Surabaya,JatimUPdate.id - Sesampainya di Stasiun Kereta Api Tugu, hawa Jogja menyambut dengan aroma tanah lembap dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi. Aku dan Nanda melangkah turun dari gerbong, menatap ke arah deretan orang yang menjemput keluarga mereka.
Di antara kerumunan itu, terlihat satu sosok yang melambaikan tangan penuh semangat, Lucyana Li. Anak tiriku yang kini sudah beranjak remaja.
Baca juga: Analisis Lirik “Tangguh” Kobe: Semangat Perlawanan dari Jiwa yang Tak Mau Tumbang
Dari jauh ia berlari kecil menghampiri kami. “Ayah! Bibi!” serunya, suaranya renyah seperti dulu ketika masih bocah.
Ia memelukku erat, lalu berpindah ke Nanda yang langsung memeluk balik tanpa ragu, bahkan menciumnya berkali-kali.
Aku menatap keduanya dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Di pelukan itu tersimpan kerinduan yang panjang dan kehangatan yang nyaris terlupakan.
Aku tahu, Nanda sudah menganggap Lucy seperti darah daging sendiri. Hubungan mereka tak hanya karena aku, tapi juga karena mendiang ibunya yang dulu bersahabat dekat dengan Nanda.
Lalu kami berjalan ke luar stasiun mencari tempat makan. Lucy bercerita tentang sekolahnya juga keluarga ibunya. Di sebuah warung kecil dekat stasiun, kami duduk bertiga sambil menunggu makanan datang. Aku pun bertanya pada Lucy
“Tadi kamu naik apa ke sini, Nak?”
“Naik taksi online, Yah. Aku sudah biasa kok sering jalan sendiri sekarang,” jawabnya santai.
Nanda menatapnya heran. “Sendirian terus? Nggak sama teman?” Lucy menghela napas pelan.
“Dulu sempat, Bi. Tapi… waktu itu kami jalan-jalan, malah diganggu segerombolan anak cowok. Teman-temanku kabur, aku ditinggal. Aku sempat dikeroyok. Untung ada orang lewat yang nolong.” Aku menatapnya khawatir.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Enggak, Yah. Aku cuma menghindar. Aku ingat pesan Kakek ‘kekuatan itu bukan buat nyakitin orang, tapi buat jaga diri’. Aku bisa ngalahin mereka, tapi nggak mau. Mereka gak punya kemampuan bertarung.” urai Lucy
Nanda mengangguk pelan. “Kamu hebat, Lucy. Tapi jangan biarkan dirimu sendirian. Kadang bukan kekuatan yang penting, tapi siapa yang berdiri di sampingmu.”
Aku tersenyum dan menimpali, “Itu yang disebut solidaritas, Nak. Kadang orang pikir solidaritas itu artinya selalu membela teman. Padahal tidak begitu. Solidaritas itu justru tahu kapan harus menegur. Kalau pertemanan bikin kita salah arah, di situ harus ada batas, filter yang menjaga kita supaya nggak ikut jatuh.”
Lucyana terdiam. “Jadi kalau teman ninggalin waktu aku butuh, itu bukan salah mereka?”
“Bukan salah siapa-siapa. “Mereka belum belajar cara bertanggung jawab dalam pertemanan. Kamu cuma perlu belajar memaafkan, kamu tetap komunikasi dan berinteraksi dengan baik dengan mereka," beberku
Lucy mengangguk, menatap ke luar jendela. “Berarti aku nggak salah, ya, Yah?”
“Kamu nggak salah. Kamu cuma tumbuh lebih cepat dari mereka.”
Hening sesaat. Aku sengaja mencairkan suasana. “Eh, nanti dicoba aja kemampuanmu itu lawan Bibimu. Dia dulu petarung ulung, lho. Mendiang Mama-mu aja dulu sempat kalah.” Lucyana tertawa, tapi ada rasa penasaran.
“Yang bener, Yah? Bibi hebat, dong?” Nanda langsung menutup wajahnya.
“Aduh, Ayah mu ini suka berlebihan.” Aku tertawa kecil.
“Nggak juga, Na. Kamu sendiri tahu siapa yang ngajarin rekan-rekan kita dulu.”
“Ya tapi… itu kan dulu,” katanya terkekeh.
Aku jadi ingat mendiang istriku, ibunya Lucy. Dulu kami hidup di ibu kota. Ia wanita tangguh yang melawan bangkit dari luka setelah rumah tangganya hancur.
Ia mengalami kekerasan, dituduh selingkuh, lalu ditinggalkan ketika mengandung Lucy.
Setelah bercerai, ia digembleng keras oleh ayahnya kakek Lucy di kota kecil di pinggiran Jawa Barat, dilatih bela diri agar tak mudah diperlakukan semena-mena.
Ia kemudian merantau ke Ibu kota, mencari pekerjaan untuk menafkahi Lucy, dan bertemu dengan kami. Nanda lalu mengusulkan ke atasan agar bergabung dengan tim Kami
Saat itu, kami sering ditugaskan bersama, dan dalam perjalanan panjang itulah rasa kami tumbuh.
Kami menikah sederhana, lalu di sela tugas, sering pulang menjenguk Lucy yang diasuh oleh saudara istriku. Rumah mereka dulu tak terlalu jauh, jadi hampir tiap akhir pekan kami bisa datang.
Setelah istriku meninggal, aku sempat ingin membawa Lucy ikut bersamaku. Tapi keluarganya menolak dengan halus, dan aku menghormatinya.
Aku hanya berjanji pada diriku sendiri untuk tetap menjaga anak itu meskipun dari jauh.
Beberapa tahun setelah itu, kami kehilangan kabar. Aku memutuskan kembali ke kota asalku, dan Nanda sempat bilang kalau rumah keluarga istriku sudah dijual, mereka pindah ke Jawa Tengah.
Aku pikir mungkin sudah waktunya aku berhenti mencari. Tapi hidup ternyata punya cara sendiri mempertemukan kami lagi.
Lucyana menemukan catatan lama mendiang ibunya tentang aku, tentang kisah liku-liku kehidupan yang pernah kami jalani.
Dari situlah ia mencoba menghubungi. Dan hari ini, aku duduk di hadapannya kembali, meskipun masih sulit percaya gadis kecil itu kini tumbuh jadi remaja tangguh.
Usai makan, kami membeli tas dan sepatu baru untuknya. “Ini bukan hadiah, tapi tanda kita saling inget,” kataku. Lucy tertawa kecil, menggandeng tanganku.
“Terima kasih, Yah. Mama pasti senang lihat kita kayak gini.”
***
Baca juga: Lucyana Li (Catatan yang Sempat Hilang) bagian III
Kami lalu menuju rumah keluarganya di pinggiran Jogja. Begitu mobil berhenti di depan rumah, suasana mendadak haru. Beberapa orang tua keluar menyambut.
Seorang perempuan paruh baya langsung memelukku. “Astaga, kamu datang juga, Nak… kami kira kamu nggak bakal muncul lagi.”
Aku tersenyum kaku, menunduk hormat. “Maaf baru sekarang bisa datang, Bu. Banyak hal yang harus dibereskan dulu.”
Sementara Nanda menyalami satu per satu, yang disambut hangat oleh keluarga Lucy
“Bibi Nanda!” teriak salah satu sepupu Lucy. Suasana berubah ramai, penuh tawa dan air mata.
Kami duduk di ruang tamu besar yang penuh foto lama. Salah satu di antaranya foto mendiang istriku sedang menggendong bayi Lucy. Aku menatap foto itu lama.
Perempuan tua tadi menepuk bahuku pelan. “Dia sering nyebut kamu di akhir hidupnya. Katanya kamu satu-satunya tempat dia bisa tenang.”
Aku menarik napas dalam. “Saya juga nggak pernah berhenti ingat dia, Bu.” Lucyana memelukku dari samping.
“Mama pasti bahagia, Yah. Kita semua akhirnya ketemu lagi.”
Aku hanya bisa membalas pelukannya, membiarkan air mata yang sudah lama kutahan akhirnya jatuh.
Begitu juga dengan kakak ibunya Lucy yang sejak kecil merawatnya juga memelukku lama.
“Terima kasih sudah datang. Kami enggak menyangka bisa ketemu lagi,” ucapnya
“Saya yang berutang banyak. Kalian sudah rawat Lucy dengan baik.”
Lucyana berlari ke neneknya. “Nek, Papa bawain oleh-oleh!” katanya ceria sambil menunjukkan tas barunya. Neneknya tersenyum, menepuk pipinya.
“Kamu semakin mirip ibumu, Nak. Senyumnya, matanya… semua.”
Ruang tamu sore itu pun semakin penuh tawa, ada kenangan, sekaligus rasa haru yang meneteskan air mata.
“Masih ingat waktu kalian sering datang tiap Sabtu?” tanya paman Lucyana sambil menyodorkan teh hangat.
“Tentu, waktu itu perjalanan dari Jakarta tidak begitu lama. Sekarang sudah jauh, tapi rasanya tetap dekat.” jawab Nanda
“Kami pikir kalian udah lupa,” sahut bibi yang lain. Aku menggeleng.
Baca juga: Api di Bahu Kiri (Reuni di Tengah Bayangan Luka)
“Mana mungkin lupa, kita harus berterima sama Lucy, dia yang mempertemukan kita kembali.” Nanda menimpali
Aku pun memandang Lucyana yang duduk di antara kami, ia memeluk lututnya.
“Mama pasti senang lihat kita begini, ya, Pa?” Aku menarik napas panjang.
“Iya, Nak. Mama selalu ingin kamu tumbuh di tengah orang-orang yang mencintaimu. Dan hari ini, keinginannya itu jadi nyata.”
***
Malam turun pelan. Setelah makan malam bersama, aku dan Nanda duduk di beranda. Angin membawa aroma tanah dan bunga kenanga dari halaman. Dari dalam, terdengar tawa kecil Lucyana bercampur suara keluarganya.
“Lucu, ya, dulu kita sering begini juga. Cuma bedanya, dulu ada dia.” Aku menatap langit.
“Aku masih suka berharap dia ada di sini, melihat Lucy tumbuh jadi gadis kuat.” Nanda diam sejenak, lalu menatapku.
“Dia pasti lihat, dari tempat yang lebih damai. Dan aku rasa, dia bangga sama kalian berdua.” Aku tersenyum kecil.
“Kadang aku merasa gagal, Na. Aku enggak bisa jagain Lucy waktu kecil.”
“Jangan bilang gagal,” potong Nanda lembut.
“Kamu cuma memberi kesempatan keluarga ibunya menebus waktu yang hilang. Sekarang Lucy sudah besar, tangguh, dan penuh kasih. Itu juga karena kamu.” Hening sejenak. Suara jangkrik mengisi celah percakapan.
“Aku senang kamu ikut. Kalau sendiri, aku mungkin enggak sanggup.” Nanda tersenyum.
“Aku pun senang kamu ajak. Rasanya kayak pulang ke masa lalu, tapi tanpa ketegangan, beban dan tugas yang menanti.”
Lalu kami menatap halaman yang diterangi cahaya lampu kuning. Di dalam rumah, Lucyana masih tertawa dengan sepupunya, ceria seperti anak kecil lagi.
“Lihat dia, Na, waktu memang mengubah banyak hal, tapi cinta selalu menemukan jalannya untuk kembali.” Nanda mengangguk.
“Dan perjalanan ini… kayak cara Tuhan bilang: belum selesai, tapi sudah sembuh.”
Aku tak menjawab. Hanya menatap langit yang semakin gelap. Dalam diam, aku tahu malam ini, bukan hanya perjalanan ke Jawa Tengah. Tapi juga perjalanan panjang dalam diri kami untuk tetap menjalin silaturahmi dengan orang masa lalu, yang pernah hadir dalam kisah hidup ini.
*)Oleh: Roy Arudam
Editor : Redaksi