Oleh: Hijrah Saputra
Pengamat Sosial, alumni UIN Sunan Ampel, alumni Universitas Jember
Bondowoso, JatimUPdate.id - Di tempat yang jauh, suara sirene meraung-raung. Drone melintas di langit. Rudal datang silih berganti. Orang-orang bergegas. Sebagian berlari. Sebagian memeluk anaknya. Sebagian lagi hanya diam, menunggu dengan cemas.
Sirene itu membuat orang menjauh. Mencari tempat aman. Menyelamatkan diri.
Sementara di desa, suara yang hampir serupa terdengar dengan makna yang berbeda.
Dari pengeras suara masjid, adzan berkumandang. Tidak ada yang berlari menjauh. Orang-orang justru berjalan pelan. Ada yang bersarung. Ada yang membawa sajadah. Ada yang masih berbincang kecil di jalan.
Bahkan di beberapa tempat, sirene juga dibunyikan. Sebagai penanda waktu sahur. Sebagai tanda berbuka puasa. Orang-orang tidak panik. Tidak berlari. Justru berkumpul. Menyegerakan makan. Lalu berdoa.
Jika di sana bunyi membuat orang menjauh dari ancaman, di sini suara justru memanggil orang untuk mendekat pada kebersamaan.
Dua suasana. Dua makna. Namun keduanya sama-sama menggerakkan manusia.
Di tengah suasana yang tenang itu, suatu malam sirene juga berbunyi. Sirene yang terdengar kali ini berasal dari ambulans.
Sebuah ambulans melaju di jalan desa. Lampunya berkedip. Sirenenya meraung, membelah jalan yang sempit. Orang-orang menepi. Kendaraan melambat. Jalan dibuka.
Sirene itu tidak untuk ditakuti. Ia hadir sebagai tanda bahwa ada yang harus diprioritaskan.
Di dalam ambulans itu, seorang pemuda menyetir sendirian.
Wajahnya tampan dan hampir selalu tersenyum kepada siapa saja. Tangan kanannya hangat saat bersalaman, sementara tangan kirinya menepuk pelan bagian belakang tangan orang yang ia salami.
Malam itu ia menerima pesan di ponselnya. Kabar duka. Ia diminta segera berangkat.
Perjalanan panjang menunggunya. Mengarah ke barat Pulau Jawa. Jalan malam terasa lengang. Sirene sesekali dinyalakan, membuka jalan ketika diperlukan. Tidak ada rasa bimbang dan takut.
Menjelang sampai, ia menghubungi keluarga yang menunggu. Peta di ponsel memberi arah. Belok kanan. Belok kiri. 500 meter lagi sampai tujuan.
Ambulans itu berhenti di sebuah kampung yang bersih dan tertata. Beberapa orang sudah berkumpul. Di situlah ia mengetahui sesuatu yang tidak ia duga.
Kampung itu mayoritas non-Muslim. Namun keluarga memiliki satu permintaan, jenazah tetap dimakamkan secara Islam. Dimandikan. Dikafani. Disalatkan. Dimakamkan. Nafas perlahan terhenti.
Ia terdiam sejenak. Sirene yang tadi membuka jalan kini telah berhenti. Suasana kembali sunyi.
Ia meminta izin ke kamar mandi. Di sana ia cukup lama. Malam terasa hening. Tidak ada suara gaduh. Tidak ada desakan. Hanya satu hal, apa yang harus ia lakukan.
Beberapa saat kemudian ia keluar. Badannya ditegakkan. Kopiyahnya dirapikan. Senyumnya kembali, meski lebih sederhana. Lalu ia melakukan apa yang harus dilakukan.
Jenazah dimandikan. Dikafani. Disalatkan. Hingga akhirnya dimakamkan.
Semua berjalan tenang.
Seminggu setelah itu, cerita kecil mulai beredar. Ternyata saat di kamar mandi malam itu, ia tidak hanya diam.
Ia membuka ponselnya. Mencari. Membaca. Mungkin juga menonton.
Tentang bagaimana memandikan jenazah.
Tentang bagaimana mengkafani.
Tentang bagaimana menyalatkan.
Ia belajar di tengah keadaan yang tidak ia rencanakan.
Di tempat lain, sirene membuat orang berlari menjauh dari bahaya.
Di tempat ini, sirene membuka jalan. Di waktu lain, sirene justru memanggil orang untuk berkumpul.
Bunyi yang sama.
Makna yang berbeda.
Seorang pemikir perdamaian, Johan Galtung dalam tulisannya Violence, Peace, and Peace Research (1969) pernah mengingatkan bahwa damai tidak selalu hadir dalam peristiwa besar, melainkan tumbuh dari tindakan-tindakan kecil yang menjaga kemanusiaan tetap hidup.
Barangkali malam itu tidak ada yang menganggapnya sebagai sesuatu yang besar. Tidak ada sorak. Tidak ada tepuk tangan.
Namun seseorang tetap belajar, tetap melangkah, dan tetap menuntaskan tanggung jawabnya.
Dan mungkin, di jalan yang sunyi seperti itu, damai bekerja dengan caranya sendiri.
Wallahu a'lam bish showab.
Editor : Redaksi