ruang tamu utama untuk menerima tamu tamu penting, macam Gus Dur, Cak Nun, D.Zawawi Imron, Kang Sobari, Martin Van Brussent, Ali maskur muda waktu itu.

Berceritalah panjang lebar Kyai soal sosial politik, Hankam dan Budaya Bangsa.
Serasa kami memperoleh perspektif yang utuh seperti Kalaideskop Indonesia.
Disebutlah diksi High Politics (politik tingkat tinggi), NU sudah kembali ke Khittoh, jadi tidak lagi berada dalam kancah politik praktis.
Yang bisa di lakukan oleh NU adalah bermain dalam level High Politics. Maka di buatlah Satire /pasemon politik tingkat tinggi dari kisah teko tadi.

NU ibarat teko adalah memiliki isi (massa) yang mayoritas. Oleh sebab itu arah negeri ini , NU turut memberi warna. Akankah negeri ini menjadi kopi, menjadi susu atau menjadi teh. Peran strategis NU tidak boleh di pandang sebelah mata. Pasemon  (satire) politik adalah produk kearifan lokal dalam mengartikulasikan sebuah kemauan politik (political will). Betapa santun, cantik dan kayanya khazanah satire politik pra ulama, para Kyai. 

Jika hari ini kita lebih banyak menemukan cacian, hujatan politik. Wajiblah kita kembali bercermin, bahwa pernah ada satu masa betapa lewat pasemon saja cukup untuk merubah arah sebuah bangsa atau umat. Pasemon hari ini telah menjadi kata yang mewah. #

Penulis adalah Santri kalong Kyai Muchidz Muzadi. Saat ini membina , pegiat Dakwah, Rumah Tahfidz JII (Jember Islamic Institute).