Gerindra Jatim Buka Ruang Komunikasi Lebar untuk Mahasiswa, Tadarus Politik Gen Z Jadi Wadah Dialektika

Reporter : Dwi Prasetyo

Surabaya, JatimUPdate.id - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya Jawa Timur terus memperluas ruang komunikasi dengan kalangan mahasiswa. Melalui program bertajuk Tadarus Politik Gen Z, partai berlambang kepala garuda itu menghadirkan forum diskusi yang dirancang khusus untuk generasi muda, khususnya mahasiswa di Surabaya.

Kegiatan yang digelar selama tujuh kali sepanjang Ramadan 1447 H ini menjadi ikhtiar Gerindra Jatim membangun budaya dialog yang terbuka dan konstruktif. Pada edisi kedua, tema yang diangkat cukup menggugah: “Speak Up or Stay Silent? Gen Z dalam Pusaran Politik Hari Ini.” Tema tersebut memantik diskusi kritis seputar posisi dan peran generasi muda dalam dinamika politik nasional, Jumat (27/2)..

Baca juga: Bantah Bukan Karena Lalai, Bahtiyar Atribut Gerindra di Surabaya Dicopot Hari Ini

Sekitar 75 mahasiswa dari berbagai kampus hadir dalam forum tersebut. Di antaranya mahasiswa dari Universitas Airlangga, Universitas Pembangunan Nasional, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Universitas Tujuh Belas Agustus 1945 Surabaya, serta Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Kehadiran lintas kampus ini memperkaya sudut pandang yang berkembang selama diskusi berlangsung.

Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jawa Timur Cahyo Harjo Prakoso, yang akrab disapa Mas Cahyo menyebut forum ini sebagai momentum strategis untuk menjembatani gagasan mahasiswa dengan partai politik.

“Ini momentum yang sangat luar biasa yang diinisiasi pimpinan Gerindra Jawa Timur. Kami membuka ruang diskusi, ruang berdialektika, dan juga untuk mendapatkan masukan yang kritis dan komprehensif dari teman-teman pemuda Jawa Timur, khususnya di Surabaya,” ujar Mas Cahyo.

Menurutnya, mahasiswa adalah kelompok dengan idealisme dan nalar kritis yang kuat. Ia menegaskan bahwa idealisme tersebut harus dijaga karena menjadi penyeimbang dalam proses pembangunan bangsa.

“Tanpa idealisme dan kritik dari generasi muda, kita sebagai bangsa tidak akan mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan secara utuh,” tegasnya.

Dalam forum tersebut, mahasiswa tidak hanya diajak memandang politik sebatas kontestasi elektoral atau pesta demokrasi lima tahunan. Lebih dari itu, politik diposisikan sebagai ruang publik untuk mengawal arah kebijakan negara.

Baca juga: HUT ke-18 Gerindra, DPC Kabupaten Blitar Gelar Pengajian dan Potong Tumpeng

Mas Cahyo menjelaskan bahwa produk politik sangat menentukan keberpihakan kebijakan publik kepada masyarakat. Ia juga mengaitkan peran generasi muda dalam memastikan arah pembangunan menuju visi Indonesia Emas 2045 tetap berada di jalur konstitusional dan berpihak pada rakyat.

Terkait komitmen membuka ruang komunikasi, Mas Cahyo memastikan bahwa Gerindra Jatim akan terus menjaga kanal dialog dengan mahasiswa. Ia menilai keberpihakan partai terhadap generasi muda sudah menjadi bagian dari garis kebijakan internal.

Ia mencontohkan bagaimana Ketua Umum Prabowo Subianto bersama jajaran pimpinan daerah seperti Anwar Sadad memberikan kepercayaan kepada anak-anak muda untuk memimpin struktur partai di berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur.

“Regenerasi adalah hal penting bagi organisasi politik. Banyak anak muda diberi amanah menjadi ketua DPC maupun pimpinan fraksi. Itu bukti bahwa generasi muda dipercaya,” katanya.

Baca juga: Pemeriksaan Gubernur Jatim oleh Jaksa KPK di PN Tipikor Surabaya Batal Digelar

Gerindra Jatim juga menegaskan kesiapan menerima kritik dan masukan dari mahasiswa. Namun, Mas Cahyo mengingatkan bahwa kritik harus tetap berlandaskan nilai-nilai kebangsaan.

“Kritik itu penting, idealisme itu penting. Tapi harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar. Bijak, beretika, dan menjaga nilai kebangsaan itu yang utama,” pungkasnya.

Melalui Tadarus Politik Gen Z, Gerindra Jatim tampak ingin menegaskan diri sebagai partai yang membuka ruang dialog seluas-luasnya bagi generasi muda. Ramadan kali ini bukan hanya menjadi momentum refleksi spiritual, tetapi juga refleksi politik, membangun tradisi diskusi yang sehat antara mahasiswa dan partai politik, demi arah kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.(DPR) 

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru