Oleh Ken Bimo Sultoni Adisiswanto, S.I.P., M.Si., (Dosen Fisipol Universitas Negeri Surabaya, CEO Sygma Research and Consulting)
dan
Baca juga: Khofifah Optimis Generasi Qur'ani Berkarakter dan Melek Literasi Jadi Kunci Daya Saing Bangsa
A. Nashir Fakhrudin, S.Stat., (Peneliti Sygma Research and Consultinh)
Surabaya, JatimUPdate.id- Di tengah derasnya pergantian kepemimpinan dan perubahan sosial-politik yang terus bergerak cepat, ada nama yang tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa Timur: Imam Utomo Soeparno.
Meski telah lama meninggalkan jabatan formal sebagai Gubernur Jawa Timur, sosoknya seolah tidak pernah benar-benar pergi.
Ia tetap hadir—dalam gagasan, dalam teladan, dan dalam pengabdian yang terus berjalan
Bukan karena ia masih bergelut dengan kekuasaan. Bukan pula karena retorikanya yang menggema di layar kaca.
Justru sebaliknya. Imam Utomo hadir dengan cara yang paling sunyi namun paling dalam: ia tetap menjadi bagian dari denyut nadi Jawa Timur, melalui pengabdian, keteladanan, dan kehadirannya yang membumi hingga hari ini.
Di tahun 2026, ketika banyak pemimpin masa lalu hanya tinggal nama, Imam Utomo membuktikan bahwa seorang pemimpin sejati tidak pernah benar-benar pergi. Ia masih di sini. Masih melayani. Masih mengabdi.
Santri, Ksatria, dan Jenderal
Imam Utomo Soeparno lahir pada 14 Mei 1943 di Dusun Ngepeh, Jombang—sebuah kota yang dikenal sebagai Kota Santri.
Dari sanalah akar kepribadiannya tumbuh: kental dengan nilai-nilai keagamaan, namun juga teguh dalam jiwa kewiraan.
Ia menempuh pendidikan militer di Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang dan lulus pada tahun 1965. Sejak saat itu, kariernya di TNI Angkatan Darat terus menanjak.
Disiplin, tenang, dan penuh tanggung jawab menjadi ciri khas yang melekat. Puncaknya, ia dipercaya sebagai Panglima Kodam V/Brawijaya (1995–1997), sebelum akhirnya beralih ke panggung kepemimpinan sipil sebagai Gubernur Jawa Timur dua periode (1998–2008).
Ia menyandang pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan). Namun bagi masyarakat Jawa Timur, pangkat itu tak lebih penting dari satu hal: keteduhan yang ia bawa di setiap langkah kepemimpinannya.
Sang “Jenderal Stabilitas” Jawa Timur di Titik Paling Rawan
Tahun 1998 adalah tahun yang tak mudah bagi siapa pun. Indonesia bergetar. Orde Baru tumbang, krisis ekonomi melumpuhkan, dan di berbagai daerah, konflik sosial meletup. Namun di tengah semua itu, Jawa Timur tetap berdiri kokoh.
Bukan karena kebetulan. Itu adalah hasil dari kepemimpinan yang tenang, penuh perhitungan, dan dekat dengan rakyat.
Imam Utomo tidak pernah menjadi gubernur yang gemar berorasi di atas panggung. Ia lebih memilih bekerja di belakang layar: merangkul tokoh agama, mendengar keluhan masyarakat, dan menjaga keseimbangan antara pendekatan keamanan serta pendekatan kultural. Ia adalah "Jenderal Stabilitas" yang mampu memadukan ketegasan militer dengan kelembutan hati seorang santri.
Bahkan ia tercatat sebagai salah satu dari sedikit gubernur yang "melewati empat periode presiden" sekaligus—B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Sebuah bukti kemampuannya beradaptasi dengan dinamika politik nasional tanpa pernah kehilangan pijakan di akar rumput.
Madeg Pandito: Ketika Kekuasaan Berakhir, Pengabdian Tidak
Setelah lengser dari jabatan gubernur pada tahun 2008, banyak yang menduga Imam Utomo akan "menghilang"—seperti kebanyakan pejabat yang masa jabatannya usai. Namun ia memilih jalan lain.
Imam Utomo menganut filosofi Jawa kuno: Lengser Keprabon, Madeg Pandito—turun dari tahta, menjadi guru.
Ia tak membangun dinasti politik. Tak pula sibuk manuver di belakang panggung kekuasaan.
Baca juga: Khofifah Dampingi Ketua MA RI Sunarto Buka Kejurnas Tenis Beregu XX Piala Ketua MA di Malang
Sebaliknya, ia lebih banyak hadir di masjid, di acara-acara kebudayaan, dan di tengah masyarakat yang membutuhkan nasihat. Ia menjadi sesepuh yang teduh, tempat bertanya bagi birokrat, tokoh masyarakat, akademisi, hingga generasi muda yang haus teladan.
Namun di balik kesunyian itu, Imam Utomo justru menunjukkan sisi pengabdiannya yang paling nyata: di Palang Merah Indonesia (PMI).
Mengabdi Lewat Palang Merah: Panggilan Jiwa di Usia Senja
Jika ada satu bukti paling gamblang bahwa "Imam Utomo Masih di Jawa Timur", itu adalah pengabdiannya di PMI hingga detik ini.
Di usianya yang menginjak 83 tahun, ia kembali dipercaya memimpin PMI Jawa Timur untuk periode 2025–2030. Pemilihan secara aklamasi ini bukan sekadar penghormatan simbolis, melainkan bukti nyata bahwa kepercayaan publik pada integritas dan kapasitasnya tak pernah surut.
Dan yang lebih penting dari sekadar jabatan: ia masih turun ke lapangan.
Pada tahun 2026, misalnya, ia secara khusus mendatangi markas PMI Sidoarjo. Bukan untuk seremonial, tapi untuk memberikan dukungan moril kepada para relawan yang menangani musibah ambruknya sebuah bangunan.
Di sana, ia berdiri, berbicara, dan meyakinkan bahwa setiap nyawa layak diperjuangkan.
Di bawah kepemimpinannya, PMI Jatim tidak hanya fokus pada tanggap darurat bencana, tetapi juga melakukan modernisasi manajemen donor darah dan peningkatan kapasitas ribuan relawan muda. Ia tahu bahwa masa depan kemanusiaan ada di tangan generasi berikutnya, dan ia ingin menyiapkan mereka dengan baik.
Lifetime Achievement 2026: Pengakuan di Puncak Usia
Tahun 2026 menjadi tahun yang istimewa. Dalam ajang Beritajatim Award, Imam Utomo dianugerahi penghargaan Lifetime Achievement untuk kategori Tokoh Pengabdian Kemanusiaan.
Penghargaan ini bukan sekadar piala. Ia adalah pengakuan bahwa pengabdian sejati tidak pernah mengenal masa pensiun.
Bahkan Ketua Umum PWI Pusat, Ahmad Munir, dalam sebuah acara nasional mengakui secara terbuka bahwa dirinya merasa "dibesarkan" oleh Imam Utomo—sebuah pernyataan yang menggambarkan betapa besar pengaruh kebapakan beliau terhadap generasi penerus bangsa.
Di usia di mana kebanyakan orang memilih beristirahat di rumah, Imam Utomo justru semakin intens menjalani panggilan kemanusiaannya. Ia hadir saat bencana, ia berbicara saat teduh dibutuhkan, dan ia diam saat kehebohan tak perlu ditanggapi.
Bukan Sekadar Nama, Tapi Jejak yang Hidup
Bukan dalam arti fisik semata—meskipun ia memang masih hadir di tengah masyarakat. Tapi lebih dari itu: ia masih hidup dalam ingatan kolektif warganya. Dalam setiap kisah tentang pemimpin yang membumi. Dalam setiap nasihat yang ia bagikan dengan rendah hati.
Dalam setiap nyawa yang terselamatkan oleh kerja-kerja kemanusiaan yang ia pimpin.
Ia adalah bukti bahwa seorang pemimpin sejati tidak perlu bergaduh untuk tetap eksis.
Cukup dengan konsistensi, ketulusan, dan tanggung jawab—maka namanya akan dijaga oleh waktu, bukan oleh kekuasaan.
Imam Utomo masih di Jawa Timur
Dan semoga, keteduhan seperti beliau tak pernah benar-benar pergi dari bumi Brawijaya.
Selamat mengabdi, Pak Imam Utomo. Jawa Timur tidak melupakan.
Dan hari ini, Kamis, 14 Mei 2026, H. Imam Utomo Suparno ber-Ultah Ke-83.
Selamat Ulang Tahun, Gubernur Koe, Selamat Ulang Tahun Jendral, Selamat Ulang Tahun Guru Bangsa Panutan koe.
Dirgahayu Ke-83 Bapak e Wong Jawa Timur, Sehat Selalu Dan Jangan Lelah Untuk Membersamai Serta Momong Warga Jawa Timur.
Editor : Redaksi