KH Thoha Yusuf Dorong Gerakan Seribu Santri KMI, Ponpes Al-Ishlah Bondowoso Siapkan Kader Dai

Reporter : M Aris Effendi
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Yusuf Zakariya, menyampaikan arahan kepada aparat dan pengurus pesantren saat rapat rutin di Masjid Kembar Al-Ishlah Bondowoso, Minggu (15/3)

 

Bondowoso, JatimUPdate.id, – Suasana Masjid Kembar Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso terasa tenang dan khidmat pada Ramadan 1447 H. Para aparat dan pengurus pesantren duduk bersaf mengikuti rapat rutin yang digelar di lingkungan pondok.

Baca juga: Rencana Besar Infrastruktur Malang Selatan, Tol Malang-Kepanjen Tambah Dua Exit

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (15/3/2026) itu menjadi momentum bagi Pimpinan Ponpes Al-Ishlah Bondowoso, KH Thoha Yusuf Zakariya, untuk menegaskan pentingnya memperkuat pendidikan dan kaderisasi dakwah melalui gerakan seribu santri pada program Kulliyatul Muballighien Al Islamiyah (KMI).

Di hadapan para peserta rapat, Kiai Thoha menyampaikan pesan sederhana namun sarat makna tentang kesabaran, syukur, dan kasih sayang dalam menjalani perjuangan dakwah.

“Disabarin, disyukuri, disenyumin, dan dicintai. Bahkan kita harus bisa mencintai orang yang tidak mencintai kita, mencintai orang yang membenci kita,” ujar Kyai Toha.

Menurutnya, perjuangan dakwah tidak hanya membutuhkan ilmu, tetapi juga kesabaran, keikhlasan, serta kelapangan hati dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan.

Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa Pondok Pesantren Al-Ishlah Bondowoso harus terus konsisten bergerak dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, dakwah, sosial, hingga ekonomi sebagai bagian dari perjuangan ishlahul ummat atau perbaikan umat.

“Pondok ini harus dibantu, dibela, dan diperjuangkan. Mari kita dengan yakin dan tanpa ragu mendukung Ponpes Al-Ishlah,” tegasnya.

Gerakan Seribu Santri

Dalam bidang pendidikan, Kiai Thoha mendorong peningkatan jumlah santri, khususnya pada program Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) putra dan putri.

Ia menargetkan minimal seribu santri sebagai bagian dari upaya memperkuat kaderisasi dai yang kelak mampu berdakwah di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri.

Baca juga: Kapolri Cek Kesiapan Mudik Lebaran di Terminal Purabaya, Penumpang Bus Naik 30 Persen

“Kalau minimal ada seribu santri KMI, insyaallah akan lahir banyak kader dai dari Al-Ishlah yang berdakwah di berbagai tempat,” ungkapnya.

Para santri tersebut diharapkan memiliki kualitas keilmuan dan akhlak yang kuat. Selain hafal Al-Qur’an, mereka juga diharapkan mampu menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an, menguasai bahasa Arab dan Inggris, membaca kitab kuning, serta memiliki fisik yang sehat dan karakter yang tangguh.

Dakwah Merangkul

Dalam kesempatan itu, Kiai Thoha juga menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan pendekatan yang penuh kasih sayang.

“Dakwah itu merangkul, bukan memukul,” ujarnya.

Ia mengingatkan agar setiap insan pesantren menjaga hati dari berbagai penyakit hati seperti ujub, hasad atau iri hati, takabur, riya, dan sum’ah, karena hal tersebut dapat merusak keikhlasan dalam perjuangan.

Baca juga: Yayasan Al Muslim Sidoarjo Salurkan Paket Sembako untuk Yatim dan Dhuafa Lewat Drive Thru

Keteladanan Guru dan Kiai

Dalam mendidik santri, Kiai Thoha menekankan pentingnya metode penugasan, pengawasan, dan pembiasaan.
Menurutnya, kualitas santri sangat dipengaruhi oleh keteladanan para guru, kiai, dan pengurus pesantren.

“Santri yang saleh akan menjadikan bangsa dan negara ini saleh. Maka untuk melahirkan santri saleh, guru, kiai, dan pengurus juga harus saleh,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa disiplin waktu harus dimulai dari para pimpinan dan guru sebagai teladan bagi para santri.

“Pimpinan dan guru harus memberi contoh disiplin waktu,” pungkasnya, seraya berharap pesantren terus melahirkan generasi santri yang berilmu, berakhlak, dan siap berdakwah di tengah masyarakat. (ries/yh)

Editor : Yuris. T. Hidayat

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Selasa, 10 Mar 2026 00:16 WIB
Rabu, 11 Mar 2026 04:01 WIB
Sabtu, 14 Mar 2026 04:31 WIB
Berita Terbaru