Oleh : Salihudin ( Pernah Ber- HMI).
Baca juga: Bahlil Lahadalia: Geopolitik Timur Tengah Mengingatkan Pentingnya Ketahanan Energi Nasional
Jakarta, JatimUPdate.id - Di tengah keragaman pemikiran Islam, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hadir dengan corak keberislaman yang khas.
Ia sering disebut sebagai “mazhab HMI”, meskipun pada hakikatnya justru tidak bermazhab dalam pengertian sempit. Islam dalam perspektif HMI adalah Islam yang independen, terbuka, dan rasional.
Ia tidak mengikat diri pada satu mazhab fikih tertentu, tetapi menghargai seluruh khazanah pemikiran Islam sebagai sumber pembelajaran.
Sikap ini bukan bentuk ketidakjelasan, melainkan justru cerminan kedewasaan dalam beragama: bahwa kebenaran tidak dimonopoli oleh satu tafsir, melainkan terus dicari melalui akal sehat dan dialog yang jernih.
Karakter utama Islam dalam tradisi HMI adalah penolakan terhadap sikap jumud atau kaku.
Agama tidak dipahami sebagai kumpulan aturan yang beku, tetapi sebagai nilai yang hidup dan relevan dengan zaman.
Karena itu, kader HMI didorong untuk berpikir kritis, membaca realitas, dan mengaitkan ajaran Islam dengan konteks sosial yang terus berubah. Islam tidak berhenti pada teks, tetapi bergerak menuju makna.
Dalam bahasa sederhana, bukan hanya “apa bunyinya”, tetapi “apa maksudnya” dan “bagaimana dampaknya bagi kehidupan manusia”.
Pendekatan ini juga terlihat dalam cara HMI memandang syariah. Islam HMI bukanlah Islam yang sekadar berorientasi pada simbol dan formalitas hukum (syariah oriented), tetapi lebih menekankan pada substansi syariah itu sendiri. Nilai keadilan, kemaslahatan, dan kemanusiaan menjadi inti yang diperjuangkan.
Baca juga: Ramadhan dan Luka Umat: Di Mana Rasa Satu Tubuh Itu?
Syariah tidak hanya diukur dari kepatuhan pada bentuk lahiriah, tetapi dari sejauh mana ia menghadirkan kebaikan bagi manusia. Dalam konteks ini, Islam menjadi jalan pembebasan, bukan sekadar sistem aturan.
Sikap moderat dan rasional ini juga tercermin dalam menyikapi perbedaan, termasuk dalam penentuan 1 Syawal.
Perbedaan antara metode rukyat dan hisab tidak dipandang sebagai konflik yang harus dipertentangkan secara dogmatis. HMI melihatnya sebagai bagian dari dinamika ijtihad dalam Islam.
Perbedaan adalah keniscayaan, bukan ancaman. Karena itu, yang dikedepankan bukan klaim kebenaran sepihak, tetapi sikap saling menghargai dan memahami dasar pemikiran masing-masing.
Dalam tradisi intelektual HMI, perbedaan justru menjadi ruang belajar, bukan sumber perpecahan.
Lebih jauh, Islam HMI menempatkan akal sebagai mitra wahyu. Wahyu memberikan arah, sementara akal membantu memahami dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Keduanya tidak dipertentangkan, tetapi disinergikan.
Baca juga: KAHMI UK Gelar Buka Bersama, Perkuat Silaturahmi dan Kolaborasi Diaspora Indonesia
Inilah yang membuat Islam HMI tetap relevan di tengah tantangan modernitas, tanpa kehilangan akar spiritualnya. Ia mampu berdialog dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan sosial, tanpa harus merasa terancam.
Last but not least, Islam "mazhab" HMI adalah Islam yang membumi dan mencerahkan.
Ia tidak terjebak dalam romantisme masa lalu, tetapi juga tidak kehilangan nilai-nilai dasarnya. Ia hadir sebagai Islam yang ramah, rasional, dan terbuka. Islam yang tidak mudah menghakimi, tetapi selalu berusaha memahami.
Dalam dunia yang penuh perbedaan seperti hari ini, corak keberislaman seperti inilah yang justru semakin dibutuhkan: Islam yang mampu merangkul, bukan memukul.
Selamat Idul Fitri 1447 H utk yg sholat hari Jumat dan Sabtu.
Minal aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙏
Editor : Redaksi