Kemenangan Sejati Ala Kaum Sufi: Idul Fitri Bukan Sekadar Lebaran

Reporter : Redaksi
Tri Prakoso, SH.,M.HP, Alumnus Universitas Jember

 

 

Baca juga: Harmoni Nyepi dan Takbiran Dari Desa Balun

Oleh : Tri Prakoso, SH.,M.HP.

Alumnus Universitas Jember

 

Surabaya, JatimUPdate.id

Di tengah hiruk pikuk mudik, baju baru, dan ketupat, kaum sufi merayakan hal lain: kematian ego dan berseminya jiwa yang kembali kepada fitrah. Seperti apakah Idul Fitri versi para pencari Tuhan?

---

Terdengar takbir berkumandang dari masjid-masjid kampung, menggetarkan malam yang sunyi. Esok harinya, jalanan dipenuhi lautan manusia. Saling bermaafan, bersalam-salaman, tersenyum. Idul Fitri, 1 Syawal, memang selalu istimewa. Ia adalah hadiah setelah sebulan penuh berpuasa. Kemenangan, begitu kebanyakan kita menyebutnya.

Tapi, pernahkah kita berhenti sejenak, di sela kesibukan menyiapkan hidangan dan menyetrika baju baru, untuk bertanya: menang dari apa sebenarnya? Dan ke mana kita "kembali"? Karena Idul Fitri, secara bahasa, berarti kembali kepada fitrah.

Bagi kaum sufi, para penempuh jalan spiritual, pertanyaan-pertanyaan ini bukanlah permainan kata. Ia adalah inti dari keberadaan. Mereka meyakini, Idul Fitri adalah momen yang jauh lebih dahsyat dari sekadar seremoni tahunan. Ia adalah perayaan kosmis atas kembalinya ruh manusia ke pangkuan Sang Pencipta.

Fitrah: Bukan Hanya soal Bebas Dosa

Para ulama fiqih mungkin akan menjelaskan fitrah sebagai keadaan suci dari dosa, seperti bayi yang baru lahir. Kita pun bersalaman, saling memaafkan, seolah menggugurkan dosa-dosa antar sesama. Itu benar. Tapi kaum sufi melangkah lebih dalam.

Bagi mereka, fitrah adalah kondisi ruh ketika pertama kali bersaksi di hadapan Tuhan, di alam pra-kelahiran, mengakui "Engkaulah Tuhanku" (Alastu birabbikum). Itulah jati diri kita yang paling asli. Lantas, mengapa kita sering merasa asing dengan diri sendiri? Mengapa jiwa terasa gersang?

Karena fitrah itu tertimbun. Tertimbun oleh lapisan-lapisan debu yang disebut kaum sufi sebagai hijab—tabir yang memisahkan kita dari Tuhan. Debu itu adalah ego, ambisi, cinta dunia, dendam, dan segala macam penyakit hati. Selama sebulan penuh Ramadhan, kita menjalani proses "pengelupasan" debu-debu itu. Puasa, dalam pandangan sufi, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah "diet spiritual" untuk menepis segala hal selain Allah dari diri kita.

"Puasa itu menahan syahwat, menahan segala yang bersifat kebinatangan dan kesetanan," kata seorang mursyid. Proses ini memuncak pada malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam di mana tabir itu menipis, dan sebagian hamba bisa menyaksikan cahaya Ilahi.

Maka, ketika Syawal tiba, mereka yang berhasil melewati proses ini bukan hanya bergembira karena bisa makan dan minum lagi. Mereka bergembira karena telah kembali ke "rumah" mereka yang abadi. Seperti untaian syair indah, mereka menjadi "bagaikan bayi di pangkuan ibunda tak bertanya, bagai kertas putih biarkan Pena-Nya menulis." Ego telah sirna. Yang tersisa hanyalah ketundukan total.

Baca juga: Di Ambang Lebaran: Antara THR, Akreditasi, dan Panggilan Pulang

Idul Fitri Kaum Fakir: Merayakan Ketidakberdayaan

Ada kisah menarik dalam khazanah tasawuf yang tertuang dalam kitab Jami' al-Ushul fi al-Awliya, sebuah ensiklopedia tentang para wali Allah. Dalam kitab itu, tersirat bahwa Idul Fitri versi para wali adalah 'Id al-Fuqara—hari rayanya orang-orang fakir. Tapi bukan fakir harta. Fakir dalam konteks ini berarti menyadari betapa dirinya tidak punya apa-apa di hadapan Allah.

Ini selaras dengan sebuah butir hikmah masyhur dari Syekh Ibnu Athaillah dalam kitab Al-Hikam: "Wurud al-faqat a'yad al-muridin"—kedatangan saat-saat terjepit adalah hari raya Id bagi para murid. Logika ini sungguh terbalik dengan kebanyakan kita. Kita merayakan Id dengan segala "kecukupan": baju baru, rumah bersih, makanan berlimpah.

Tapi bagi seorang salik (penempuh jalan spiritual), momen ketika ia merasa paling hina, paling lemah, paling membutuhkan Allah, justru itulah hari rayanya. Karena saat itulah ia sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Saat itulah penghalang antara ia dan Tuhannya runtuh. Ia tidak lagi bersandar pada amalnya, pada puasanya, pada tarawihnya. Ia bersandar hanya pada rahmat Allah.

Idul Fitri, karenanya, adalah saat untuk merayakan "kematian" keakuan. Saat seseorang berhenti berkata "aku hebat", "aku telah berpuasa", "aku telah menang", dan berganti dengan kesadaran, "semua ini semata karena anugerah-Nya."

Dari Takwa Menuju Ihsan: Buah dari Perjalanan

Tujuan puasa adalah mencapai takwa. Itu sudah jelas dalam Al-Qur'an. Tapi dalam kerangka tasawuf, takwa hanyalah fondasi. Di atasnya ada bangunan yang lebih tinggi bernama ihsan, yaitu kondisi ketika seseorang menyembah Allah seakan-akan ia melihat-Nya.

Di sinilah letak pertautan antara Ramadhan, Idul Fitri, dan bulan Syawal. Ramadhan adalah madrasah takwa. Kita dilatih disiplin, dilatih menahan diri, dilatih berempati. Ketika Idul Fitri tiba, hasil dari pelatihan itu diuji. Apakah takwa hanya berhenti di masjid dan mushala, atau ia menjelma menjadi kesalehan sosial?

Silaturahim yang menjadi tradisi utama lebaran adalah manifestasi dari ihsan. Jika kita benar-benar merasakan kehadiran Tuhan dalam batin, maka wajah Tuhan akan kita lihat pada wajah saudara kita, bahkan pada wajah mereka yang pernah menyakiti kita. Memaafkan menjadi mudah, karena kita sendiri merasa telah diampuni oleh Dzat Yang Maha Pengampun.

Baca juga: Prediksi Lebaran 2026: 21 atau 20 Maret?

Zakat fitrah pun memiliki dimensi yang dalam. Ia tak hanya membersihkan harta, tetapi juga "menyempurnakan" puasa dan membersihkan jiwa dari kekotoran. Tujuannya agar semua orang, terutama yang miskin, bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Tak ada lagi jurang pemisah. Semua adalah hamba yang kembali kepada fitrahnya.

Syawal: Bukan Kembali ke Titik Nol

Nama Syawal sendiri, dalam bahasa Arab, memiliki akar kata syalat yang berarti peningkatan atau naik. Ini pertanda bahwa spiritualitas tidak boleh berhenti di hari raya. Justru, Idul Fitri adalah titik start untuk menjalani sebelas bulan berikutnya dengan semangat yang sama.

Para ulama salaf sangat menekankan kontinuitas ini. Mereka khawatir jika seseorang hanya rajin beribadah di bulan Ramadhan, lalu setelah itu lalai. Seorang sufi besar, Asy-Syibliy, bahkan pernah menegur keras orang-orang yang hanya bersemangat di bulan Ramadhan: "Jadilah rabbaniyyin, janganlah menjadi Ramadhaniyyin."

Artinya, jadilah hamba Allah yang konsisten sepanjang tahun, yang sifat ketuhanannya (rabbani) terpancar kapan saja, di mana saja. Bukan hanya menjadi hamba yang rajin di bulan Ramadhan lalu berubah 180 derajat setelahnya. Anjuran puasa enam hari di bulan Syawal adalah salah satu kunci untuk menjaga konsistensi itu.

Sebuah amal kecil yang berkesinambungan, kata Nabi, lebih dicintai Allah daripada amal besar yang terputus. Maka, di tengah hingar-bingar Lebaran, kaum sufi mengajak kita untuk merenung. Baju baru akan lusuh. Ketupat akan basi. Maaf yang diucapkan bisa saja terlupa. Tapi ada satu hal yang bisa kita bawa pulang dari perayaan ini: hati yang bersih. Hati yang telah kembali kepada fitrahnya, yang hanya rindu pada satu tujuan—Allah.

Idul Fitri adalah momentum untuk mengingat bahwa kita, dengan segala hiruk pikuk dunia ini, pada hakikatnya adalah para pengembara yang sedang pulang. Pulang kepada jati diri, pulang kepada-Nya. 

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru