Surabaya,JatimUPdate.id – Aksi solidaritas untuk Dewan Kesenian Surabaya (DKS) menggema di depan Balai Kota Surabaya, Senin (11/5).
Massa yang terdiri dari seniman, pegiat budaya, mahasiswa, serikat buruh, pedagang pasar hingga organisasi masyarakat menolak pengosongan ruang sekretariat dan galeri DKS di kawasan Balai Pemuda.
Baca juga: Ratusan Siswa Diduga Keracunan MBG: Johari Prihatin, Desak Transparansi Pemeriksaan
Aksi yang dimulai sekitar pukul 11.00 WIB itu bergerak dari Balai Pemuda menuju Balai Kota Surabaya sebelum akhirnya bergeser ke DPRD Surabaya.
Dalam pernyataan sikapnya, massa menilai langkah pengosongan ruang DKS sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan yang mengancam ruang sejarah dan ekosistem kebudayaan kota.
“Ruang kesenian bukan sekadar gedung, tapi ruang sejarah, ruang ingatan kolektif, dan ruang tumbuhnya peradaban kota,” demikian bunyi pernyataan sikap aksi.
Massa aksi menyoroti keputusan Plt Kepala Disbudporapar Surabaya yang dinilai melampaui kewenangan karena mengambil kebijakan strategis terhadap keberlangsungan lembaga kebudayaan.
Selain itu, mereka menegaskan Balai Pemuda bukan sekadar aset administratif pemerintah, melainkan ruang publik yang memiliki nilai historis bagi masyarakat Surabaya.
Baca juga: Seniman Surabaya Bergerak, Tolak Pengosongan Sekretariat dan Galeri DKS di Balai Pemuda
“Balai Pemuda bukan milik Pemkot daerah. Balai Pemuda adalah milik rakyat Surabaya,” tegas massa aksi.
Dalam tuntutannya, massa mendesak Wali Kota Surabaya mengembalikan ruang sekretariat dan galeri DKS kepada para seniman, serta mencopot Plt Kepala Disbudporapar Surabaya.
Mereka juga meminta Balai Pemuda tidak dijadikan objek pendapatan asli daerah (PAD), melainkan dikembalikan sebagai ruang publik dan ruang kebudayaan.
Koordinator lapangan aksi, Taufik Monyong, menyebut massa menolak jika audiensi hanya diwakili delegasi terbatas dari unsur seniman.
Baca juga: Pansus Banjir Surabaya: Saluran Lingkungan Harus Jadi Tanggung Jawab Kelurahan dan Kecamatan
“Kami menolak masuk hanya delegasi dari pihak seniman. Karena aksi protes ini didukung banyak elemen, mulai serikat buruh, LSM, pedagang pasar, mahasiswa hingga Promeg,” ujarnya.
Namun hingga aksi berlangsung, massa mengaku belum mendapatkan respons dari pihak pemerintah kota.
Dalam perjalanan menuju DPRD Surabaya, aksi juga diwarnai simbol protes dari sejumlah pedagang pasar yang membuang kotoran ayam di halaman gedung dewan sebagai bentuk kekecewaan terhadap sikap pemerintah.(Yh)
Editor : Yuris. T. Hidayat