Tarian Panggung Republik Usang

Reporter : Ibrahim
Hadi Prasetyo

 

Oleh: Hadi Prasetyo

Baca juga: Seni Berkhianat

Pengamat Sosial, Politik, Ekonomi dan Budaya

 

Surabaya, JatimUPdate.id - Seorang Pembaharu tiba di panggung megah dengan janji-janji yang berkilauan. Ia disambut oleh gemuruh tepuk tangan para penonton yang lelah melihat drama yang itu-itu saja.

Mereka berharap dia akan memulai pertunjukan baru, sebuah drama epik berjudul ‘Kebenaran dan Keadilan. Naskahnya sudah ditulis, kostum kebesaran sudah dipasang, dan sorot lampu menyinarinya penuh harap.

Namun, yang tidak disadari penonton adalah panggung ini sudah tua dan rapuh. Papan kayunya digerogoti rayap, kabel-kabel listriknya bersilangan tak karuan, dan di belakang tirai tersembunyi ‘para sutradara bayangan’ yang sudah memimpin pertunjukan selama puluhan tahun.

Sang Pembaharu, dengan semangatnya, melangkah ke tengah panggung dan bersiap untuk monolog pertamanya. Saat ia menginjak papan tertentu, terdengar suara ‘kraak’ yang mengkhawatirkan.

Seorang stage manager berbisik, "Hati-hati, Tuan. Jangan tekan papan itu terlalu kuat, bisa-bisa seluruh lampu panggung akan padam. Kita semua akan tenggelam dalam kegelapan."

Lalu, ia mencoba menggeser satu properti yang sudah berdebu. Seketika, seorang asisten sutradara berteriak:

“Jangan! Itu bukan sekadar kursi tua. Itu adalah kursi simbolis yang menopang karakter antagonis di Babak III. Jika dipindahkan, alur cerita akan kacau, dan sang antagonis bisa marah dan menarik semua sponsor!"

Sang Pembaharu mulai paham. Setiap gerakan, setiap ucapan, bahkan setiap diamnya, telah diatur oleh arsitek panggung yang tak terlihat.

Ia tidak memiliki kebebasan untuk berakting; ia hanya boleh menari mengikuti alur musik yang sudah dikomposeri sejak lama.

Akhirnya, penonton pun mulai curiga. Mengapa sang Pembaharu hanya berputar di tempat yang sama? Hanya menyapu debu di sudut yang sama, sementara tumpukan sampah di sudut lain dibiarkan?

Yang tidak mereka lihat adalah, di balik panggung, sang Pembaharu telah diberi sepasang sepatu besi oleh para kru lama. Sepatu itu amat berat, diikat dengan rantai yang terbuat dari "kewajaran" dan "stabilitas".

Setiap langkahnya yang plin-plan bukanlah tanda kebimbangan, melainkan perjuangan untuk tidak terjatuh.

Kadang, ia melambaikan pedang keadilannya dengan gagah. Tapi penonton yang jeli akan melihat bahwa pedang itu terbuat dari busa dan cat perak.

Itu hanyalah properti panggung. Pedang yang sesungguhnya, yang tajam dan berbahaya, dikunci rapat di dalam gudang oleh para sutradara bayangan.

Mereka tahu, pedang yang asli bisa memutus tali-tali penopang panggung yang telah mereka anyam selama ini.

Pada akhir pertunjukan, sang Pembaharu membungkuk hormat. Wajahnya basah oleh keringat, tetapi matanya kosong. Penonton bertepuk tangan, meski dengan semangat yang telah pudar. Beberapa masih berharap, mungkin di pertunjukan berikutnya.

Tetapi yang lain sudah tahu kebenaran yang pahit: panggungnya tidak pernah berubah. Yang berganti hanyalah para aktornya. Dan ketika tirai turun, sang Pembaharu berganti pakaian dan bergabung dengan para sutradara bayangan untuk minum teh, membicarakan casting untuk drama esok hari berikutnya.

Lingkaran itu tetap sempurna, tak tersentuh, bagai sebuah dongeng kosong yang abadi.

Baca juga: Titi Kala Mangsa

Dan penonton yang bernama ‘rakyat’ terpaksa harus menonton seni yang mentradisi, karena tidak menonton dianggap ilegal, karena pertunjukan seni tradisi itu hidup dari tiket (pajak) yang harus dibeli rakyat.

Sementara buzeer preman, yang notabene kaki tangan sutradara, memprogandakan paksa seni pertunjukan dengan intimidasi gelap disertai obat gosok bansos dan iming-iming jabatan.

Peduli amat dengan kemunafikan dan kebohongan. Kata mereka kaki tangan sutradara: ‘Itu ranah agama bukan panggung politik seni seperti ini! Disertai bisikan ini demi bangsa dan negara’.

Lalu bagaimana ending dari tarian panggung republik usang ini? Ketika panggung dan penonton bersekongkol? Mungkin tidak ada ending yang dramatis.

Tidak ada ledakan, tidak ada kejatuhan heroik, tidak pula ada kemenangan gemilang sang Pembaharu. Ending dari drama ini justru adalah ‘ketiadaan ending’ itu sendiri.

Para penonton, yang awalnya duduk dengan harapan tertumpu di dada, perlahan mulai menguap. Mata mereka yang dahulu berapi-api kini mulai berkaca-kaca karena kelelahan.

Sebagian mulai asyik dengan ponsel mereka, makan popcorn, ngobrol dengan sesama penonton tentang hal-hal remeh.

Mereka sesekali tepuk tangan, tetapi itu adalah tepuk tangan ritualistik, sebuah kebiasaan kosong, seperti jemaat yang melafalkan doa tanpa lagi memaknainya.

Sang Pembaharu? Ia masih berdiri di panggung. Tapi gerak tariannya sudah tidak lagi kaku. Ia telah menemukan ritmenya sendiri. Ia telah belajar bahwa dengan berputar-putar di tempat yang sama sambil sesekali melambai, ia akan mendapat pujian "gigih dan konsisten".

Ia menyadari bahwa membenahi satu properti yang rusak di sudut panggung, lalu memamerkannya berulang kepada penonton, lebih efektif daripada mencoba membongkar panggung utama.

Ia telah menjadi ‘Kurator dari Status Quo’, seorang ahli dalam mengelola kemandekan sehingga terlihat seperti kemajuan.

Baca juga: Seruan Ditengah Banjir Kebohongan

Lalu, bagaimana dengan maraknya kejahatan, manipulasi, dan kemunafikan? Mereka tidak lagi perlu berjuang untuk menjadi abadi. Mereka telah mencapai tingkat pencerahan yang lebih tinggi. Sudah menjadi normalitas!.

Ketika seorang tokoh lama yang korup muncul kembali dengan wajah baru sebagai "penasihat ahli," penonton hanya mengangguk lesu. "Ah, memang sudah begitu jalannya," batin mereka. Ketika pengadilan memutuskan perkara yang jelas tebang pilih, hanya segelintir orang yang masih teriak.

Selebihnya, mereka sudah muak, dan kemuakan ini berubah menjadi sebuah penerimaan yang pasif.

Kejahatan tidak lagi menang; ia hanya menjadi ‘biasa’, seperti polusi udara atau kemacetan lalu lintas, sesuatu yang buruk, tetapi telah diterima sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Kemunafikan bukan lagi dianggap sebuah dosa, melainkan ‘sebuah mekanisme sosial’.

Semua orang pura-pura tidak tahu atau pura-pura percaya pada janji yang tidak akan ditepati. Semua orang pura-pura bahwa panggung yang reyot ini adalah sebuah opera house yang megah.

Dalam keadaan ini, yang munafik bukan hanya pemainnya, tetapi juga penontonnya yang memilih untuk tetap duduk, meski tahu pertunjukannya adalah kebohongan.

Jadi, apakah kejahatan dan manipulasi itu abadi? Mungkin tidak perlu abadi. Ia hanya perlu bertahan lebih lama daripada kesabaran dan ingatan kolektif penonton. Ia hanya perlu memastikan bahwa setiap generasi Pembaharu baru akhirnya menemukan kenyamanan dalam tariannya yang lama.

Ia hanya perlu memastikan bahwa panggung itu tetap berdiri, bukan karena kokoh, tapi karena tidak ada seorang pun yang memiliki nyali untuk benar-benar membabatnya sampai ke akar, atau karena semua orang yang bisa melakukannya justru telah mendapat bagian dari tiket masuk.

Maka, hadirlah selalu pertunjukan tarian panggung republik usang,
Ritual Rezim Abadi. Beberapa kasus kecil dikorbankan sebagai tumbal.

Beberapa "ikan teri" dijaring dan dipajang di etalase berita. Namun, semua orang tahu, ikan paus pembunuh, ikan hiu dan barakuda tetap berenang bebas di lautan gelap yang dikuasai Rezim Abadi. Di suatu negeri bernama “State of Hopeless”. (roy/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru