Harga Sapi Naik, Ketua PPSDS Jatim Wanti-wanti Gejolak Daging Menular ke Daerah

Reporter : Ibrahim
Ilustrasi sapi siap potong di pasar hewan, dok jatimupdate.id

Surabaya,JatimUPdate.id — Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur, Muthowif, menilai ancaman mogok berjualan yang disuarakan Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) se-Jabodetabek, Senin (6/1), berpotensi memicu gejolak harga di daerah lain, termasuk Jawa Timur.

Ancaman mogok tersebut dipicu naiknya harga sapi hidup siap potong yang kini berada di kisaran Rp53.000 hingga Rp55.000 per kilogram, dari sebelumnya Rp50.000 sampai Rp53.000 per kilogram, tergantung kondisi sapi.

Baca juga: Pemindahan RPH Surabaya ke TOW Picu Sorotan: PPSDS Jatim Kritik Lokasi dan Infrastruktur

Muthowif menyebut kenaikan harga sapi hidup siap potong akan berdampak langsung pada harga daging sapi segar di pasaran.

Ia memperkirakan harga daging bisa naik menjadi Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram.

Menurutnya, gejolak harga di Jabodetabek mulai memberi dampak pada ketersediaan sapi siap potong di Jawa Timur. Di sejumlah pasar hewan, kondisi sapi siap potong disebut mulai langka.

Baca juga: Dampak Video Stunning Sapi BX, PPSDS Jatim Sebut Pemotongan Sapi Berkurang, Ini Kata PD RPH

“Kondisi pasar hewan sapi di Lumajang, Probolinggo, Malang, dan Madura, sapi siap potong mulai langka. Kalau pun ada, harganya menyesuaikan dengan harga yang terjadi di Jabodetabek,” kata Muthowif, Selasa (6/12)

Ia menilai situasi tersebut perlu diantisipasi sejak dini, mengingat dua bulan ke depan umat Islam akan memasuki bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1447 H/2026, yang biasanya diikuti peningkatan kebutuhan daging sapi segar.

Baca juga: PPSDS Jatim Pertanyakan Izin Sapi Brahman Cross di PD RPH Surabaya 

Muthowif berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur tidak menunggu gejolak meluas seperti yang terjadi di Jabodetabek, mengingat Jawa Timur merupakan sentra sapi potong nasional.

“Saya berharap Dinas Peternakan Jawa Timur berkoordinasi dengan para jagal, peternak, dan pelaku penggemukan di Jawa Timur, untuk mengantisipasi gejolak harga daging sapi segar di Surabaya akibat dampak Jabodetabek,” urai Muthowif. (RoY)

Editor : Miftahul Rachman

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru