Jangan Tumbalkan "Wong Cilik" Demi Ambisi Berburu Piala

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ilustrasi, jatimupdate.id
Ilustrasi, jatimupdate.id

Catatan Redaksi - Aroma penertiban dan penggusuran masih terasa menyengat di sudut kota belakangan ini. 

Lapak-lapak pedagang kaki lima dihalau, ruang-ruang hidup wong cilik terkesan ditata paksa dengan dalih penegakan aturan. 

Di balik gerak cepat yang terkesan mendadak ini, publik mengendus motif yang klise ada indikasi kuat "bebenah kota" dilakukan demi memenuhi standar penilaian memburu penghargaan.

Masyarakat patut merasa cemas dengan fenomena ini. Sebab sungguh ironis jika ruang hidup wong cilik digilas bukan karena kebutuhan mendesak tata kota yang inklusif.

Namun diindikasikan demi memoles wajah kota agar tampak cantik di mata tim penilai. 

Jika dugaan ini benar, maka kebijakan yang diambil telah kehilangan jiwanya, berubah menjadi kosmetik politik demi gengsi dan legitimasi elite.

Tentu, masyarakat tidak menolak ketertiban, apalagi untuk kemajuan. Namun, sebuah proses menuju penghargaan akan cacat secara moral jika bermandikan air mata rakyatnya sendiri. 

Menertibkan tanpa memberikan solusi yang manusiawi, atau menggusur tanpa dialog merupakan bentuk kekerasan birokrasi yang dibungkus dengan narasi estetika.

Wong cilik tidak butuh pemimpin yang sibuk mematut diri di depan cermin birokrasi demi sepotong plakat. Yang mereka butuhkan saat ini welas asih, empati yang dalam bentuk kebijakan. 

Welas asih menempatkan manusia di atas angka statistik, dan menempatkan perut wong cilik di atas urusan estetika kota. Sebelum trofi itu benar-benar mendarat di atas meja kekuasaan. 

Keberhasilan sejati seorang pemimpin tidak diukur banyaknya piala yang berjejer di lemari kaca kepala daerah.

Melainkan seberapa aman wong cilik mencari nafkah tanpa perlu dihantui rasa cemas. 

Stop memburu penghargaan jika harganya harus dibayar oleh penderitaan wong cilik.