Catatan Yayat Biaro 240326

Perang Mutakhir dan Kehancuran Sistem Global. 

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Yayat Biaro
Yayat Biaro

 

Oleh : Yayat Biaro

Aktivis Pro Demokrasi, Founder Jaringan Indonesia

 

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Beberapa bulan sebelum Iran dibombardir Amerika Serikat dan Israel pada (28/2/26), perang sudah lebih dulu dimulai dalam dimensi yang sama sekali baru. 

Tidak diawali dentuman bom, melainkan gangguan sunyi pada sistem. Tidak terlihat oleh publik, tidak dilaporkan sebagai serangan militer, tetapi perlahan menggerogoti fondasi pertahanan sebuah negara. Radar yang melemah, komunikasi yang tersendat, sistem komando yang terganggu—semuanya terjadi sebelum satu pun jet tempur memasuki wilayah udara Iran.

Di situlah perang modern membuka babak barunya: bukan di langit, bukan di darat, tetapi di dalam jaringan yang tak kasat mata.

Perang hari ini tidak lagi dimulai dari apa yang bisa dilihat. Ia dimulai dari apa yang tidak disadari.

Dunia terbiasa menghitung perang melalui korban dan kehancuran fisik, tetapi konflik Amerika–Israel melawan Iran memperlihatkan bahwa ukuran itu telah usang.

Yang diserang bukan hanya manusia atau kota, melainkan sistem yang menopang kehidupan modern. Ketika listrik padam, distribusi bahan bakar terganggu, dan sistem rumah sakit lumpuh, perang sedang berlangsung—tanpa suara, tanpa deklarasi, tanpa batas.

Sejarah perang manusia bergerak mengikuti teknologi yang dikuasainya. Dari benturan pedang dan tombak di medan terbuka, manusia beralih ke peluru dan meriam yang memperluas jarak sekaligus skala kehancuran.

Perang Dingin kemudian menggeser medan tempur ke wilayah intelijen dan propaganda. Namun fase terbaru melampaui semuanya. Drone, satelit, dan misil balistik hanyalah permukaan. Yang menentukan kemenangan adalah apa yang terjadi sebelumnya—di dalam sistem, di dalam kode, di dalam jaringan.

Fakta konkret menunjukkan betapa perang digital telah menjadi instrumen utama. Pada 2010, malware Stuxnet merusak sekitar 1.000 centrifuge nuklir Iran di Natanz—tanpa satu pun peluru ditembakkan.

Beberapa tahun kemudian, serangan siber terhadap sektor keuangan Amerika berlangsung lebih dari 176 hari, mengganggu layanan bank besar. Pada 2012, malware Shamoon melumpuhkan sekitar 30.000 komputer di Saudi Aramco, salah satu perusahaan energi terbesar dunia.

Memasuki dekade berikutnya, serangan terhadap jaringan distribusi bahan bakar Iran menyebabkan ribuan SPBU tidak berfungsi secara serentak. Bahkan dalam konflik terbaru, serangan terhadap platform kripto Iran dilaporkan membuat sekitar US$90 juta aset digital tidak dapat diakses.

Angka-angka ini bukan sekadar statistik; ia menunjukkan bahwa satu baris kode kini mampu menciptakan dampak setara serangan militer konvensional.

Dalam konflik Amerika–Israel melawan Iran, pola ini terlihat semakin sistematis. Serangan digital digunakan untuk melumpuhkan sebelum menghancurkan. Sistem pertahanan dilemahkan, logistik diganggu, komunikasi diputus.

Dalam banyak kasus, hasil pertempuran sudah ditentukan sebelum misil pertama diluncurkan. Perang fisik menjadi semacam “finalisasi” dari kemenangan yang telah diraih di ruang siber.

Di titik ini, kritik terhadap praktik tersebut menjadi semakin tajam. Jeffrey Sachs secara terbuka menyebut bahwa banyak intervensi militer modern telah mengabaikan prinsip dasar hukum internasional.

Dalam salah satu pernyataannya, ia menegaskan, “The United States has repeatedly acted outside the framework of international law, undermining the very system it helped to create.”

Dalam konteks perang digital, pelanggaran ini menjadi lebih kabur sekaligus lebih berbahaya. Tidak ada deklarasi perang, tidak ada mandat internasional yang jelas, tetapi dampaknya nyata dan luas.

Serangan terhadap infrastruktur sipil melalui siber—air, listrik, kesehatan—secara substansi setara dengan serangan militer, namun belum sepenuhnya diatur dalam kerangka hukum global.

Sementara itu, dari perspektif perubahan tatanan dunia, pemikir seperti Professor Jiang Shixue melihat konflik ini sebagai bagian dari transisi besar menuju dunia multipolar.

Dalam berbagai analisanya, ia menekankan bahwa dominasi tunggal tidak lagi dapat dipertahankan. “The world is moving toward a more multipolar order where no single power can dominate the global system,” tulisnya dalam kajian hubungan internasional kontemporer.

Dalam konteks ini, teknologi—terutama teknologi digital—menjadi alat utama bagi negara yang secara konvensional lebih lemah untuk menantang kekuatan besar. Iran tidak perlu menyamai kekuatan militer Amerika untuk menciptakan tekanan strategis; cukup dengan mengganggu sistem yang menopang kekuatan tersebut.

Namun justru di sinilah paradoks muncul. Ketika perang menjadi lebih murah, lebih tersembunyi, dan lebih sulit dilacak, ambang untuk memulai konflik menjadi jauh lebih rendah. Negara tidak lagi menghadapi risiko besar seperti dalam perang konvensional.

Serangan dapat dilakukan secara diam-diam, disangkal, dan diulang tanpa konsekuensi langsung. Dunia memasuki fase di mana perang tidak lagi menjadi pilihan terakhir, melainkan instrumen yang dapat digunakan kapan saja.

Perang jenis ini juga melahirkan aktor baru yang sulit dikendalikan. Hacker tidak lagi sekadar kriminal atau aktivis, melainkan pasukan bayangan.

Sebagian bekerja untuk negara, sebagian menjadi proxy, dan sebagian bergerak secara independen dengan dorongan ideologis.

Mereka tidak memiliki seragam, tidak tunduk pada hukum perang, dan tidak terikat batas geografis. Ketika ratusan kelompok seperti ini terlibat, konflik berubah menjadi fenomena yang menyebar tanpa kendali. Ia melampaui negara, melampaui diplomasi, dan bahkan melampaui niat awal para pelakunya.

Dampak global dari situasi ini semakin nyata. Sistem keuangan internasional menjadi lebih rentan karena bergantung sepenuhnya pada jaringan digital. Infrastruktur energi menghadapi risiko gangguan yang dapat memicu krisis ekonomi. Informasi menjadi medan pertempuran yang menentukan persepsi publik.

Bahkan demokrasi dapat terguncang ketika data dan narasi dapat dg mudah dimanipulasi secara sistematis. Ini bukan lagi sekadar konflik regional, melainkan ancaman terhadap stabilitas global.

Gejala pembelahan dunia juga semakin terlihat. Bukan hanya blok militer, tetapi blok digital. Di satu sisi, negara-negara yang menguasai infrastruktur teknologi global.

Di sisi lain, negara dan jaringan yang membangun sistem alternatif, baik dalam teknologi maupun dalam narasi. Internet yang dulu dipandang sebagai ruang terbuka kini perlahan terfragmentasi. Dunia tidak hanya terbelah secara politik, tetapi juga secara digital.

Jika di masa lalu manusia bertempur dengan pedang dan mati di medan terbuka, hari ini manusia bisa kalah tanpa pernah melihat musuhnya. Dalam dunia yang sepenuhnya terhubung, satu serangan digital dapat melumpuhkan sebuah negara tanpa perlu invasi.

Tidak ada suara, tidak ada asap, tidak ada peringatan. Hanya sistem yang tiba-tiba berhenti bekerja—dan kehidupan yang ikut terhenti bersamanya.

Pada titik itu, perang tidak lagi sekadar tentang siapa yang menembak lebih dulu, tetapi siapa yang lebih dulu menguasai sistem. Dan ketika sistem itu runtuh, yang tersisa bukan hanya kekalahan satu negara, melainkan keruntuhan kepercayaan terhadap dunia yang selama ini kita anggap stabil.

Dalam perang seperti ini, manusia tidak lagi menghadapi musuh di depan mata, melainkan kehancuran yang datang dari dalam sistem yang mereka ciptakan sendiri.
***