Surabaya, JatimUPdate.id – Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Jawa Timur kembali menggelar kegiatan edukatif bertajuk webinar sejarah pada Jumat malam, 26 Juli 2025. Mengangkat tema “Pekerja Anak pada Masa Kolonial”, acara ini menjadi ruang refleksi kritis atas praktik eksploitasi anak-anak Indonesia yang terjadi di masa penjajahan.
Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB ini menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi, yakni Dr. Hayu Adi Darmarastri dari Universitas Sebelas Maret dan Dr. La Ode Rabani dari Universitas Airlangga. Keduanya membedah peran dan posisi anak-anak dipekerjakan dalam sistem ekonomi kolonial, mulai dari sektor perkebunan, perkapalan, pertambangan, hingga industri rumah tangga .
Acara dibuka secara resmi oleh Host, Ilham Baskoro dari Universitas Airlangga. Dilanjutkan dengan sambutan Ketua Umum MSI Jawa Timur, Prof. Dr. Purnawan Basundoro. S.S. M. Hum. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya menghadirkan narasi sejarah alternatif yang selama ini jarang mendapat sorotan.
Setelah sesi pembukaan dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, moderator Galang Patria Dwipantara, S.Pd. dari SMA Negeri 1 Kalianget Sumenep memandu jalannya diskusi utama. Dr. Hayu Adi Darmarastri membuka sesi materi dengan mengulas bentuk-bentuk kerja anak atau pekerja di bawah umur terutama di perkebunan. Beliau menjelaskan realita eksploitasi anak dipekerjakan demi upah murah.
“Anak-anak kerap dilibatkan dalam kerja fisik yang dianggap remeh tanpa upah layak, dan ini justru lebih menguntungkan pelaku usaha serta merugikan pekerja dibawah umur. Apalagi aturan terkait pekerja anak pada masa Hindia Belanda tidak diterapkan sebagaimana mestinya,” terang Dr. Hayu dalam pemaparannya.
Sesi dilanjutkan dengan pemaparan Dr. La Ode Rabani yang menyoroti pekerja anak di luar Jawa pada masa kolonial. Beliau menjelaskan bahwa masuknya Politik Etis justru memberikan ketimpangan ekonomi hingga membuat anak harus ikut mencari uang.
“Tidak hanya sebagai tenaga kerja, anak-anak juga menjadi alat penggerak ekonomi kolonial. Bahkan anak seumur 6 tahun sudah dilibatkan dalam lingkaran kapitalis kolonial. Oleh karena itu, adanya aturan dan larangan mempekerjakan anak agar tidak dieksploitasi sejak dini, sebab di masa depan anak menjadi penerus generasi dalam memangun peradaban bangsa,” ungkapnya.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 21.00 WIB ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, peneliti, guru sejarah, hingga masyarakat umum. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang masuk selama sesi tanya jawab.
Menutup pemaparan materi, moderator menyampaikan harapan agar terdapat perubahan paradigma pada peran keluarga serta mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk memberikan perlindungan hukum kepada anak Indonesia agar tidak tereksploitasi seperti pada masa penjajahan. Host kemudian mengakhiri webinar dengan ajakan untuk terus belajar tema sejarah yang kerap terlupakan.
Acara ini juga disiarkan langsung melalui kanal MSI Jatim TV dan mendapat tanggapan positif dari peserta yang berharap diskusi semacam ini dapat diadakan secara rutin.
Reporter: Ilham Baskoro
Editor : Redaksi