Catatan Kaki Yayat Biaro 15426

Menatap Gelap, Merawat Sekoci: Christina Koch dan Absurditas Semesta

Reporter : Redaksi
Yayat Biaro, Aktivis Pro Demokrasi, Founder Jaringan Indonesia

Oleh Yayat Biaro

Aktivis Pro Demokrasi, Founder Jaringan Indonesia

Baca juga: "Jangan Tanya Kapan Perang Selesai: Karena Sejak Peluru Pertama, Akal Sehat Sudah Pensiun"

 

Jakarta, JatimUPdate.id - Misi Artemis II berlangsung saat dunia berdiri di tubir perang global. Perang Rusia–Ukraina belum usai, lalu disusul eskalasi yang lebih berbahaya: Amerika–Israel versus Iran. Di satu sisi, empat manusia melesat menembus gelap untuk melihat rumahnya dari jauh.

Di sisi lain, manusia di rumah itu sibuk membakarnya. Kontradiksi ini telanjang, dan filsafat eksistensialisme adalah pisau yang paling tajam untuk membedahnya.

Eksistensialisme lahir dari reruntuhan. Ketika perang, kematian Tuhan, dan mesin-mesin ideologi merontokkan makna yang dulu diyakini turun dari langit, filsafat Barat berbalik ke manusia: telanjang, bebas, dan terlempar ke dunia tanpa petunjuk. Dari Kierkegaard hingga Sartre, pertanyaannya sama: apa yang mesti diperbuat saat kita sadar semesta bungkam? Bahwa tidak ada esensi bawaan, tidak ada garis takdir, hanya kita dan pilihan-pilihan yang memuakkan. Di abad 21, pertanyaan itu tak lagi digumuli di kafe Paris, melainkan 380 ribu kilometer dari Bumi, lewat mata seorang astronaut.

Christina Koch
Dalam wawancara pasca-misi Artemis II, Christina Koch berkisah tentang momennya memandang Bumi dari dekat Bulan:  
 “Saat kami melihat bumi yang begitu kecil banyak yang bertanya pada kru kami, kesan apa yg kamu rasakan. Jujur saja, apa yg paling membekas bagi saya, bukan hanya bumi itu sendiri, melainkan hamparan kegelapan di sekelilingnya. Bumi hanya terlihat seperti sekoci penyelamat yang menggantung tenang di alam semesta... yang rapuh, tapi penuh kehidupan. Dari sejauh itu, semua batas yang kita buat — negara, ras, perbedaan — hilang. Tidak ada garis. Tidak ada tembok. Yang ada cuma satu bola biru yang kita tinggali bersama.”

Tiga Wajah Eksistensialisme di Atas Sekoci

Albert Camus dan Absurd

“Hamparan kegelapan di sekelilingnya” adalah wajah telanjang Absurd yang ditulis Camus di Mitos Sisifus.

Manusia mendamba makna, semesta menjawab dengan diam.

Koch tidak menemukan paduan suara malaikat di sana. Yang dia temukan justru kekosongan tak bertepi. Namun ia tak bunuh diri, tak pula lari ke dogma. Ia berbalik ke “sekoci” yang rapuh. Inilah pemberontakan Camus: merawat yang fana justru karena semesta tak peduli. Bahagia bukan karena ada jaminan, tapi karena kita memilih tetap mendayung, sementara di bawah, bom dijatuhkan atas nama garis yang dari Bulan pun tak kelihatan.

Baca juga: Lebaran di Tengah Dentum Dunia

Jean-Paul Sartre dan Tanggung Jawab Radikal 

“Semua batas yang kita buat — negara, ras, perbedaan — hilang.”

Bagi Sartre, kalimat itu adalah gugatan telak pada mauvaise foi, itikad buruk. Kita sering bersembunyi di balik “sudah dari sananya saya begini”: suku saya, bangsa saya, agama saya.

Dari jendela Orion, Koch menyaksikan fakta ontologisnya, garis itu tidak ada. Tidak ada di atmosfer, tidak ada di Bulan. Maka kebencian atas nama garis itu adalah pilihan bebas kita. Kita dikutuk untuk bebas, kata Sartre, dan karena itu dituntut bertanggung jawab penuh atas sekoci biru ini. Tidak ada Tuhan, tidak ada sejarah, tidak ada “kepentingan nasional” yang bisa kita jadikan kambing hitam.

Martin Heidegger dan Sein-zum-Tode  

“Bumi... yang rapuh, tapi penuh kehidupan” adalah kesadaran Sein-zum-Tode: ada-menuju-mati. Heidegger percaya manusia baru otentik ketika ia hidup dengan kesadaran akan kematiannya sendiri.

Baca juga: Demokrasi, Alat atau Tujuan ?

Koch mengalami versi kosmiknya: melihat kefanaan Bumi dari luar. Planet ini tak abadi. Bisa ditabrak asteroid, bisa mati saat Matahari padam. Justru karena rapuh, maka “penuh kehidupan” itu jadi mendesak. Kematian bukan untuk ditangisi, tapi untuk menghidupkan. Yang otentik bukan yang membangun tembok dan meluncurkan rudal, melainkan yang menjaga penumpang sekoci.

Seandainya Christina adalah Søren Kierkegaard

Seandainya yang melayang di jendela Orion itu bukan Christina Koch, melainkan Søren Kierkegaard dengan mantel hitam dan topi silindernya, mungkin narasinya akan berbelok. Ia akan tetap gemetar di hadapan hamparan kegelapan itu. Ia akan menamainya Angst, ngeri eksistensial yang merobek dada. Tapi ia tak akan berhenti pada “kita semua satu rumah”. Bagi Kierkegaard, kegelapan itu adalah jurang yang hanya bisa dilompati dengan loncatan iman. Ia akan berbisik, bukan ke Houston, tapi ke langit yang kosong: “Di sinilah aku, Tuhan, telanjang dan tak berdaya. Justru karena tak ada alasan untuk percaya, maka aku percaya.” Sekoci itu, bagi Kierkegaard, bukan sekadar untuk didayung bersama. Ia adalah panggung untuk memilih: putus asa, atau melompat ke pelukan Tuhan yang tak pernah memberi bukti. Dan mungkin, di tengah sunyi Bulan, ia akan memilih lompat. Sementara Koch memilih mendayung.

Begitulah. Iman jadi penting justru saat kesadaran untuk merawat sesama dikalahkan oleh pilihan untuk saling menghancurkan. Ketika sekoci bocor bukan karena asteroid, melainkan karena penumpangnya sendiri yang melubanginya. Di titik itu, kita dipaksa memilih: jadi Koch yang mendayung, atau jadi Kierkegaard yang melompat. Atau jadi kita sekarang: yang cuma menonton keduanya dari berita tak dapat menangkap makna tak berarti apa-apa?

***

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru