Indonesia dan Martabat Budaya di Era Digital: Menjawab Rasisme dengan Peradaban

Reporter : Redaksi
Bayu Bintoro

 

Oleh: Bayu Bintoro

Baca juga: Menjaga Akar di Tengah Globalisasi, Pemprov Jatim Apresiasi Ratusan Pelaku Budaya

Seniman NFT (Digital Art)

 

 

Malang, JatimUPdate.id - Ruang digital Asia diwarnai ketegangan akibat komentar bernada rasis dari sebagian netizen Korea terhadap masyarakat Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Peristiwa yang berawal dari konflik penggemar K-pop kemudian berkembang menjadi perdebatan yang lebih luas mengenai penghormatan budaya dan martabat manusia di era digital.

Fenomena ini harus dilihat secara jernih dan berimbang. Tidak semua masyarakat Korea bersikap demikian, dan banyak pula warga Korea yang menolak rasisme. Namun *perilaku sebagian netizen tersebut tetap perlu dicatat sebagai peristiwa yang tidak mencerminkan kemajuan budaya.*

Indonesia tidak perlu menjawabnya dengan kemarahan yang membabi buta. Bangsa yang berbudaya menjawab penghinaan dengan kedewasaan, kejelasan sikap, dan kepercayaan diri terhadap identitasnya sendiri.

Opini ini adalah pandangan terbuka bagi masyarakat dan pemangku kepentingan budaya nasional: bahwa rasisme digital bukan sekadar masalah etika komunikasi, melainkan persoalan peradaban yang harus disikapi secara cerdas dan bermartabat.

Indonesia Sebagai Bangsa Berperadaban

Indonesia adalah salah satu wilayah yang memiliki kesinambungan peradaban panjang di Asia. Warisan seperti Candi Borobudur dan Candi Prambanan membuktikan bahwa masyarakat Nusantara telah mencapai tingkat kecanggihan artistik dan spiritual jauh sebelum munculnya dunia modern.

Bangunan-bangunan tersebut bukan hanya peninggalan sejarah. Ia adalah bukti bahwa masyarakat Nusantara mampu menggabungkan pengetahuan teknik, seni rupa, dan filsafat kehidupan dalam satu kesatuan karya.

Tradisi budaya Indonesia juga menunjukkan kedalaman yang luar biasa. Seni tekstil Batik dan musik bambu Angklung menjadi contoh bagaimana masyarakat Indonesia membangun estetika yang berbasis harmoni dan keseimbangan.

Budaya Nusantara sejak awal berkembang dalam keragaman. Ratusan bahasa daerah, sistem adat yang berbeda, dan tradisi lokal yang beragam membentuk masyarakat yang terbiasa hidup berdampingan.
Karena itu penghormatan terhadap perbedaan bukan konsep baru bagi Indonesia. Ia adalah bagian dari pengalaman sejarah.

Dalam kerangka seperti ini, rasisme bukan hanya tindakan yang salah, tetapi juga menunjukkan ketidakpahaman terhadap nilai dasar kemanusiaan.

Budaya Indonesia di Era Modern

Indonesia bukan hanya bangsa yang hidup dari masa lalu. Kebudayaan Indonesia terus berkembang mengikuti zaman.

Musisi seperti Rich Brian menunjukkan bahwa seniman Indonesia mampu menembus industri musik internasional tanpa meninggalkan identitasnya. Penyanyi Agnez Mo membuktikan bahwa karya dari Indonesia dapat berdiri sejajar dengan produksi global.

Dalam bidang film, The Raid memperlihatkan kemampuan sineas Indonesia menciptakan karya yang diakui secara internasional dan memengaruhi perkembangan film aksi modern.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar konsumen budaya global.
Indonesia adalah salah satu pusat kreativitas yang terus tumbuh.

Karena itu pandangan yang merendahkan Indonesia bukan hanya keliru secara moral, tetapi juga keliru secara faktual.

Peristiwa Netizen Korea sebagai Fenomena Tak Berbudaya

Kasus komentar rasis sebagian netizen Korea terhadap masyarakat Asia Tenggara harus dilihat sebagai gejala sosial yang serius. Peristiwa tersebut bukan sekadar konflik penggemar hiburan populer. Ia menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti kematangan budaya.

Media sosial memungkinkan orang berkomunikasi lintas negara secara instan. Namun teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan.

Komentar rasis yang merendahkan bangsa lain menunjukkan kegagalan memahami prinsip dasar peradaban modern: kesetaraan manusia.

Rasisme tidak pernah menjadi tanda kemajuan. Ia adalah sisa cara berpikir lama yang tidak sesuai dengan dunia global. Masyarakat yang membiarkan rasisme berkembang sebenarnya sedang merusak reputasinya sendiri di mata dunia.

Dalam konteks ini, komentar rasis yang muncul dari sebagian netizen Korea harus dipandang sebagai perilaku tidak berbudaya. Istilah "tidak berbudaya" bukan digunakan sebagai hinaan, melainkan sebagai penilaian peradaban. Budaya yang maju ditandai oleh kemampuan menghormati manusia lain dan budaya yang belum matang sering kali menunjukkan dirinya melalui sikap merendahkan pihak lain.

Rasisme Digital dan Dampak Ekonomi Budaya

Baca juga: Erik Teg Hag Dimata Bruno Fernandes

Di era global, penghormatan budaya tidak hanya berkaitan dengan etika, tetapi juga ekonomi.
Industri seni dan hiburan bergantung pada kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, tidak ada penonton. Tanpa penonton, tidak ada industri.

Asia Tenggara merupakan salah satu pasar terbesar bagi industri hiburan Korea. Hubungan budaya antara Korea dan Asia Tenggara selama ini berjalan baik karena adanya rasa saling menghargai. Namun rasisme digital berpotensi merusak hubungan tersebut dimana masyarakat modern semakin sadar bahwa pilihan konsumsi dapat menjadi bentuk sikap moral.

Ketika penghinaan budaya terjadi, masyarakat dapat merespons melalui pilihan ekonomi. Dalam konteks ini, rasisme digital bukan hanya persoalan komentar internet. Ia dapat menjadi ancaman nyata bagi industri budaya.

Bagaimana sikap Netizen dan pernyataan Pemerintah Indonesia?

Indonesia tidak perlu menjawab rasisme dengan kebencian. Kebencian hanya memperpanjang konflik. Sikap yang tepat adalah sikap yang tegas sekaligus beradab. Indonesia harus menyampaikan pesan yang jelas bahwa penghormatan budaya adalah syarat hubungan yang sehat.

Bangsa yang menghargai budaya lain akan dihargai. Bangsa yang merendahkan budaya lain akan kehilangan kepercayaan.

Indonesia juga perlu memperkuat kebudayaannya sendiri. Kebudayaan yang kuat tidak mudah direndahkan. Ketika dunia mengenal karya Indonesia, penghargaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Selain itu pemerintah dalam hal ini Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia perlu mengambil sikap; Pertama, kementerian harus berani menyampaikan sikap resmi bahwa rasisme terhadap budaya Indonesia adalah tindakan yang tidak dapat diterima dalam hubungan budaya internasional. Pernyataan resmi seperti ini penting karena menunjukkan bahwa negara hadir melindungi martabat budaya warganya.

Pernyataan tersebut tidak perlu menyerang negara lain, tetapi harus jelas menyebut bahwa penghinaan budaya adalah pelanggaran etika peradaban modern.

Sikap resmi negara memiliki arti simbolik yang besar. Tanpa sikap resmi, masalah seperti ini terlihat seolah hanya konflik netizen biasa, padahal sebenarnya menyangkut harga diri budaya nasional.

Kedua, kementerian kebudayaan seharusnya memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat diplomasi budaya. Indonesia memiliki kekuatan budaya yang besar, tetapi sering kurang ditampilkan secara strategis.

Diplomasi budaya bukan sekadar mengirim pertunjukan seni ke luar negeri, melainkan membangun narasi bahwa Indonesia adalah peradaban besar yang layak dihormati.

Program diplomasi budaya bisa berupa kerja sama pameran, festival, atau produksi bersama dengan negara lain, termasuk Korea.

Justru melalui kerja sama yang setara, pesan bahwa Indonesia bukan bangsa yang bisa diremehkan akan lebih terasa.

Ketiga, kementerian perlu membangun sistem perlindungan martabat budaya di ruang digital. Dunia sudah berubah. Konflik budaya sekarang banyak terjadi di media sosial. Negara tidak bisa lagi hanya fokus pada pelestarian cagar budaya atau festival tradisional.

Baca juga: Ronaldo Pecah Telur : Teg Hag Puas

Martabat budaya sekarang juga dipertaruhkan di internet.

Kementerian kebudayaan bisa bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk memantau dan merespons kasus serupa secara sistematis. Bukan untuk menyensor pendapat, tetapi untuk memastikan bahwa penghinaan budaya tidak dibiarkan tanpa tanggapan.

Keempat, kementerian perlu mendorong produksi budaya nasional yang kuat. Cara paling efektif menjaga martabat budaya adalah memastikan budaya Indonesia terlihat di dunia.

Bangsa yang dikenal melalui karya-karyanya lebih sulit diremehkan. Kalau musik, film, dan seni Indonesia semakin dikenal, persepsi dunia akan berubah dengan sendirinya. Martabat budaya tidak hanya dijaga melalui pernyataan, tetapi juga melalui prestasi.

Kelima, kementerian harus mengedukasi masyarakat bahwa membela budaya tidak berarti membenci bangsa lain. Ini penting karena konflik digital mudah berubah menjadi kebencian antarbangsa tapi bukan sekadar meredakan konflik. Tugasnya lebih besar: memastikan bahwa dunia memahami bahwa Indonesia adalah bangsa berbudaya yang tidak bisa diperlakukan sembarangan.

Yang paling penting adalah satu hal, Kementerian kebudayaan harus mengubah cara berpikir dari defensif menjadi percaya diri. Indonesia bukan bangsa kecil yang harus meminta dihormati. Indonesia adalah bangsa besar yang secara alami layak dihormati.

Tanggung Jawab Warga Negara

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bagi masyarakat Indonesia sendiri. Martabat budaya nasional bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau seniman. Ia adalah tanggung jawab seluruh warga negara. Setiap orang yang berinteraksi di ruang digital membawa nama bangsanya. Karena itu masyarakat Indonesia perlu menunjukkan sikap yang mencerminkan kedewasaan budaya.

Menjawab rasisme dengan rasisme hanya akan memperburuk keadaan. Menjawab rasisme dengan martabat akan memperkuat posisi Indonesia.

Pungkasan

Indonesia adalah bangsa yang terbentuk dari pertemuan berbagai budaya. Sejarah panjang Nusantara menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mampu hidup dalam keragaman. Karena itu Indonesia memiliki landasan moral yang kuat untuk menolak rasisme.

Peristiwa komentar rasis dari sebagian netizen Korea harus menjadi pelajaran bersama. Kemajuan teknologi tidak cukup untuk membangun peradaban. Peradaban dibangun oleh penghormatan terhadap manusia. Indonesia tetap membuka diri terhadap kerja sama budaya dengan bangsa mana pun.

Namun keterbukaan harus berjalan bersama penghormatan. Bangsa yang berbudaya tidak merendahkan bangsa lain. Dan bangsa yang masih mengusung rasisme sesungguhnya sedang menunjukkan keterbatasan peradabannya sendiri.

Di tengah dunia yang semakin terhubung, hanya satu prinsip yang dapat menjaga hubungan antarbangsa tetap sehat: Penghormatan adalah fondasi kebudayaan. Tanpa penghormatan, tidak ada peradaban yang dapat bertahan.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru