Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi – 28/4/2026
Hotspot Perang Terkini
Oleh : Abdul Rohman Sukardi
Pengamat Sosial, Politik Dan Hukum
Jakarta, JatimUPdate.id -
Dunia saat ini tidak berada dalam satu perang besar terpusat. Melainkan dalam jaringan konflik saling tumpang tindih dan berpotensi saling menyulut.
Situasi ini mencerminkan apa yang sering disebut sebagai “polycrisis konflik”. Ketika perang aktif, ketegangan militer, dan rivalitas geopolitik berkembang bersamaan di berbagai kawasan.
Di Eropa Timur, perang Rusia - Ukraina menjadi konflik terbesar yang berlangsung hingga kini. Selain menelan korban besar dan menghancurkan infrastruktur, perang ini mengubah lanskap keamanan global. Memperpanjang ketegangan antara Rusia dan NATO.
Tidak ada tanda penyelesaian cepat. Sementara eskalasi kecil pun dapat berdampak luas.
Di Afrika, Sudan menghadapi perang saudara brutal antara SAF dan RSF. Memicu krisis kemanusiaan besar.
Sementara itu, kawasan Sahel—terutama Mali, Niger, dan Burkina Faso—berkembang menjadi sabuk konflik bersenjata. Ditandai kehadiran kelompok militan secara terus meluas. Negara-negara di kawasan ini menghadapi kombinasi rapuhnya pemerintahan dan tekanan keamanan yang tinggi.
Timur Tengah tetap menjadi episentrum ketegangan global. Konflik Israel dengan kelompok bersenjata di Gaza dan Lebanon, serta rivalitas dengan Iran, menciptakan pola perang bayangan yang berisiko berubah menjadi konflik regional terbuka.
Kawasan ini juga memiliki arti strategis karena jalur energi global seperti Selat Hormuz berada di dalamnya. Amesika Serikat masuk dalam gelanggang perang melawan Iran.
Di Asia, Myanmar masih terjebak dalam perang saudara multi-front. Belum menunjukkan tanda stabilisasi.
Ketegangan di Laut Cina Selatan dan isu Taiwan terus meningkatkan risiko benturan militer antara China dan Amerika Serikat beserta sekutunya. Di Asia Selatan, rivalitas India–Pakistan di Kashmir tetap menjadi salah satu titik paling berbahaya. Mengingat kedua negara memiliki senjata nuklir.
Dalam peta ini, Indonesia berada pada posisi relatif aman dari konflik bersenjata langsung. Secara geografis, Indonesia tidak berada di pusat konflik global. Secara politik menganut prinsip bebas aktif. Menghindari keterlibatan militer dalam konflik terbuka.
Namun, Indonesia tetap berada di kawasan Indo-Pasifik yang semakin strategis. Terutama terkait dinamika Laut Cina Selatan.
Artinya, meskipun tidak menjadi medan perang, Indonesia tidak sepenuhnya terlepas dari dampak geopolitik. Baik dari sisi keamanan, ekonomi, maupun stabilitas kawasan.
Beberapa negara lain yang relatif aman dari perang langsung saat ini antara lain Swiss, Islandia, Selandia Baru, Singapura, Australia, dan Kanada. Stabilitas mereka ditopang kombinasi faktor geografis, politik domestik yang kuat, dan minimnya keterlibatan dalam konflik global.
Pada akhirnya, dunia kini tidak lagi ditandai satu pusat perang. Melainkan oleh banyak titik api perang atau konflik yang tersebar.
Tantangan terbesar bukan hanya menghentikan konflik yang sudah terjadi. Tetapi mencegah titik-titik panas tersebut berkembang menjadi krisis yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Jakarta, ARS ([email protected]). Eskponen aktivis 98. Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.
Editor : Redaksi