Berakhirnya Superior Dan Dominasi Amerika
Oleh : Ichsanuddin Noorsy dan M. Arief Pranoto
Jakarta, JatimUPdate.id - Kajian tentang berakhirnya hegemoni dan dominasi Amerika Serikat (AS) telah banyak dilakukan oleh kaum intelektual AS sendiri.
Individualisme, demokrasi, pasar bebas, dan kekuatan militer menjadi objek kajian namun berbuah kegelisahan elit politik, ekonomi, dan militer. Mereka yang biasa menebar doktrin kecemasan (shock doctrine), hasilnya justru memukul diri sendiri.
Perang Irak, perang Afghanistan, tujuh pemboman selama 2026 ke berbagai negara, tidak menghasilkan AS dihormati dan dihargai.
Legitimasi berbasis kekuatan militer itu berakibat luruhnya modal moral dan sistem global yang dibangun oleh Amerika sendiri. Narasi-narasi yang mereka bangun justru menunjukkan ketidakjujuran.
Misalnya pasca-invasi ke Afghanistan (2001-2021), petualangan militer AS bersama sekutunya ---melalui payung NATO dan ISAF--- meninggalkan jejak panjang yang belum sepenuhnya ditulis secara jujur oleh media arus utama.
Di balik narasi resmi, setidaknya muncul lima fenomena strategis: (1) merosotnya kepercayaan terhadap teknologi-mesin perang Barat,
(2) retaknya hegemoni Amerika di panggung global,
(3) bangkitnya kekuatan non-Barat, termasuk aktor berbasis identitas dan ideologi (Muslim),
(4) perang terhubungkan, yang kerap disebut sebagai connectivity war,
(5) lelahnya masyarakat Barat atas perburuan mereka pada makna tenteram damai sejahtera.
Berbagai doktrin paska Perang Dunia (PD) II meluncur, ragam konsepsi dikemukakan, dan banyak opsi pemikiran diseminarkan.
Intinya adalah bagaimana menjaga dan memelihara posisi sebagai pemenang PD II tak tergantikan.
Ada yang diabaikan, yakni setiap kebaikan atau kerusakan yang dilakukan akan kembali kepada pelaku. Hukum keseimbangan dan sirkular kehidupan pasti terjadi.
Lebih dari dua dekade sejak invasi ke Afghanistan dengan alasan memerangi Islam sebagai teroris, isu serupa kembali mengemuka dalam eskalasi terbaru di kawasan Teluk.
Sejak pecahnya konfrontasi terbuka akhir Februari 2026 antara Iran di satu sisi, dan koalisi AS-Israel di sisi lain, lanskap peperangan modern kembali diuji.
Meski pertempuran masih berlangsung dan kabut informasi belum sepenuhnya tersibak, sejumlah indikasi kuat menunjukkan adanya perubahan mendasar dalam watak perang kontemporer.
Sebelum membahas perubahan watak ini, patut dicatat bahwa tata global AS adalah memerangi Islam teroris, termasuk Iran.
Sementara dalam soal perubahan watak perang, muncul tiga fenomena kunci yang patut dicermati. Antara lain:
Pertama, Memudarnya Era Superioritas Kapal Induk
Selama puluhan tahun, kapal induk merupakan simbol supremasi Angkatan Laut AS -- proyeksi kekuatan yang mampu menjangkau wilayah mana pun di dunia.
Namun, dalam konflik terbaru, kerentanan platform raksasa ini semakin nyata. Laporan mengenai kerusakan USS Abraham Lincoln serta gangguan operasional pada USS Gerald R. Ford akibat serangan drone dan rudal jarak jauh menunjukkan bahwa dominasi tersebut tidak lagi absolut. Tapi, kerusakan dua kapal induk ini tidak disertai bagaimana kekuatan kapal selam berbasis nuklir, sebagaimana Australia dalam aliansi AUKUS diperkenankan memilikinya.
Perkembangan teknologi asimetris ---khususnya drone murah, rudal balistik presisi, dan sistem swarm attack --- telah mengubah perimbangan biaya (cost asymmetry).
Sebuah kapal induk bernilai lebih dari USD 13 miliar kini dapat diancam oleh sistem persenjataan yang biayanya hanya puluhan ribu USD.
Ini bukan sekadar insiden teknis, melainkan sinyal perubahan paradigma: dari dominasi platform raksasa menuju platform kecil, terdistributif, fleksibel, dan adaptif. Konsep greater, better, faster, cheaper mendapat bukti empiris bahwa besarnya kekuatan sesuatu terkalahkan oleh teknologi informasi.
Iran, dengan dukungan Rusia dan China mendayagunakan ini dalam perlawanannya terhadap AS-Israel.
Maka bukan sekadar pertahanan udara Iran yang meningkat, serangan udara dengan drone-nya juga presisi. Efektivitas dan efisiensi perang pun menjadi bagian dari kalkulasi biaya.
Kedua, Terkikisnya Dominasi-Jaminan Keamanan Pangkalan Militer AS di Kawasan Teluk
Selama ini, jaringan pangkalan militer AS di Timur Tengah menjadi tulang punggung stabilitas keamanan bagi sekutunya. Namun, dalam eskalasi terbaru, kerentanan jaringan ini terekspos secara terbuka.
Lebih dari dua lusin instalasi militer mengalami kerusakan akibat serangan drone dan rudal Iran. Ini mengindikasikan sistem pertahanan udara berlapis tidak lagi sepenuhnya efektif menghadapi potensi ancaman dan gangguan.
Karena selalu tersedia perlawanan sistem sebagai wujud keseimbangan kekuatan. Masalahnya adalah militansi untuk mengimbangi kekuatan lawan terbentuk.
Siapa yang duga jika tekanan militer dan ekonomi pada Iran justru melahirkan berkah kehidupan dalam berbagai hal, termasuk dalam hal pertahanan dan ketahanan militer. Siapa nyana pangkalan-pangkalan militer di Timur Tengah yang bernilai miliaran dolar AS ternyata rapuh.
Kasus paling mencolok adalah serangan terhadap RAF Akrotiri di Siprus.
Pangkalan udara strategis milik Inggris ini, selama ini menjadi bagian dari arsitektur pertahanan Barat di Mediterania.
Akrotiri pun terkena serangan drone jarak jauh jenis Shahed yang menempuh ribuan kilometer tanpa terdeteksi secara efektif.
Fakta ini menimbulkan pertanyaan serius, “Sejauh mana kredibilitas payung pertahanan Barat dapat diandalkan oleh negara-negara sekutu?”
Seberapa kuat pertahanan udara Barat jika Iran mampu merontokkannya. Bukti empiris ini membuat ukuran ketahanan militer tidak melulu didasarkan pada beragam dan canggihnya peralatan militer. Ukuran better, cheaper, faster, greater jelas menjadi valid demi menakar efektifnya pertahanan dan ketahanan.
Perhatikan analogi ribuan burung kecil melawan ratusan gajah. Burung-burung itu mengalahkan gajah-gajah yang kekuatan tenaganya beratus kali lipat dibanding mahluk kecil yang terbang dengan indahnya.
Ketiga, Runtuhnya Efektivitas Doktrin “Penggal Kepala” (Decapitation Strike)
Selama beberapa dekade, militer AS mengandalkan strategi eliminasi cepat terhadap kepemimpinan musuh sebagai cara melumpuhkan struktur komando.
"Penggal kepalanya". Doktrin ini terbukti efektif dalam berbagai operasi sebelumnya -- dari Irak, Libya, Syria, Venezuela dst hingga operasi kontra-terorisme global.
Doktrin ini diambil dari cara menghadapi segerombolan monyet yang menyerang. Bunuh ketua gerombolannya, yang lain akan kabur.
Namun, dalam konteks Iran, pendekatan tersebut berhadapan dengan doktrin berbeda yang dikenal sebagai mosaic defense doctrine.
Model ini menekankan desentralisasi dan otonomi unit-unit kecil, sehingga jika kehilangan satu pusat komando tidak serta-merta melumpuhkan keseluruhan sistem.
Struktur semacam ini diperkuat oleh jaringan aktor non-negara dan milisi proksi yang tersebar lintas wilayah, menjadikan sifat konflik berlapis dan sulit diputus secara cepat.
Sebenarnya doktrin ini berbasis pada pola kerja teknologi informasi. Yakni sentralisasi terdistribusi, distribusi tersentralisasi sehingga pengambilan keputusan diambil secara akurat dan aktual dari segi waktu, tempat, dan keadaan. Di sini terlihat jelas, kekuatan tangible harus disertai kekuatan intangible.
Karena AS dan Israel fokus pada kekuatan tangible, akibatnya, upaya “pemenggalan” kepemimpinan tidak menghasilkan efek strategis yang menentukan.
Justru pemenggalan itu memperpanjang konflik dalam bentuk yang lebih kompleks lagi tak terprediksi.
Akibat lain, perang makin membutuhkan energi yang lebih besar, sehingga Menteri Perang AS, Pete Hegseth, meminta kepada Kongres AS. Dia menyatakan, it takes money to kill bad guys.
Pernyataan kontradiktif ini menunjukkan bahwa perang akan berlangsung lama, padahal di internal-domestik AS membutuhkan biaya kesehatan, pendidikan, dan investasi anggaran untuk mengatasi pengangguran.
Hegseth dihina dan dikecam oleh Partai Demokrat bersamaan dengan perkiraan biaya perang mencapai 1,8 miliar dolar per hari.
Jika tiga fenomena yang muncul dari perang Afghanistan cenderung bersifat laten ---hanya dirasakan kalangan elite militer, politik dan serdadu lapangan--- sebaliknya, dinamika dalam Perang Teluk 2026 terlihat kasatmata.
Perkembangan teknologi digital, keterhubungan global, serta penetrasi Internet of Things (IoT) membuat realitas perang tersiar secara real time ke ruang publik. Padahal, jika membahas dua fenomena lain yang merupakan perang non-militer, sebenarnya ketahanan AS sudah runtuh karena daya tahan keluarga dan luruhnya modal sosial. Dalam perspektif ini, AS sebenarnya masih berdiri tegak di atas puing-puing perang peradaban yang diciptakannya.
Perubahan ini bukan sekadar soal taktik atau teknologi, melainkan pergeseran nilai dan struktur kekuatan global. Dominasi yang sebelumnya bertumpu pada superioritas teknologi dan konsentrasi kekuatan kini dihadapkan pada era baru: era disrupsi asimetris, di mana aktor dengan sumber daya terbatas dapat menantang kekuatan besar melalui inovasi, adaptasi, dan strategi non-konvensional.
Pada perspektif nilai, sekuleritas telah mendekati puncak kebusukan sosial politik dan ekonomi. Sedangkan dalam lingkup struktur terlihat sistem sudah sulit menggerakkan struktur disebabkan kerusakan internal karena perilakunya sendiri.
Penutup: Keamanan dan Kedamaian Tak Bisa Disewa
Dunia pantas berhenti membaca perang dengan kacamata lama. Sekulerisme sudah rentan dan terseok-seok pada jejaring strategi, fungsi dan instrumentasi kehidupan. Era di mana kekuatan ditentukan oleh kapal induk raksasa, pangkalan militer permanen, persenjataan mahal, dan satu pukulan “penggal kepala” -- kini telah usai.
Berakhir. Ia menggelincir ke masa lalu. Perang hari ini adalah peperangan jejaring: cepat, murah, terdistribusi, dan sulit dimatikan. Era better, cheaper, faster, dan greater telah menerjang siapapun, termasuk yang menciptakannya: Barat. Ketakutan sejumlah pakar akan hal itu menjadi kenyataan.
Bagi negara-negara di dunia, pesannya jelas dan tidak nyaman: keamanan tidak lagi bisa “disewa” dari kekuatan besar. Superioritas tidak lagi bisa dibeli hanya dengan alutsista mahal.
Militansi, reputasi dan kredibilitas sulit dicangkokkan. Jelas kemampuan beradaptasi, membangun sistem pertahanan yang lincah, resilien, dan berbasis teknologi asimetris lebih menentukan.
Dan lebih menentukan lagi ialah watak jujur, tidak serakah, tidak dengki, dan tidak hidup berfantasi. Ini kesadaran diri sebagai subjek dan objek kehidupan yang membutuhkan ketenteraman, kedamaian dan keadilan.
Kebutuhan ini hanya akan terjawab jika mempunyai petunjuk kehidupan yang terbukti tangguh, teguh, dan teduh sehingga menyelamatkan mata rantai perjalanan kehidupan.
Siapa yang masih bertahan pada paradigma lama, akan menjadi sasaran. Siapa yang membaca perubahan ini lebih cepat, akan bertahan ---dan berpotensi menang--- tanpa harus menjadi entitas paling kuat. Lagi-lagi, kemampuan membaca pun harus membangun kesadaran bahwa kejujuran adalah mata uang universal.
Mereka yang munafik akan busuk dimakan kecemasan akan kemunafikannya. Mereka yang serakah akan terus gelisah. Iri atau dengki pun akan membawa hidup selalu merasa kurang. Sementara berfantasi atas materi akan terjebak pada semunya kenikmatan. Maka memenggal kepala hanya sukses, ketika nilai dan sistem kehidupan itu kembali posisi hakiki.
##innsy&map##
JKT 230326
Editor : Redaksi