Oleh: Hijrah Saputra
Baca juga: Mudik: Ritus Budaya dan Keadilan Ekonomi
Pengamat Sosial, alumni UIN Sunan Ampel, alumni Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Ramadan hampir sampai di ujungnya. Di desa-desa, orang mulai menyebut satu kata sederhana tetapi penuh makna, "telasan." Istilah yang biasa dipakai untuk menyebut hari-hari lebaran.
Saat jalan kampung kembali ramai, rumah-rumah terbuka, dan orang-orang pulang membawa cerita perjalanan.
Suasana itu pelan-pelan mulai terasa.
Awal puasa pasar sempat lengang. Namun memasuki siang hingga sore hari, suasana tampak lebih menggeliat. Orang-orang mulai keluar rumah. Aktivitas kembali ramai.
Yang lebih terlihat justru antrian di beberapa instansi. Di sebuah rumah sakit, kursi ruang tunggu dipenuhi orang yang menunggu giliran pelayanan. Di tempat lain ada kegiatan buka bersama sekaligus pembagian sembako bagi mustahiq. Begitulah wajah Ramadan di banyak tempat.
Di pojok pasar, tepat di halaman kantor polisi, becak-becak berbaris rapi. Motor yang dimodifikasi menjadi becak memenuhi sisi jalan selatan dan utara. Mereka datang untuk menerima pembagian sembako.
Mereka ini mungkin termasuk masyarakat yang rentan secara ekonomi. Namun di bulan Ramadan, hampir semua orang seperti ikut mengambil peran untuk peduli. Rezeki yang sedikit dilebihkan diupayakan untuk berbagi.
Indah rasanya.
Sosiolog Émile Durkheim (1893) dalam bukunya The Division of Labor in Society menebut adanya solidaritas sosial. Ikatan yang membuat orang merasa saling terhubung dan terdorong untuk saling membantu. Ramadan sering kali menjadi momentum ketika rasa kebersamaan itu terasa lebih kuat.
Islam terasa begitu ramah. Tidak ada sekat antara yang memberi dan yang menerima. Bahkan dalam ruang pelayanan sekalipun, kadang yang kuat rela memberi tempat kepada yang lebih membutuhkan.
Di kantor, beberapa lembaga zakat, infak, dan sedekah berkumpul. Mereka hadir untuk berpartisipasi. Gerakan membantu kaum dhuafa. Anak-anak yatim dan beberapa fakir miskin didatangkan. Pada saat itu semua berperan.
Tanda-tanda lebaran semakin dekat.
Seorang pegawai terlihat mondar-mandir. Ke depan dan belakang kantor. Wajahnya tampak gelisah. Namun tak lama kemudian terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Ia melihat layar itu sejenak.
Tak lama kemudian ia tersenyum.
Rupanya kabar tentang kepastian biaya perjalanan pulang sudah datang. Optimisme untuk balik kampung seperti sudah di depan mata.
Mereka yang jauh dari kampung halaman tentu berharap-harap cemas. Setahun sekali adalah waktu yang paling ditunggu.
Takbir, tahlil, dan tahmid mulai terdengar dari pengeras suara masjid. Hati yang sebelumnya gelisah perlahan berubah menjadi rasa gembira.
Saya biasanya pulang malam hari. Menyetir sendiri bersama keluarga. Tidak seperti yang lain yang pulang kampung, saya justru pulang kota.
Baca juga: Pemkab dan Baznas Sidoarjo Santuni 1.000 Anak Yatim
Ada celutukan teman.
“Saya ini orang desa rezeki kota.”
Guyonan itu mengingatkan pada pelawak legendaris. Dulu sering muncul dalam acara Bukan Empat Mata. Berbalik dengan saya, mungkin saya termasuk orang kota yang justru rezekinya berada di desa. Hehehe.
Perjalanan jauh tentu melelahkan. Fisik harus kuat. Mata harus tetap terjaga. Tangan waspada memegang kemudi. Kaki bekerja bergantian pada pedal.
Gembira tetap ada. Lelah juga pasti terasa.
Keselamatan tetap menjadi tujuan utama.
Beberapa tahun terakhir ada gerakan menarik: Masjid Ramah Pemudik. Program yang digagas oleh Kementerian Agama Republik Indonesia ini mendorong masjid-masjid di jalur mudik membuka layanan bagi para musafir.
Sebagian masjid bahkan membuka pintunya selama dua puluh empat jam. Para pemudik dapat beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.
Denhardt dan Denhardt (2003) melalui konsep New Public Service (NPS) menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfungsi mengatur masyarakat, tetapi juga melayani kebutuhan warga. Program masjid ramah pemudik menjadi contoh bagaimana pelayanan publik dapat hadir melalui ruang sosial seperti masjid.
Tahun lalu saya berhenti di sebuah masjid. Badan terasa sangat payah. Separuh perjalanan telah dilalui.
Saat kendaraan berbelok ke halaman masjid, seorang bapak bersarung dan berkopyah mengayunkan lampu sebagai tanda agar kendaraan di belakang memberi ruang.
Masjid terbuka menyambut kami sekeluarga.
Masjid singgah bagi pemudik ini sangat membantu. Kebersihan dijaga. Lantai terasa bersih. Kamar mandi wangi. Air wudhu mengalir deras. Air di bak mandi tampak jernih hingga dasarnya terlihat.
Saya merasa kerasan.
Kerja sama seperti ini juga menunjukkan adanya kemitraan antara pemerintah dan masyarakat. Pola seperti ini sering disebut collaborative governance yang dijelaskan oleh Chris Ansell dan Alison Gash (2008). Intinya, pemerintah dan masyarakat bekerja bersama untuk memenuhi kebutuhan publik.
Di desa kami, suasana lebaran memang sering disebut telasan. Hari ketika orang-orang pulang, rumah kembali ramai, dan kampung dipenuhi kunjungan sanak saudara.
Namun sebelum benar-benar sampai di rumah, perjalanan panjang sering membuat orang membutuhkan tempat singgah.
Di jalan pulang itu, kadang kita menemukan sesuatu yang sederhana tetapi menenangkan: sebuah masjid yang pintunya terbuka.
Orang boleh jadi belum sampai rumah. Tetapi di tempat itu badan bisa beristirahat, pikiran menjadi tenang, dan perjalanan terasa lebih ringan.
Barangkali karena itu, bagi sebagian pemudik, masjid tetap menjadi tempat ibadah, sekaligus tempat menemukan ketenangan dalam perjalanan.
Ia juga menjadi tempat singgah sementara sebelum benar-benar pulang.
Wallahu a’lam bish showab.
Editor : Redaksi