Kopi Pagi, Kampus, dan Kegelisahan Zaman

Reporter : Redaksi
AFEBSI JATIM

 

Oleh Dr. Agus Andi Subroto

Baca juga: Menenun Harapan dari Meja Kopi: Catatan Malam Persiapan Kongres Perdana AFEBSI

Ketua DPD AFEBSI Jatim 

 


Surabaya, JatimUPdate.id - Pagi-pagi, layaknya manusia yang hidup di era modern, jemari kita akrab dengan layar gawai sebelum benar-benar akrab dengan dunia.

Berita datang silih berganti, kadang membawa harapan, kadang pula menyuguhkan kegelisahan. Pagi ini, secangkir kopi panas yang baru saja tersaji mendadak terasa dingin. Sebuah informasi tentang rencana pemerintah menutup program studi yang dianggap kurang relevan dengan kebutuhan industri, sontak mengusik pikiran.

Pertanyaan pun bermunculan. Bagaimana kabar para pendidik? Apa yang dirasakan para pejabat struktural di kampus-kampus negeri maupun swasta? Tentu ini bukan sekadar isu administratif. Ini menyentuh jantung perguruan tinggi: identitas, arah, dan masa depan.

Kampus memang tidak boleh berjalan tertatih di belakang perubahan. Dunia industri bergerak cepat, teknologi melesat, dan kebutuhan pasar terus bertransformasi.

Perguruan tinggi dituntut adaptif, lincah, serta mampu melahirkan lulusan yang relevan. Namun, kampus juga bukan pabrik yang hanya memproduksi tenaga kerja. Kampus adalah ruang peradaban, tempat ilmu tumbuh, nilai dibangun, dan karakter ditempa.

Baca juga: AFEBSI, Makassar, dan Ikhtiar Merawat Nalar Publik

Karena itu, relevansi tidak boleh dimaknai secara sempit. Bukan sekadar seberapa cepat lulusan terserap industri, tetapi juga seberapa besar kontribusinya bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

Ada ilmu-ilmu yang manfaatnya tidak selalu terlihat dalam hitungan kuartal, tetapi sangat menentukan dalam perjalanan panjang sebuah bangsa.

Bagi para pengelola perguruan tinggi, ini adalah alarm, bukan ancaman. Saatnya mengevaluasi kurikulum, memperkuat kolaborasi dengan dunia usaha, serta memastikan setiap program studi memiliki daya saing dan keunikan. Bertahan bukan pilihan; bertransformasi adalah keharusan.

Pada akhirnya, zaman selalu memberi ujian kepada setiap generasi. Mereka yang mampu membaca perubahan akan tetap berdiri. Mereka yang enggan berbenah akan tertinggal.

Sepertinya para pengarep yang berkecimpung setiap hari di dunia pendidikan negeri di Jatim khususnya yang tergabung dengan AFEBSI JATIM: perlu duduk bareng diskusi dengan cengkok guyon maton parikeno, menyoal fenomena di atas!

Kopi pagi boleh saja mendingin, tetapi semangat untuk membangun kampus yang relevan dan bermartabat tidak boleh ikut dingin.

"Perguruan tinggi terbaik bukan yang paling tua, melainkan yang paling siap menghadapi masa depan."

Surabaya, 28 April 2026

Editor : Redaksi

Politik Dan Pemerintahan
Trending Minggu Ini
Berita Terbaru