Jakarta, JatimUPdate.id - Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengungkapkan perubahan signifikan dalam pola konsumsi informasi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda. Ia menyebut lebih dari 70 persen Generasi Z kini memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) sebagai salah satu sumber utama untuk mencari informasi.
Hal tersebut disampaikan Hetifah saat menjadi pembicara kunci dalam diskusi bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas” yang digelar di Jakarta, Minggu (15/3/2026), bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Baca juga: Hetifah Sjaifudian: Tali Asih Pengajian Al-Hidayah itu Wujud Kepedulian Sosial pada Jamaah
Menurutnya, pergeseran perilaku tersebut menandakan bahwa teknologi AI kini bukan lagi sekadar eksperimen digital, tetapi telah menjadi bagian penting dalam ekosistem informasi global.
“Perubahan ini menunjukkan bahwa AI mulai menggeser peran tradisional media massa dalam proses distribusi dan konsumsi informasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan teknologi AI juga berdampak besar pada proses produksi berita di ruang redaksi. Teknologi tersebut mampu meningkatkan efisiensi kerja jurnalis melalui berbagai fungsi, seperti analisis dokumen dalam jumlah besar, transkripsi wawancara, hingga pengolahan data publik secara cepat.
Meski demikian, Hetifah menegaskan bahwa AI seharusnya hanya menjadi alat bantu bagi jurnalis, bukan menggantikan peran manusia dalam proses jurnalistik.
Baca juga: Hetifah: Sensus Ekonomi 2026 Perlu Strategi Berlapis, Realistis, dan Tidak Elitis
Survei di kawasan Asia Tenggara menunjukkan sekitar 95 persen jurnalis sudah familiar dengan penggunaan AI dalam pekerjaan mereka. Namun, menurut Hetifah, keputusan editorial, verifikasi fakta, dan pertimbangan etika tetap harus berada di bawah kendali jurnalis manusia.
Politisi dari Partai Golkar tersebut juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi digital membawa tantangan baru bagi dunia media, terutama terkait risiko penyebaran disinformasi dan manipulasi konten berbasis AI seperti deepfake.
Selain itu, derasnya arus informasi digital juga sering mendorong media untuk berlomba menjadi yang paling cepat dalam menyajikan berita.
Baca juga: Hetifah Sjaifudian: Sekolah Tahan Bencana Harus Jadi Standar Baru
Padahal, menurut Hetifah, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi sebagai prinsip utama jurnalisme.
“AI dapat membantu mempercepat proses kerja, tetapi integritas nurani dan tanggung jawab moral tetap tidak bisa didelegasikan kepada algoritma,” tegasnya (*)
Editor : Redaksi