Oleh: Yayat Biaro
Baca juga: Perang Teluk: Realokasi Anggaran MBG Sebuah Keharusan!
Aktivis Pro Demokrasi, Founder Jaringan Indonesia
Jakarta, JatimUPdate.id - Sejarah Timur Tengah hampir selalu bergerak di bawah bayang-bayang imperium.
Dua ribu tahun lalu kawasan ini menjadi arena benturan raksasa antara Kekaisaran Romawi dan Persia.
Selama berabad-abad kedua kekuatan itu saling menggerus di Mesopotamia, Levant, hingga Anatolia, sementara kota-kota seperti Antioch dan Ctesiphon berkali-kali berpindah tangan.
Perang terakhir mereka pada abad ke-7 hampir dan menghabiskan energi kedua imperium sekaligus.
Ketika Kaisar Byzantium Heraclius akhirnya mengalahkan Raja Persia Khosrow II, keduanya sudah terlalu lelah untuk mempertahankan wilayahnya.
Tak lama kemudian muncul kekuatan baru dari selatan—dunia Islam—yang mengubah peta geopolitik kawasan secara drastis.
Sejarah kadang bergerak dengan pola sama, dua raksasa bertarung sampai kelelahan, lalu ruang kosong yang mereka tinggalkan melahirkan tatanan baru.
Delapan puluh tahun lalu, pola serupa terlihat di kota industri di tepi Sungai Volga, Stalingrad. Pertempuran itu bukan sekadar pertempuran besar dalam Perang Dunia II, tetapi sebuah titik balik sejarah.
Ketika konflik Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kini semakin membesar, sejumlah pengamat mulai menggunakan analogi yang berani, mungkin dunia sedang menyaksikan lahirnya Stalingrad baru di Timur Tengah. Apakah analogi itu berlebihan? Belum tentu.
Setiap perang besar selalu memiliki wajah manusia dominan. Di Stalingrad, wajah itu adalah Adolf Hitler dan Joseph Stalin.
Hitler datang dengan keyakinan hampir religius bahwa Reich Ketiga akan menguasai Eurasia, sementara Stalin yang sebelumnya terpukul oleh invasi Jerman berubah menjadi simbol ketahanan nasional Soviet.
Dua ego besar bertabrakan di sebuah kota industri yang kemudian menjadi kuburan bagi ratusan ribu tentara.
Konflik Timur Tengah hari ini juga memiliki wajah-wajah politik yang jelas. Di satu sisi berdiri Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Trump membawa doktrin kekuatan Amerika—keyakinan bahwa tekanan militer dapat memaksa lawan tunduk—sementara Netanyahu memandang konflik dengan Iran sebagai persoalan eksistensial negara Israel.
Di sisi lain, Iran mengalami transisi kepemimpinan. Selama lebih dari tiga dekade, Ali Khamenei membangun doktrin politik yang berakar pada gagasan perlawanan panjang terhadap dominasi Barat.
Dalam pandangannya, konflik dengan Amerika bukan sekadar pertarungan militer, melainkan pertarungan sejarah antara hegemoni dan kedaulatan nasional.
Baca juga: “Drone Murah, Kapal Induk Mahal: Matematika Kekalahan Superpower di Medan Perang Iran”
Setelah kematiannya, kepemimpinan Iran berpindah kepada generasi baru di bawah Mojtaba Khamenei yang cara pandang terhadap Israel dan Amerika telah terbentuk secara matang sebagai musuh utama negara.
Ketika Hitler memerintahkan serangan ke Stalingrad pada musim panas 1942, kalkulasinya tampak sederhana. Kota itu bukan hanya membawa nama Stalin, tetapi juga menguasai jalur logistik vital di Sungai Volga serta menjadi pintu menuju ladang minyak Kaukasus yang sangat dibutuhkan mesin perang Jerman. Hitler membayangkan kota itu akan jatuh dalam hitungan minggu. Yang terjadi justru sebaliknya: Wehrmacht tersedot ke dalam perang kota yang brutal dan melelahkan.
Kesalahan kalkulasi seperti ini bukan hal baru dalam sejarah perang.
Konflik Amerika–Israel dengan Iran juga lahir dari perhitungan strategis yang serupa.
Iran berada di salah satu simpul paling sensitif dalam geopolitik global karena posisinya dekat Selat Hormuz—jalur yang dilewati sebagian besar perdagangan minyak dunia. Dunia sedang menunggu apakah kalkulasi Trump-Netanyahu keliru?
Perbedaan paling mencolok antara Stalingrad dan Perang Iran modern terletak pada evolusi teknologi perang.
Di Stalingrad, pertempuran adalah perang industri klasik dengan tank, artileri berat, serta pertempuran dari rumah ke rumah. Lebih dari dua juta tentara terlibat dan kota itu berubah menjadi puing.
Sebaliknya konflik modern berlangsung dalam lanskap teknologi tinggi yang dipenuhi drone tempur, rudal presisi, sistem pertahanan udara berlapis, operasi siber, serta jaringan satelit pengintai.
Jika Stalingrad adalah perang industri baja, maka konflik modern adalah perang persenjataan teknologi canggih yang dipandu algoritma dan data.
Strategi Soviet di Stalingrad adalah menarik tentara Jerman masuk ke dalam kota sehingga keunggulan udara Jerman kehilangan arti. Pertempuran berubah menjadi perang jarak dekat di antara reruntuhan bangunan dan akhirnya berujung pada pengepungan besar yang memaksa Tentara Keenam Jerman menyerah.
Baca juga: Pelajaran dari Iran dan Sebatang Rokok di Tepi Sungai
Pola ini mengingatkan pada pengalaman Amerika dalam perang Vietnam dan Afghanistan.
Di Vietnam teknologi militer Amerika tidak mampu mengatasi strategi gerilya Viet Cong, sementara di Afghanistan dominasi udara Amerika selama dua dekade juga tidak cukup untuk menundukkan Taliban.
Stalingrad berakhir pada Februari 1943 ketika Tentara Keenam Jerman menyerah. Lebih dari 90 ribu tentara ditawan sementara ratusan ribu lainnya tewas.
Namun perang modern jarang berakhir dengan satu pertempuran dramatis. Perang Vietnam berakhir dengan penarikan pasukan Amerika setelah Perjanjian Paris 1973 dan dua tahun kemudian Saigon jatuh dan Vietnam kembali dalam pelukan partai komunis.
Perang Afghanistan juga berakhir ironis ketika Amerika menarik pasukannya pada 2021 dan Taliban kembali berkuasa.
Dari perang Persia dan Romawi hingga Stalingrad, Vietnam, dan Afghanistan, sejarah memperlihatkan pola berulang: imperium datang dengan keyakinan besar, tetapi medan perang sering mengubah segalanya.
Apakah Timur Tengah hari ini sedang menuju momen seperti itu?
Sejarah belum memberi jawabannya. Namun satu pelajaran dari masa lalu tetap relevan: perang yang dianggap singkat sering justru menjadi perang yang panjang dan paling lama dikenang manusia.
...
Editor : Redaksi