Jakarta,JatimUPdate.id – Lagu “Pesawat Tempurku” yang dirilis Iwan Fals pada 1990 bukan hanya kisah percintaan, melainkan juga satir sosial yang tajam.
Liriknya memadukan rayuan sederhana dengan kritik keras terhadap penguasa dan ketimpangan ekonomi.
Baca juga: Resensi Novel: Sengsara Membawa Nikmat
Sejak bait awal, Iwan membangun suasana romantis dengan diksi ringan: bermain gitar, senyum, hingga rayuan pada sosok perempuan.
Namun, metafora “pesawat tempur” yang dipakai untuk menggambarkan perempuan itu, menyiratkan sesuatu yang singgah cepat dan sulit diraih.
Kekuatan lagu ini terletak pada imaji yang dihadirkan. Ada imaji visual tentang perempuan yang lewat dan tersenyum, imaji auditif dari dentingan gitar, hingga imaji kinestetik saat pesawat tempur mendarat di sanubari.
Baca juga: Musik Rock Bicara: Dari Korupsi, Fitnah, hingga Rakyat yang Cuma Bisa Bermimpi
Imaji itu berpadu dengan kata konkret seperti penguasa, uang, tentara, perang yang membawa pendengar masuk ke ruang kritik sosial.
Bagian repetisi “penguasa, beri hamba uang” menjadi klimaks lagu. Seruan yang diulang-ulang itu terdengar seperti jeritan rakyat miskin yang menuntut keadilan.
Iwan Fals menggunakan gaya bahasa satir, simile, dan metafora untuk menegaskan perlawanan terhadap kekuasaan yang lalai pada nasib warganya.
Baca juga: Lima Lagu Religi Indonesia Versi Rock yang Sarat Makna Spiritual
Tema besar lagu ini cinta dan kritik sosial yang dipadukan secara cerdas. Ada humor dan rayuan, tapi berubah getir saat menyentuh realitas perang dan kemiskinan.
Perpaduan itu menjadikan Pesawat Tempurku tetap relevan hingga tiga dekade kemudian.
Editor : Redaksi