Oleh: Eko M Ridwan
Baca juga: Mas Kiai soal Kesenian Sumenep: Harus Dirawat Layaknya Masa Walisongo
Pemerhati Sosial Budaya
Surabaya, JatimUPdate.id - LAYAR sejarah Indonesia kerap menampilkan episode masuknya Islam sebagai kisah yang hitam-putih.
Ada masa "gelap" Hindu-Buddha, lalu datang cahaya Islam yang menyapu bersih tradisi lama. Narasi ini bukan hanya simplistis, melainkan juga mengabaikan realitas budaya yang jauh lebih rumit dan menarik.
Di balik permukaan pertemuan dua peradaban besar itu, tersembunyi sebuah drama spiritual yang penuh nuansa: tentang bagaimana tradisi kuno tidak lenyap begitu saja, melainkan bermetamorfosis, berganti kulit, namun tetap mempertahankan inti pencariannya akan Yang Maha Gaib.
Di jantung cerita inilah Tantra Bhairawa, sebuah aliran mistik yang dahulu pernah menjadi kekuatan spiritual dominan di Nusantara, memainkan peran yang nyaris terlupakan.
Bukan sebagai musuh yang dikalahkan, melainkan sebagai "perangkat keras" spiritual yang kemudian diprogram ulang oleh para penyebar Islam awal, terutama Wali Songo di tanah Jawa.
Inilah kisah tentang kontinuitas yang tersamar, tentang revolusi spiritual yang memanfaatkan kerangka kesadaran lama untuk menanamkan iman baru.
Untuk memahaminya, kita perlu menyelami lapisan-lapisan sejarah yang rumit, membongkar prasangka, dan melihat dengan jernih bagaimana sesungguhnya Islam bertemu dan berpadu dengan tradisi spiritual Nusantara.
Sebuah pertemuan yang melahirkan bukan sinkretisme dangkal, melainkan sintesis budaya yang jenius.
Tantra yang Terlupakan: Melampaui Stigma Ritual Gelap
Nama Tantra dalam imajinasi modern seringkali tereduksi menjadi sekadar ritual orgiastik, ilmu hitam, atau praktik sihir.
Stigma ini berakar panjang, sebagian disebarkan oleh para orientalis kolonial yang melihat tradisi Timur dengan kacamata eksotis dan merendahkan, sebagian lagi oleh kalangan agamawan yang menudingnya sebagai penyembahan berhala.
Padahal, jika kita menelusuri akar filologis dan historisnya dengan saksama, Tantra adalah sebuah tradisi esoterik yang memiliki kedalaman filosofis luar biasa.
Secara etimologis, kata Tantra berasal dari akar Sanskerta tan yang berarti "memperluas" dan tra yang berarti "membebaskan".
Jadi Tantra adalah jalan untuk memperluas kesadaran dan membebaskan diri dari belenggu ketidaktahuan (avidya).
Tradisi ini tumbuh subur di India sekitar abad ke-5 Masehi dan meresap ke dalam dua agama besar: Hinduisme dalam bentuk sekte Sakta-Saiva, dan Buddhisme dalam bentuk Vajrayana atau Mantrayana.
Apa yang membuat Tantra istimewa adalah pendekatannya yang radikal terhadap realitas. Jika jalan-jalan spiritual ortodoks menekankan penolakan terhadap dunia dan asketisme keras, Tantra menawarkan jalan bhukti-mukti: menikmati dunia sambil mencapai pembebasan.
Tujuannya bukan melarikan diri dari realitas, melainkan mentransformasikan energi indrawi menjadi energi spiritual melalui ritual yang sangat terstruktur.
Dunia bukanlah ilusi yang harus dijauhi, melainkan manifestasi energi Ilahi yang harus dihormati dan diharmoniskan.
Dalam kosmologi Tantra, Realitas Tertinggi tidaklah statis dan pasif. Brahman memiliki dua aspek yang tak terpisahkan: aspek pasif-transenden yang disebut Siwa, dan aspek aktif-imanen yang disebut Sakti.
Sakti adalah energi kreatif kosmos, kehendak Ilahi yang terus bergerak, mencipta, dan memelihara.
Maka, pemujaan pada Sakti bukanlah penyembahan berhala yang simplistis, melainkan upaya mistik untuk menyelaraskan diri dengan energi dinamis Ilahi. Inilah yang dalam kosmologi lokal dipahami sebagai "Sunatullah", hukum alam yang mengatur keseimbangan semesta.
Barangsiapa melanggarnya, ia akan terjerat karma—hukuman alamiah atas perbuatannya sendiri.
Ciri khas Tantra yang paling menonjol adalah penggunaan Mantra dan Yantra. Dalam tradisi India, istilah mantra bukan sekadar doa atau jampi-jampi.
Ia adalah "teks" dalam arti seluas-luasnya: sebuah sistem, metode, instrumen, dan teknik yang bersifat sistematis dan dapat diterapkan secara universal.
Mantra adalah getaran suara suci yang diyakini mampu mengakses realitas transenden. Sementara Yantra adalah diagram geometris suci, representasi visual dari energi Ilahi yang digunakan sebagai alat meditasi.
Kombinasi keduanya menjadikan Tantra sebagai teknologi spiritual yang mapan: sebuah jalan mantra, "Mantrayana", yang menjanjikan pencerahan pribadi di tengah kehidupan duniawi.
Di sinilah letak revolusi Tantra. Ia mendemokratisasi pencapaian spiritual yang sebelumnya hanya mungkin diraih oleh para brahmana atau biksu yang meninggalkan dunia.
Kini, seorang perumah tangga pun bisa mencapai pencerahan, asalkan ia menguasai teknologinya. Inilah yang membuat Tantra begitu menarik dan menyebar luas, termasuk ke Nusantara.
Kerajaan Bhairawa di Bumi Nusantara: Substrat yang Terlupakan
Keberadaan Tantra di Nusantara bukanlah catatan pinggir. Justru, ia pernah menjadi arus utama yang membentuk lanskap religius. Aliran Bhairawa—sebuah sekte Tantra kiri yang berani dalam menggunakan simbol-simbol seperti tengkorak, darah, dan persetubuhan ritual (maithuna) sebagai alegori penyatuan Siwa-Sakti—pernah menjadi agama istana.
Bukti-bukti arkeologis dan filologis mengonfirmasi hal ini. Prasasti-prasasti kuno dan teks-teks seperti Sutasoma serta Kakawin Arjunawiwaha merekam praktik-praktik yoga Tantra di kalangan elite kerajaan.
Puncaknya adalah masa Raja Kertanegara dari Singhasari pada abad ke-13 Masehi. Raja yang ambisius ini adalah seorang penganut Bhairawa yang taat.
Ia menjadikan ritual penyatuan Siwa-Buddha sebagai fondasi politik dan spiritual kekuasaannya. Bagi Kertanegara, kekuasaan duniawi adalah refleksi dari kekuasaan kosmis, dan raja adalah titik pusat tempat energi Ilahi bertakhta.
Apa yang terjadi setelah keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha besar? Struktur kesadaran Tantra tidak lenyap.
Ia mengalami proses lokalisasi dan demokratisasi, turun dari istana dan menyebar ke dalam praktik-praktik mistik pedesaan. Inilah fenomena yang sering diabaikan: bahwa masyarakat agraris Nusantara, dengan pandangan dunianya yang kosmosentris, menemukan resonansi mendalam dengan inti ajaran Tantra.
Bahwa alam raya adalah tubuh Tuhan, bahwa energi Ilahi mengalir dalam seluruh ciptaan, bahwa manusia adalah mikrokosmos yang harus selaras dengan makrokosmos—semua ini adalah gagasan-gagasan yang dengan mudah diterima oleh petani Jawa yang hidupnya bergantung pada pembacaan tanda-tanda alam.
Kosmologi Nusantara memahami penciptaan bermula dari "Sanghyang Suwung", sebuah kehampaan misterius yang bukan ketiadaan, melainkan potensi murni. Ini adalah paralel yang menakjubkan dengan konsep Siwa tanpa atribut (Nirguna Brahman) dalam Hindu atau Sunyata dalam Buddhisme.
Dari keheningan Suwung ini, muncullah sabda—kehendak Ilahi yang menciptakan ruang dan energi.
Energi ini menyebar ke delapan penjuru mata angin dan membentuk pusaran di titik pusatnya.
Konsep delapan arah ini sangat sentral dalam Tantra sebagai Astadikpala, delapan penjaga arah yang membentuk mandala kosmis.
Di pusat mandala itulah titik terpenting berada: titik pertemuan energi maskulin dan feminin yang dilambangkan sebagai Lingga dan Yoni.
Dalam idiom lokal, titik ini disebut "Rohman-Rohim, kasih sayang, Yin Yang, Lanang Wadon." Ini adalah pengakuan yang mendalam bahwa polaritas Ilahi adalah fondasi penciptaan, bukan sekadar simbol kesuburan biologis.
Seluruh alam semesta, dalam pandangan ini, adalah permainan cinta kosmis antara prinsip maskulin dan feminin Ilahi.
Kosmologi ini diejawantahkan ke dalam sistem Dasaksara, sepuluh aksara mistis yang membentuk geometri suci Mandala.
Dalam yoga Tantra, Mandala adalah istana dewata, peta kesadaran yang digunakan untuk meditasi mendalam.
Leluhur Nusantara mengadaptasi konsep ini dan menjadikannya fondasi pemahaman tentang realitas: bahwa alam semesta adalah emanasi dari getaran suara (Sabda Brahman), dan melalui penguasaan getaran itu—melalui mantra—seseorang dapat kembali ke Sumbernya.
Inilah fondasi metafisika yang kelak akan menjadi jembatan utama menuju penerimaan konsep wahyu verbal, Al-Qur'an, dalam Islam.
Pencarian Abadi Manunggaling Kawulo Gusti
Dalam perjalanan spiritualnya, pandangan dunia Jawa selalu bergerak menuju satu muara: Manunggaling Kawulo Gusti, penyatuan hamba dengan Tuhan. Ini bukanlah konsep yang baru lahir setelah Islam datang.
Ia adalah obsesi para resi, yogi, dan pujangga sejak era pra-Islam yang sangat kental diilhami oleh tujuan akhir yoga Tantra: samarasa, atau kesatuan total antara mikrokosmos dan makrokosmos.
Yang berubah hanyalah kendaraan dan idiom teologisnya. Muaranya tetap sama: peleburan diri dalam Samudera Ilahi.
Di sinilah kita bisa mengkaji secara kritis fenomena "selametan" yang hingga kini tetap bertahan di masyarakat Jawa, bahkan di tengah gempuran modernitas dan puritanisme agama.
Selametan untuk orang meninggal pada hari ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000 seringkali menjadi sasaran kritik kaum puritan.
Mereka menuduhnya sebagai bid'ah, praktik yang tidak memiliki preseden dalam Al-Qur'an dan Hadis, bahkan sesat karena dianggap warisan Hindu-Buddha.
Namun, kritik semacam ini kehilangan konteks historis yang sangat penting. Jika kita menggunakan kacamata antropologi, kita akan menemukan bahwa struktur ritual selametan adalah sisa-sisa teknologi spiritual Tantra-Buddha yang telah terinternalisasi sebagai kearifan lokal.
Dalam tradisi Buddhisme Tantrayana, ada ritual-ritual antarabhava—ritual untuk keadaan antara kematian dan kelahiran kembali—yang dilakukan pada interval waktu tertentu.
Hari ke-7, ke-49, dan seterusnya adalah momen-momen krusial dalam perjalanan jiwa almarhum. Ini adalah "peta perjalanan jiwa" yang sangat rinci.
Ketika Islam datang, alih-alih memusnahkan struktur yang telah mendarah daging ini, para wali dan kiai Jawa melakukan tindakan yang jenius: mereka mengisi struktur kosong itu dengan konten baru.
Ritual yang dahulu diisi dengan mantra-mantra Tantra kini diisi dengan tahlil, bacaan Al-Qur'an, dan doa-doa Islam. Secara bentuk, strukturnya adalah sraddha kuno; secara esensi, isinya adalah tauhid. Inilah yang dimaksud dengan kontinuitas dalam perubahan: wadahnya dipertahankan, airnya diganti.
Oleh karena itu, menghakimi selametan sebagai bid'ah tanpa membaca lapisan-lapisan historisnya adalah sebuah kekeliruan antropologis dan kebutaan sejarah yang parah.
Ia bukan pengkhianatan terhadap Islam, melainkan inkarnasi Islam dalam tubuh budaya yang memiliki riwayat panjang.
Ini adalah bukti ketangguhan dan fleksibilitas masyarakat Nusantara yang, sebagaimana diakui bersama, "selalu bisa menerima keyakinan baru tetapi tetap berpegang teguh pada tradisi luhur leluhur."
Falsafah Warangka dan Curiga: Epistemologi Kebudayaan Jawa
Ada sebuah analogi yang sangat dalam yang sering digunakan untuk memahami cara masyarakat Jawa menerima Islam: analogi pusaka—keris—dengan warangka dan curiganya. Ini bukan sekadar metafora puitis. Ini adalah sebuah epistemologi kebudayaan, sebuah cara pandang terhadap realitas yang mengakar kuat.
Curiga adalah bilah keris, esensi pusaka yang tajam, keras, dan mematikan. Ia fungsional dan esensial, tetapi sekaligus rapuh dan berbahaya jika dibiarkan telanjang.
Baca juga: Road to Musda Badko HMI Jateng-DIY: Kader HMI dan Kahmi Semarang Dukung Alwi Husein Al Habib
Warangka adalah sarung keris, pembungkus yang indah, seringkali diukir dengan motif-motif rumit dan dibuat dari bahan-bahan berharga. Warangka melindungi curiga, memberinya konteks, dan membuatnya bisa "dipakai" dalam kehidupan sosial. Keduanya adalah satu kesatuan tak terpisahkan.
Curiga tanpa warangka berbahaya dan telanjang; warangka tanpa curiga adalah hiasan kosong tanpa makna.
Dalam konteks spiritual, leluhur Nusantara memahami bahwa "Curiga" adalah Inti Ajaran: ketuhanan, keselamatan, jalan menuju Yang Absolut.
Inilah esensi yang tak bisa ditawar. Sementara "Warangka" adalah bungkus budaya: ritual, upacara, bahasa, simbol, dan nama-nama lokal. Ketika Islam datang, ia adalah "Curiga" baru dengan "Warangka" Arab.
Pertanyaan krusialnya adalah: bagaimana Curiga baru itu dimasukkan? Apakah harus dengan membuang Warangka lama yang sudah dimiliki dan dihormati selama berabad-abad?
Secara spiritual, mungkin itu mungkin. Tetapi secara budaya, itu adalah kekerasan simbolik yang akan menciptakan resistensi dan alienasi massal.
Sejarah mencatat, di beberapa tempat di dunia, Islamisasi dengan cara "membuang warangka" seringkali melahirkan konflik dan perlawanan.
Di Nusantara, khususnya di Jawa, terjadi sesuatu yang berbeda. Para Wali Songo, dengan kecerdasan emosional dan spiritual yang luar biasa, memahami epistemologi warangka-curiga ini.
Mereka tidak membuang warangka Jawa. Mereka mengambil Curiga Tauhid Islam dan menyusupkannya dengan hati-hati, halus, tetapi pasti, ke dalam warangka tradisi yang sudah ada.
Mereka menciptakan "pusaka" baru: Islam bercorak Jawa. Ini adalah strategi kebudayaan yang genius, melampaui sekadar politis. Ini adalah revolusi spiritual yang bekerja dengan memanfaatkan struktur kesadaran yang ada, bukan menghancurkannya.
Dari sinilah kita bisa memahami mengapa Islam bisa diterima secara damai dan masif di Nusantara.
Bukan karena pedang, bukan karena paksaan, melainkan karena "Curiga" baru itu berhasil menempati "Warangka" yang telah dikenal dan dihormati selama berabad-abad.
Laboratorium Spiritual Wali Songo: Dari Teknologi Tantra ke Rajah Kala Cakra
Konon, para Wali Songo bukanlah sekadar pendakwah yang naik mimbar dan berpidato. Mereka adalah para sufi yang memiliki laku spiritual sangat dalam.
Banyak di antara mereka yang konon memiliki kemampuan-kemampuan "luar biasa" yang diwariskan dari tradisi tapa brata sebelumnya.
Yang lebih menarik, mereka tidak menolak mentah-mentah ilmu-ilmu lama itu, melainkan memodifikasinya dalam kerangka tauhid.
Puncak dari rekayasa spiritual ini adalah apa yang disebut sebagai "Rajah Kala Cakra." Secara hermeneutis, "Kala Cakra" berarti Roda Waktu, sebuah konsep sentral dalam Tantrayana tingkat tinggi, terutama dalam tradisi Kalacakra Tantra.
Konsep ini mengajarkan tentang korelasi antara kosmos, tubuh manusia, dan waktu sebagai jalan untuk mencapai pencerahan. Ini adalah sistem yang sangat kompleks dan canggih.
Sunan Kudus, atau Sayyid Ja'far Shadiq, disebut-sebut sebagai tokoh yang paling terkait dengan penciptaan "Rajah Kala Cakra" versi Islam.
Beliau dikenal sebagai wali yang memiliki penguasaan mendalam dalam ilmu-ilmu falak, fikih, dan mistik.
Dalam operasi spiritualnya, Sunan Kudus menggunakan media benda-benda yang dirajah—ditulisi dengan huruf-huruf Hanacaraka maupun Pegon (Arab gundul). Rajah ini digunakan untuk berbagai tujuan, termasuk—sebagaimana disebutkan dalam tradisi lisan—untuk "menghilangkan ilmu kesaktian orang lain dengan cara menunduki."
Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Dalam tradisi Bhairawa dan Tantra, Yantra adalah diagram suci yang diisi dengan mantra-mantra untuk tujuan tertentu: perlindungan, penyembuhan, atau bahkan ofensif spiritual.
Ini adalah teknologi mental yang bekerja berdasarkan prinsip resonansi getaran dan geometri suci. Para sadhu Tantra percaya bahwa alam semesta adalah permainan getaran, dan dengan menguasai getaran melalui mantra serta mengkonsentrasikannya dalam diagram Yantra, seseorang bisa memengaruhi realitas fisik dan metafisik.
Ketika Sunan Kudus dan para wali lainnya menciptakan rajah versi Islam, mereka tidak menciptakan sesuatu yang sama sekali baru.
Mereka mengambil teknologi Yantra-Mantra itu, tetapi mengganti bahan bakarnya. Mantra-mantra Sanskerta dan Jawa Kuno yang berisi pemujaan pada dewata-dewata Hindu-Buddha diganti dengan lafal-lafal Al-Qur'an, Asmaul Husna, dan doa-doa berbahasa Arab. Diagram kosmologis "Kala Cakra" yang rumit disederhanakan atau diselaraskan dengan konsep tauhid. Huruf Hanacaraka dan Pegon menjadi medium baru, jembatan semiotik antara dua dunia.
Ini bukan sinkretisme yang mencampuradukkan akidah. Ini adalah aplikasi dari prinsip substitusi spiritual: mengganti konten (isi) sambil mempertahankan kontainer (wadah) teknologinya yang telah teruji selama berabad-abad.
Konon, lafal ilmu "Cakra" dari senjata Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata—yang sangat dikenal dalam budaya wayang—tetap dipertahankan strukturnya, tetapi "roh"-nya diisi dengan kekuatan Ilahi Islam.
Ini adalah proses "baptis budaya" yang canggih: mengubah senjata mistik warisan leluhur menjadi perisai tauhid.
Implikasinya sangat besar. Para Wali Songo tidak memerangi tradisi. Mereka menguasainya dan mentransformasikannya dari dalam.
Mereka berbicara dalam bahasa spiritual yang dipahami oleh masyarakat, tetapi mengarahkan kesadaran pendengar dan pengguna rajah itu kepada Allah, bukan lagi kepada Siwa, Buddha, atau dewa-dewa lainnya.
Ini adalah strategi yang hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang memahami kedua sistem secara mendalam.
Wahyu Cakraningrat: Eskatologi dan Politik Spiritual
Aspek lain yang menunjukkan kontinuitas dan transformasi yang sama adalah konsep "Wahyu Keprabon" dalam tradisi Jawa. Konsep ini akarnya bisa ditelusuri ke pemikiran Tantra tentang adhistana atau sakti ilahi yang turun dan bertakhta pada diri seorang raja, menjadikannya pusat kosmos, pusat mandala dunia.
Raja adalah personifikasi dari titik pusat tempat Siwa-Sakti bersemayam. Ia bukan sekadar pemimpin politik; ia adalah poros yang menjaga keseimbangan antara dunia manusia, alam gaib, dan kosmos.
Konsep ini berlanjut dalam pemikiran Jawa tentang "Wahyu Cakraningrat." Dalam tradisi lisan dan mistik Jawa, Wahyu Cakraningrat adalah wahyu keprabon tertinggi, semacam sinar atau "pulung" yang jatuh dan memilih seseorang untuk menjadi pemimpin besar.
Ia dikaitkan dengan datangnya "Ratu Adil", figur mesianis yang akan membawa zaman keemasan, kejayaan, dan keadilan.
Dalam teks-teks ramalan Jawa, Ratu Adil ini adalah sosok yang dinanti-nantikan, yang akan memulihkan tatanan dunia yang porak-poranda.
Secara spiritual-historis, konsep Ratu Adil adalah kelanjutan dari gagasan Cakravartin—"pemutar roda dharma"—dalam tradisi Hindu-Buddha. Cakravartin adalah raja universal yang menaklukkan dunia bukan dengan kekerasan, tetapi dengan kebajikan, dan roda dharma berputar darinya ke seluruh penjuru.
Dalam kosmologi Tantra, Cakravartin adalah pemegang mandala tertinggi, pusat dari semua pusaran energi.
Ketika Islam datang, para Wali Songo tidak menolak imajinasi eskatologis ini. Mereka mengadopsi dan mentransformasikannya.
Wahyu Cakraningrat dalam pemahaman baru bersumber dari Allah, dan Ratu Adil yang sejati adalah seorang Muslim yang taat, yang menegakkan syariat, dan membawa kemakmuran dalam naungan tauhid.
Ini adalah politik spiritual tingkat tinggi. Konsep keselamatan kolektif bangsa diikatkan dengan penerimaan terhadap iman baru.
Masyarakat yang merindukan Ratu Adil diarahkan untuk melihat bahwa janji itu akan terpenuhi dalam kerangka Islam. Ini adalah strategi yang menyatukan masa lalu kejayaan Hindu-Buddha dengan harapan masa depan Islam.
Dalam konteks yang lebih modern, gagasan Wahyu Cakraningrat dan Ratu Adil bahkan sempat memengaruhi gerakan-gerakan nasionalis dan mesianis di Indonesia, dari Perang Diponegoro hingga munculnya berbagai gerakan kebatinan di abad ke-20.
Ini menunjukkan bahwa struktur kesadaran eskatologis yang dibentuk oleh Tantra dan kemudian diislamkan tetap menjadi bagian dari imajinasi politik Jawa hingga masa kini.
Memayu Hayuning Bawono: Puncak Sintesis Spiritual
Seluruh proses dialektika spiritual yang rumit ini mencapai puncaknya pada perumusan tujuan kosmis yang agung: Memayu Hayuning Bawono.
Secara harfiah, ungkapan Jawa kuno ini berarti "memperindah keindahan dunia" atau "merawat keindahan alam semesta." Ini bukan sekadar slogan. Ia adalah etika spiritual yang mendalam, sebuah perintah kosmis untuk menjadi penjaga harmoni semesta.
Dalam pandangan dunia pra-Islam, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan antara mikrokosmos dan makrokosmos. Ritual-ritual, sesaji, dan upacara-upacara adat adalah cara untuk memelihara harmoni itu.
Bila keseimbangan terganggu—karena pelanggaran tabu, dosa, atau kelalaian ritual—alam akan merespons dengan bencana: wabah, gagal panen, gempa, atau kekacauan sosial. Manusia, dalam kosmologi ini, adalah penjaga taman kosmis.
Ketika Islam datang, konsep ini tidak dibuang. Ia diangkat dan diberi dasar teologis baru melalui trilogi ukuwah yang diformulasikan oleh para wali: ukhuwah Islamiah (persaudaraan seiman), ukhuwah wathoniah (persaudaraan sebangsa), dan hablum minannas (hubungan baik dengan sesama manusia).
Ketiganya adalah fondasi menuju ukhuwah basyariah, persaudaraan kemanusiaan universal, demi mencapai Memayu Hayuning Bawono.
Dalam formulasi ini, para Wali Songo berhasil mentransformasikan tujuan akhir mistisisme Tantra yang seringkali bersifat individual-esoterik menjadi sebuah proyek sosial-kolektif yang Islami. Memayu Hayuning Bawono adalah jawaban Islam-Jawa atas pertanyaan fundamental: untuk apa manusia diciptakan? Bukan sekadar untuk menyembah dalam pengasingan dan mengejar keselamatan pribadi, tetapi untuk menjadi khalifah—wakil Tuhan di muka bumi—yang secara aktif merawat, melindungi, dan memperindah dunia.
Inilah perpaduan sempurna antara etika kerja (amal saleh) dalam Islam dan etika kosmis Jawa. Dunia bukanlah penjara yang harus ditinggalkan, melainkan taman yang harus dirawat. Kesalehan tidak diukur dari seberapa banyak ritual pribadi, tetapi dari seberapa besar kontribusi seseorang terhadap keharmonisan alam dan masyarakat.
Dalam konteks krisis ekologi dan sosial hari ini, konsep Memayu Hayuning Bawono justru terdengar sangat relevan dan visioner.
Penutup: Menyelami Kedalaman, Menghindari Penghakiman Dangkal
Perjalanan spiritual dari Bhairawa ke Walisongo ini mengajarkan kita sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana kebudayaan dan agama bertemu, bernegosiasi, dan akhirnya melahirkan sintesis baru.
Ini bukan kisah tentang kemenangan satu peradaban atas peradaban lain, melainkan tentang dialog yang cerdas dan halus antara dua tradisi besar yang sama-sama memiliki kedalaman.
Kesalahan fatal yang kerap dilakukan oleh para pengkritik tradisi lokal—baik dari kalangan modernis maupun puritan agama—adalah kegagalan mereka dalam membedakan antara bentuk dan esensi, antara container dan content.
Mereka ingin menginstal "sistem operasi" baru sambil membongkar paksa "perangkat keras" yang sudah mapan. Hasilnya, sebagaimana bisa kita saksikan di berbagai tempat, adalah kekacauan sistemik dan penolakan.
Para Wali Songo memilih jalan yang berbeda. Mereka adalah para teknisi spiritual yang jenius. Mereka membaca "manual" perangkat keras Tantra-Bhairawa dengan cermat, memahami cara kerjanya, lalu memprogram ulang sistemnya.
Hasilnya adalah sebuah peradaban Islam Nusantara yang unik, toleran, dan kaya raya. Sebuah peradaban yang mampu bertahan karena akarnya tertancap kuat di bumi sejarahnya sendiri, sementara rantingnya menjulang ke langit tauhid.
Oleh karena itu, ritual-ritual selametan, penggunaan rajah, dan kepercayaan pada wahyu bukanlah tumor ganas yang harus dipotong dengan pisau puritanisme.
Ia adalah organ vital yang telah direkayasa ulang secara genetik. Untuk bisa menghakiminya, kita membutuhkan lebih dari sekadar teks suci yang dibaca secara literal.
Kita membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang antropologi, sejarah perbandingan agama, dan filsafat mistik. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi orang-orang yang menghancurkan taman dengan alasan menyingkirkan rumput liar, tanpa menyadari bahwa yang kita cabut adalah akar dari pohon kehidupan itu sendiri.
Tradisi adalah sungai kebijaksanaan yang terus mengalir dari masa lampau ke masa depan. Tantra Bhairawa adalah salah satu anak sungainya yang deras, yang akhirnya bermuara dan memperkaya lautan Islam Nusantara.
Tugas kita sebagai generasi penerus bukanlah mengeruhkan airnya dengan fanatisme sempit, melainkan menyelami kedalamannya untuk menemukan mutiara-mutiara hikmah.
Mutiara yang telah dirajut dengan susah payah oleh para leluhur dan Wali Songo, demi tercapainya cita-cita luhur yang melampaui sekat-sekat agama dan zaman: Memayu Hayuning Bawono—merawat dan memperindah dunia, bukan menghancurkannya.
Sebuah pesan yang, di tengah dunia yang semakin tercabik oleh konflik dan krisis ekologi, terdengar seperti bisikan kenabian dari masa lalu untuk masa depan kita bersama.
Editor : Redaksi