Oleh: Rio Rolis
Baca juga: Pendapat Pengamat Soal Perang AS-Israel vs Iran sekarang
Reporter JJatiUPpdat.id wilayah Blitar Raya
Blitar, JatimUPdate.id - Perang terbuka Amerika–Israel versus Iran sudah memasuki minggu ke-6 sejak serangan pertama dilancarkan pada tanggal 28 Februari 2026 yang lalu. Sejak saat itu, aksi saling serang dan membalas terus terjadi.
Hal lucu justru terjadi dari dalam negeri ketika seorang mantan Presiden RI dengan bangga mengatakan, “Saat perang hari ketiga, saya menelepon kakak saya yang mulia, MBZ. Saya tanya kapan perang akan selesai?”
Saya bukan pembenci Jokowi. Apabila harus mengidentifikasi diri dan melihat kecenderungan, penulis justru dapat dikategorikan sebagai pendukung Jokowi, walaupun tidak dapat dikatakan berada pada barisan pendukung garis keras.
Namun, untuk satu hal ini—entah tulisan ini akan sampai dan dibaca oleh Jokowi atau tidak (kalau memang Jokowi membaca: sebuah kebanggaan bagi sayaš)—saya akan mengatakan bahwa pernyataan beliau tersebut terlihat sangat konyol.
Tahun 2004, saat penulis masih berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember, penulis terlibat dalam sebuah forum diskusi kecil yang tidak formal dan sangat santai.
Tanpa tema dan perencanaan sebelumnya, wajar jika arah diskusi melebar ke mana-mana, dengan beberapa teman lintas jurusan.
Yang menjadi pusat pembicaraan saat itu adalah seorang dosen Jurusan Hubungan Internasional bernama Agus Tri Hartono. Di tengah keseriusan beliau mempersiapkan diri untuk melanjutkan program pascasarjana ke salah satu kampus di Jepang, beliau masih menyempatkan waktu untuk berdiskusi dengan adik-adik mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra kampus HMI Cabang Jember Komisariat FISIPOL, di luar jadwal mengajarnya di kampus.
Tidak banyak yang saya ingat dari diskusi itu. Namun, hal yang paling saya ingat sampai saat ini adalah pernyataan beliau bahwa, “Yang paling ditakuti saat sebuah perang dimulai adalah pertanyaan tentang kapan perang berakhir.”
Saat itu, saya tidak cukup yakin benar-benar mengerti apa yang beliau sampaikan hingga suatu saat saya mendapatkan pemahaman dari salah satu senior bernama Yuristiarso Hidayat tentang makna “peperangan” dan “pertempuran”.
Setiap kali perang meletus, publik selalu mengajukan pertanyaan yang sama: “Ini akan selesai kapan?”
Pertanyaan itu terdengar logis—sampai kita sadar bahwa perang bukan proyek pembangunan jalan tol yang memiliki target selesai dan papan progres 78%.
Mungkin dari sini saya berkesimpulan bahwa pernyataan Jokowi adalah refleksi dari kinerja beliau yang telah menjabat selama dua periode, di mana banyak proyek jalan tol dan proyek besar infrastruktur dilaksanakan pada era pemerintahannya, sehingga memengaruhi persepsi beliau terhadap jalannya perang.
Padahal, begitu peluru pertama ditembakkan, yang sebenarnya selesai lebih dahulu justru satu hal: kepastian.
Para pemimpin memasuki perang dengan penuh percaya diri. Mereka membawa peta, grafik, simulasi, bahkan kadang survei elektabilitas. Namun, begitu konflik dimulai, semua berubah menjadi satu hal yang lebih sederhana: siapa yang lebih cepat kehabisan napas—atau lebih dahulu kehilangan akal sehat.
Carl von Clausewitz terkenal dengan gagasannya bahwa perang adalah “kelanjutan politik dengan cara lain”.
Dalam praktiknya, perang sering kali bukan kelanjutan politik, melainkan kelanjutan ego—dengan biaya yang ditanggung rakyat. Ironisnya, dalam perang modern, hidup mungkin tidak selalu singkat, tetapi pasti terasa panjang dan brutal, terutama bagi mereka yang tidak pernah ikut dalam rapat pengambilan keputusan.
Di sisi lain, Sun Tzu dengan bijak mengatakan bahwa perang terbaik adalah yang dimenangkan tanpa pertempuran. Sayangnya, nasihat itu sering dibaca seperti motivasi pagi hari—dikagumi, lalu diabaikan sepenuhnya. Justru yang lebih sering diambil dari Sun Tzu adalah strategi untuk mengalahkan musuh.
Sebagai anekdot yang terasa seperti fakta di dunia nyata saat ini, seorang wartawan pernah bertanya kepada seorang jenderal di awal konflik, “Apakah ini akan menjadi perang cepat?”
Sang jenderal menjawab dengan mantap, “Tentu. Semua sudah kami perhitungkan.”
Enam bulan kemudian, wartawan yang sama bertemu kembali dengan jenderal tersebut—kali ini dengan wajah yang lebih lelah. “Jadi, bagaimana perhitungannya sekarang?” tanyanya.
Jenderal itu terdiam sejenak, lalu berkata, “Kami masih menghitung. Masalahnya, musuh juga ternyata bisa berhitung.”
Bukankah anekdot di atas terasa nyata jika kita mengikuti dinamika White House hari ini? Di awal perang, Trump menyampaikan tujuan dari konflik ini dan dengan percaya diri mengatakan bahwa perang hanya akan berlangsung selama dua minggu. Namun, seiring dinamika di medan perang, tujuan berubah dan waktunya pun terus mengalami penyesuaian.
Di situlah letak absurditas perang. Semua pihak merasa rasional, semua membawa kalkulasi, tetapi hasil akhirnya sering kali adalah kekacauan kolektif.
Dari kacamata Michel Foucault, politik justru adalah kelanjutan perang dengan cara lain. Jika demikian, kita sedang hidup dalam siklus tanpa jeda, di mana perang dan politik saling menyamar satu sama lain, seperti aktor yang lupa kapan harus keluar panggung.
Baca juga: Catur, Poker, dan Api di Timur Tengah: Membaca Konflik AmerikaāIsrael versus Iran
Dan jangan lupakan Hannah Arendt, yang mengingatkan tentang banalitas kejahatan—bahwa keputusan besar yang menghancurkan hidup jutaan orang sering kali diambil dengan nada birokratis, seolah sedang menyusun agenda rapat, bukan menentukan hidup dan mati manusia.
Maka, pertanyaan “kapan perang selesai” sebenarnya naif. Bukan karena bodoh, melainkan karena terlalu berharap pada logika dalam situasi yang justru kehilangan logika.
Perang tidak memiliki kalender. Ia memiliki momentum, kepentingan, dan kelelahan.
Kadang berakhir karena kemenangan, tetapi lebih sering karena semua pihak terlalu lelah untuk melanjutkan.
Dan bahkan ketika perang “selesai”, itu sering kali hanya perubahan bentuk: dari tembakan menjadi embargo, dari tank menjadi propaganda, dari medan tempur menjadi meja diplomasi yang sama kerasnya.
Jadi, berhentilah bertanya kapan perang selesai. Karena hal itu hanya membuat penanyanya terlihat tidak memahami realitas.
Lebih jujur jika kita bertanya: berapa lama manusia bisa terus meyakinkan diri bahwa semua ini masih masuk akal?
Karena dalam banyak kasus, perang tidak benar-benar dimenangkan. Ia hanya berhenti—sementara dunia berpura-pura bahwa semuanya telah kembali normal.
Mau lebih jujur lagi? Kita patut bersyukur wacana Jokowi tiga periode telah gagal. Namun, di tengah kondisi ketidakpastian global saat ini, apakah kita juga bersyukur dengan langkah Prabowo dalam percaturan politik global?
Waktu yang akan menjawab.
Editor : Redaksi